Iklan DPRD Samarinda

Etika Komunikasi Netizen di Sosial Media Dalam Melawan HOAX

Oleh Purba, Karina Damaiyanti

Rubrik : Opini | Topik : Edukasi | Terbit : 15 March 2021 - 15:42

Etika Komunikasi Netizen di Sosial Media Dalam Melawan HOAX
Ilustrasi Etika Komuniaksi (Foto: Afifah/Kaltimnewas.co)

Harus diakui peran social media kini menjadi wadah informasi masyarakat yang kebanyakan  dipergunakan untuk menampung sejumlah opini yang dituangkan oleh setiap individu penggunanya. Tentunya banyak sekali opini yang terbentuk dari berbagai perspektif semua kalangan, mulai dari masyarakat remaja hingga dewasa, bekerja di pemerintahan hingga swasta, serta masyarakat menengah keatas sampai kebawah. Semua berlomba-lomba membangun opini dimasing-masing ruang public dunia maya. Namun sadar atau tidak kebebasan beropini ini juga justru sering disertai dengan beredarnya berita bohong alias Hoax.

Oleh karenanya para pengguna social media tentunya harus lebih cermat dalam memilah-milih sejumlah berita yang berisi informasi tersebut, karena setiap harinya akan ada informasi yang dimunculkan atau diterbitkan di media sosial yang keabsahan beritanya belum tentu benar dan sesuai fakta yang ada. Selain itu, Masyarakat juga diharapkan dapat lebih kritis dalam menanggapi sejumlah berita bohong terserbut.

Masyarakat yang aktif menggunakan internet dan berselancar di sosial media, disebut sebagai netizen (Internet Citizen), informasi yang tersebar luas, bebas dan juga cepat di sosial media membuat netizen merasa membutuhkan sosial media menjafi sarana informasinya. Netizen juga cenderung menangkap informasi yang ada di sosial media dengan tidak memperhatikan kebenaranya. Menurut penelitian sebanyak 60 persen informasi dan konten-konten yang terdapat di sosial media merupakan hoax.

Efek dari mempercayai hoax dapat menimbulkan bencana social, mulai dari skala ringan hingga berat. Dalam melawan hoax tentunya diperlukan kesadaran diri pada setiap individu, menumbuhkan kesadaran diri, tentu bukanlah hal yang mudah, karena sebagaian netizen di sosial media, gemar memercayai informasi tanpa mempedulikan benar atau tidaknya informasi tersebut. Sudah banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan untuk memerangi hoax, seperti misalnya, kampanye-kampanye yang mengaungkan “Anti HOAX” dan “Stop HOAX”. Tujuannya tak lain untuk menyadarkan netizen bahwa hoax sangatlah berbahaya.

Sampai saat ini, hoax masih saja menjadi permasalahan yang susah untuk dituntaskan, seperti halnya hoax hangat baru-baru ini mengenai vaksin covid-19 yang beredar di social media. Sebanyak 837 hoax vaksin covid-19 ditemukan diberbagai platform social media dan yang paling banyak terdapat di social media Facebook dengan angka yang mencapai 80%, informasi hoax tersebut mengatakan bahwa vaksin covid 19, tersedia dalam bentuk sirup untuk yang takut disuntik, faktanya, dr. Siti Nadia Tarmizi, sebagai juru bicara vaksin Covid-19 Kementrian Kesehatan, membantah dan mengatakan bahwa informasi tersebut tidak benar alias hoax.

Sebagai netizen yang cerdas, baiknya dalam menerima informasi harus melakukan pengecekan kebenaran, caranya sangatlah mudah, yaitu membaca informasi jangan hanya dari satu sumber melainkan dari beberapa sumber yang terpercaya, misalnya akun resmi atau website resmi yang membahas informasi terkait. Jangan mudah terpengaruh dengan opini-opini yang terbentuk di media sosial, kecuali opini tersebut dapat dibuktikan kebenarannya. Hal mudah seperti itu dapat berpengaruh besar ketika kita mulai menerapkannya dan saling mengingatkan kepada netizen lainnya bahwa melawan hoax sangatlah mudah. Mari menjadi netizen cerdas untuk kualitas hidup yang lebih baik. (*)

  • Penulis : Arief
  • Editor : Redaksi Kaltimnews