Daeng Lompo: Sektor Pariwisata Lesu Akibat Kaltim Steril

Rubrik : Leisure | Topik : Kutai Kertanegara | Terbit : 20 February 2021 - 18:28

Daeng Lompo: Sektor Pariwisata Lesu Akibat Kaltim Steril
Ketua PUTRI cabang Kukar, Ahmad / Foto: Zukirman Kaltimnews.co

KALTIMNEWS.CO, Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) cabang Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk mengkaji ulang kebijakan Kaltim steril atau Kaltim silent yang kini diberlakukan, hal ini disampaikan Ahmad saat di temui Kaltimnews.co di Pantai Panrita Lopi, kecamatan Muara Badak, Sabtu, (20/2/2021).

Menurut pria yang kerap disapa dengan panggilan Daeng Lompo ini, dengan adanya kebijakan tersebut membuat kelompok usaha mikro, pariwisata dan lainnya mengalami dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.

"Karena tumbuh dan kembangnya suatu ekonomi paling banyak di Weekand yakni Sabtu dan Minggu. Kalau hari Sabtu dan Minggu ditiadakan pasti pendapatan pariwisata dan UMKM akan menurun drastis," ujarnya.

Pada intinya Daeng Lompo mengatakan bahwa sebagai salah satu pengeloal tempat wisata pantai mematuhi keputusan yang diterbitkan oleh Gubernur Isran tersebut, Akan tetapi kebijakan tersebut kata dia semestinya dikaji lebih dalam lagi agar imbasnya tidak berakibat fatal bagi masyarakat kalangan bawah.

"Saya mematuhi semua keputusan pemerintah, akan tetapi saya harap kebijakan itu dikaji ulang lagi," harapnya.

Lebih lanjut dampak kebijakan Kaltim Steril bukan hanya dirasakan oleh pihaknya akan tetapi sejumlah pelaku ekonomi sector mikro pun kini ikut merasakan dampaknya.

“Lihatlah dampaknya, warung-warung makan, perkapalan dan karyawan yang beroperasi disekitar lokasi pariwisata yang awalnya sibuk kini merasakan dampak dari lesunya ekonomi,” terang Daeng Lompo.

Sebelum penerapan kebijakan kaltim steril kata dia, setidaknya terdapat ratusan orang yang menaruh harapan dari sector pariwisata yang ia bangun tersebut.

"Sekarang ini lebih dari 100 orang menaruh harapan kepada pariwisata ini. warung makan misalnya ada 34 orang, 10 kapten kapal, tempat peminjaman hamuk, tikar, terpal dan tenda itu berbeda-beda orangnya. Mereka hanya bergantung harapan untuk membeli beras disini, tidak ada pekerjaan lain," tuturnya.

Lebih lanjut dirinya menyebutkan bahwa pariwisata yang ada di Kukar kini sudah mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah bahkan mendapatkan standar sertifikat Cleaning, Health, Safety, Environment (CHSE).

"Alhamdulilah kami sudah menerapkan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) disepanjang lokasi pantai yang dikelola pun telah disiapkan tempat cuci tangan bagi pengunjung. Bukan hanya itu saja kami juga mendapatkan standar sertifikat CHSE," bebernya. (*)

  • Penulis : Arief
  • Editor : Redaksi Kaltimnews