TRENDING

511 Ekor Burung liar Kaltim, Berhasil di Gagalkan di Kapal Prince Soya Samarinda

Terdiri 36 Keranjang tersusun rapi diatas Kapal, siap kirim ke Pare-Pare,

Nasional - on 13/5/19 511 Ekor Burung liar Kaltim,  Berhasil di Gagalkan di Kapal Prince Soya Samarinda
Amankan Burung Liar: Ratusan Burung liar Asal Kaltim ini berhasil digagalkan saat hhendak diseludupkan ke pelabuhan Pare-Pare, Sulawesi Selatan (Foto: Istimewa)

KALTIMNEWS.CO, Samarinda - Karantina Pertanian Samarinda kembali berhasil gagalkan penyelundupan ratusan ekor burung liar asal Kaltim di Kapal Prince Soya dengan tujuan Kota Pare-pare di Pelabuhan Sungai Samarinda Minggu  (12/05/2019) siang kemarin.

Penyelundupan ini berhasil digagalkan berkat kerjasama intelijen dan Petugas Karantina Pertanian Samarinda yang bertugas saat itu. Setelah petugas menelusuri bagian-bagian kapal, akhirnya ditemukan 36 keranjang di bagian Haluan depan kapal yang telah tersusun dan tersembunyi.

Burung Liar Asal Kaltim di dalam KM Price Soya, pelabuhan Samarinda.

Burung Liar Asal Kaltim tersusun rapi di Dalam KM Price Soya, Burung ini rencananya akan diselledupkan ke wilayah Sulawesi melalui pelabuhan pelabuhan Komura Samarinda menuju Pelabuhan Nusantara Pare-Pare (Foto: Istimewa)

 

"Dalam 36 keranjang tersebut terdiri dari 59 ekor Beo (Gracula religiosa), 420 ekor jalak (Sturnidae), 7 ekor Murai Batu (Copsychus malabaricus), dan 25 ekor Pialing (Aplonis sp) dengan total semua 511 ekor. Dan jika diakumulasikan senilai 75 juta rupiah. Ratusan burung tersebut tanpa dokumen Karantina dan tidak dilengkapi pula SAT-DN dari BKSDA" ujar Hadi Waluyo Petugas Karantina Pertanian Samarinda saat usai mengamankan burung liar tersebut.

"Setelah kami temukan, tidak ada satu pihakpun yang mengaku dan bertanggung jawab atas ratusan burung tersebut", Tambahnya.

Sementaran itu, Kepala Karantina Pertanian Samarinda, Agus Sugiyono mengatakan, Penyelundupan tersebut sedah jelas melanggar Undang-undang No. 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan pasal 31 ayat 1 jo. Pasal 6 huruf a dan c  dengan hukum pidana maksimal 3 tahun penjara dan denda maksimal 150 juta rupiah, "Selain itu melanggar pula Undang-undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem pasal 20 ayat 2 dengan ancaman pidana 5 tahun dan denda maksimal 200juta," jelasnya.

Saat ini kata dia, ratusan burung tersebut telah diserahkanke BKSDA Kaltim. "Dikhawatirkan penyakit yang terbawa oleh ratusan burung ini yakni Avian Influenza, New Castle Diseases atau Cacar Unggas dapat menyebar ke area lain, selain itu juga dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem dan kelestarian didaerah asalnya",  Tutur Agus. (*)

Penulis : Arief

Editor : Redaksi Kaltimnews

TOPIK : #Kaltim