Kabid PKP Apresiasi Sikap Warga Desa Muara Enggelam Tanam Padi Apung

Ahmad Riyanto: Jika berhasil, tentunya akan Jadi Prospek Cerah Untuk Terus Dikembangkan

Ads
Rubrik : Kutai Kertanegara | Topik : Kukar | Terbit : 22 November 2020 - 18:21

Kabid PKP Apresiasi Sikap Warga Desa Muara Enggelam Tanam Padi Apung
Kabid PKP Diskominfo Kukar, Ahmad Rianto saat berada di atas laham Padi Apung Desa Muara Enggelam -- www.kaltimnews.co / Foto: Istimewa

KALTIMNEWS.CO, Kukar – Desa Muara Enggelam, kecamatan Muara Wis Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu desa yang tidak memiliki daratan, pasalnya wilayah ini berada tepat di tengah danau melintang, kedanti demikian inovasi daerah ini tidak bisa di pandang sebelah mata, dalam sejarahnya desa ini telah sukses mencatatkan sehjarahnya di kanca nasipnal. Seakan tidak puas dengan itu Warga desa Muara Enggelam Kembali melakukan berbagai inovasi desa salah satunya seperti penanaman padi Apung.

Kepala Bidang Komunikasi Publik(PKP) Diskominfo Kukar Ahmad Rianto yang dihubungi media ini Sabtu (21/11/2020) malam, mengapresiasi kreativitas warga Desa yang berada di pehuluan mahakam tersebut.

Menurutnya keberadaan metode padi apung ini merupakan inovasi baru pertama kali di desa Muara Enggelam. “Hal ini terlaksana berkat inisiatif mandiri dari Kelompok Informasi Masyarakat KIM Bersinar Desaku Desa Muara Enggelam bekerja sama dengan Gapoktan Panji Sejahtera Tenggarong.  Inisiatif ini timbul mengingat hampir seluruh area desa Mueng (Singkatan dari Muara Enggelam) adalah air yang membuat warga setempat bertekad tetap bisa menanam padi meski di atas perairan,” ujar Pria yang kerap disapa Arian ini.

Menurut Arian jika metode ini berhasil, tentunya hal tersebut akan menjadi yang prospek cerah untuk terus dikembangkan di lahan-lahan pertanian di atas air sehingga tidak hanya bisa menghasilkan ikan namun juga bisa menghasilkan beras.

“Kami harus adaptasi dengan iklim, sehingga kami mempunyai inisiatif dan inovasi bagaimana memanfaatkan lahan pertanian di atas permukaan air untuk tetap bisa ditanami tanaman produktif demi menjaga ketahanan pangan,” sebutnya.

Disebutkan Arian, Perbedaan padi tersebut dengan padi lain, terletak pada media tanam dan cara memanennya. Bila padi lain ditanam di tanah sawah, maka padi apung ditanam di atas rakit dengan media tanam menggunakan cara tanam sri, tabeta dan tanam pindah dan menggunakan bibit padi serai kuning yang merupakan bibit lokal Kukar merupakan persilangan padi serai dengan propot.

“Rakit difungsikan sebagai lahan peletakan media tanam agar menjadi terapung dan tidak terpengaruh oleh ketinggian air saat banjir. Perbedaan lainnya pada saat panen, tanaman padi yang baru disabit tidak bisa langsung dirontokkan di tempat tersebut, akan tetapi harus dibawa ke darat. Padi Apung ini dalam jangka waktu 100 hingga 120 hari bisa dipanen,” sebutnya.

“Metode ini sangat mungkin dikembangkan di beberapa wilayah Kecamatan Kukar  khususnya di wilayah pinggiran sungai," katanya lagi. “Sehingga perlu adanya kesiapan antara kelompok-kelompok tani Kecamatan se Kukar untuk terus bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Pangan, dalam menerapkan dan terus mengembangkan budidaya padi apung ini ke depan,” tambahnya (*)

  • Penulis : Arief
  • Editor : Redaksi Kaltimnews