Hasto Kristiyanto Tanggapi Curhat SBY ke Marzuki Alie

Soal Membuat Megawati 'Kecolongan Dua Kali'

Rubrik : Nasional | Topik : Politik | Terbit : 18 February 2021 - 01:15

Hasto Kristiyanto Tanggapi Curhat SBY ke Marzuki Alie
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto / Foto: Istimewa

KALTIMNEWS.CO, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Hasto Kristiyanto angkat bicara terakit cuitan cuitan eks Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie yang menyebut Megawati Soekarno Putri kecolongan dua kali jika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maju sebagai calon presiden pada 2004.

Hasto bahkan menyebutkan semboyan sansekerta yang berbunyi “Satyameva Jayate” yang bermakna hanya kebenaran yang berjaya.

“Kebijaksanaan ini mungkin sama dengan kebijaksanaan masyarakat Indonesia yang selalu percaya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan pernyataan seperti 'Tangan Tuhan Bekerja' bahkan lewat cara yang kadang tak disangka manusia itu sendiri,” sebut Hasto.

Disebutkan Hasto, kemungkinan perasaan serupa yang kini dirasakan masyarakat Indonesia ketika seorang Marzuki Alie yang merupakan mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat menyampaikan kisah pengakuan SBY telah membuat Ibu Megawati Soekarnoputri 'dua kali kecolongan'.

“Yakni pada tahun 2004, ketika maju sebagai calon presiden. Padahal tahun 2004, publik masih segar mengingat bahwa SBY yang bertindak sebagai seakan-akan sebagai sosok yang dizolimi,” cetusnya.

“Dalam politik kami diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Ali tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah 'kecolongan dua kali' sebagai cermin moralitas ersebut. Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizolimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzolimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” terangnya.  

Dirinya pun mengaku teringat dengan sebuah kisah yang disampaikan oleh Alm. Prof. Dr. Cornelis Lay. Bahwa sebelum Pak SBY ditetapkan sebagai Menkopolhukan di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri, saat itu ada elite partai yang memertanyakan keterkaitan Pak SBY sebagai menantu Pak Sarwo Edhie yang dipersepsikan berbeda dengan Bung Karno, dan juga terkait dengan serangan kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI 27 Juli 1996 silam.

“Namun sikap Megawati Soekarno Putri yang lebih mengedepankan rekonsiliasi nasional dan semangat persatuan saya ingat betul Ibu Mega (panggilan Megawati Soekarno Putri) yang mengatakan “Saya mengangkat Pak SBY sebagai Menkopolhukam bukan karena menantu Pak Sarwo Edhie. Saya mengangkat dia karena dia adalah TNI, Tentara Nasional Indonesia. Ada 'Indonesia' dalam TNI sehingga saya tidak melihat dia menantu siapa. Kapan bangsa Indonesia ini maju kalau hanya melihat masa lalu? Mari kita melihat ke depan. Karena itulah menghujat Pak Harto pun saya larang. Saya tidak ingin bangsa Indonesia punya sejarah kelam, memuja Presiden ketika berkuasa, dan menghujatnya ketika tidak berkuasa". Begitu kata Ibu Megawati penuh sikap kenegarawanan sebagaimana disampaikan Prof. Cornelis kepada saya,” jelasnya.

Menurutnya apa yang disampaikan Marzuki Ali lebih kepada dialektika bagi kebenaran sejarah tersebut.

“Dengan pernyataan Pak Marzuki itu, saya juga menjadi paham, mengapa Blok Cepu yang merupakan wilayah kerja Pertamina, paska pilpres 2004, lalu diberikan kepada Exxon Mobil. Nah kalau terhadap hal ini, rakyat dan bangsa Indonesia yang kecolongan.” tandas Hasto (*)

  • Penulis : Arief
  • Editor : Redaksi Kaltimnews