PHM Kembangkan Teknologi HEX Straddle Packer

Rubrik : Kaltim | Topik : Ekonomi | Terbit : 18 June 2021 - 21:00

PHM Kembangkan Teknologi HEX Straddle Packer
Foto: Istimewa

KALTIMNEWS.CO, Laju produksi air yang berlebih dapat menurunkan produksi migas dari sumur sehingga dibutuhkan cara untuk menutup sejumlah zona reservoir yang memproduksi air. Apalagi di wilayah delta Mahakam yang dikenal dengan deltaic system alias memiliki situasi situasi dan karakter reservoir yang sangat unik dan berbeda-beda.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), selaku operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam yang diketahui merupakan regional kalimantan subholding upstream, dalam upaya mempertahankan produksi minyak dan gas bumi dari sejumlah lapangan yang telah mature khususnya pada sumur NB-104, yang terletak di lapangan sisi nubi.

Adalah teknologi High Expansion Straddle Packer (HEX Straddle Packer) yang merupakan salah satu inovasi yang kini dikembangkan oleh PHM untuk mengatasi masalah produksi air di sumur NB-104 tersebut.

Dalam pelaksanaannya, tim Well Intervention PHM berkolaborasi dengan Schlumberger dan Interwell mengujicoba teknologi HEX Straddle Packer tersebut.

General Manager Pertamina SubHolding Upstream Zona 8, Agus Amperianto dalam siaran persnya kepada media ini mengatakan dengan menggunakan teknologi ini, zona air bisa ditutup sesuai target dan zona gas yang ada dibawah zona air bisa kembali diproduksikan.

“Inovasi teknologi ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan di PHM untuk mencari cara dalam meningkatkan produksi migas dengan harapan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Agus.

HEX Straddle Packer sendiri adalah satu teknologi dengan memasang packer yang memiliki dimensi ramping untuk melewati restriksi dan kemudian dengan kemampuan high expansion mengisolasi zona target. HEX Straddle Packer sengaja dipergunakan di sumur NB-104 lokasi reservoir yang selama ini memproduksi air berada di bawah zona restriksi. Dengan demikian cara konvensional seperti pemasangan tubing patch tidak mungkin diterapkan pada sumur tersebut.

“Pengembangan berbagai teknologi adalah kunci untuk membuka potensi baru serta terbukti mampu memangkas berbagai biaya operasi,” sebut Agus.

Dikatakan Agus, teknologi yang pertama kali diterapkan di Indonesia oleh PHM ini telah sukses dipasang sejak April 2021 lalu.

“Dengan mode simultaneous operation(SIMOPS) antara Remote operation Well Intervention (WLI) dan Hydraulic Workover Unit (HWU). Kini sumur NB-104 telah dapat berproduksi kembali, tanpa diperlukan aktivitas intervensi yang lebih kompleks lagi,” sebutnya. (*)

  • Penulis : Wiwid
  • Editor : Redaksi Kaltimnews