Ketua LP3KT Minta Penjual Minyak Goreng Diatas Harga Ditindak Tegas

Rubrik : Ekonomi | Topik : Ekonomi | Terbit : 16 March 2022 - 10:11

Ketua LP3KT Minta Penjual Minyak Goreng Diatas Harga Ditindak Tegas
Ketua LP3KT, Tanty Prasetya Ningrum (Foto: Istimewa)

KALTIMNEWS.CO, Kelangkaan minyak goreng terus terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), kendati minyak goreng ini bukan merupakan kebutuhan primer layaknya beras namun akibatnya sejumlah toko ritail di sejumlah wilayah kota diserbu pelanggan demi mendapatkan minyak goreng dengan harga terjangkau.

Dibeberapa wilayah di Kaltim antrian minyak goreng ini bahkan telah menimbulkan korban jiwa, hingga kehilangan kendaraan berupa sepeda motor akibat rela antri demi mendapatkan kebutuhan minyak goreng. 

Dalam pengamatan media Kaltimnews.co, di sejumlah pasar tradisional harga minyak goreng untuk 2 liter menembus angka Rp. 90,000-. Hal ini tentunya membuat sejumlah masyarakat khususnya ibu rumah tangga menjerit.

Kuat dugaan kelangkaan minyak goreng ini dikarenakan adanya oknum yang sengaja menimbun salah satu kebutuhan pokok ini.

Atas hal ini sejumlah pihak pun angkat bicara, Tanty Prasetya Ningrum misalnya, Ketua Lembaga Pemerhati dan Pengerak Pembangunan Kaltim (LP3KT) ini mengaku, jika samarinda sebenarnya tidak mengalami kelangkaan minyak goreng, hal itu terlihat dengan adanya sejumlah pedagang yang masih menjual minyak goreng, dengan jumlah stok yang banyak.

“Bukan langka sebenarnya namun kuat dugaan ada yang sengaja memainkan harga yang berujung pada panic buying oleh masyarakat,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut dirinya menyebutkan jika diperlukan ketegasan pemerintah dalam menormalkan harga yang ada di sejumlah pedagang.

“Rata-rata yang datang ke toko ritail itu bukan sepenuhnya untuk digunakan sebagai keperluan peribadi akan tetapi untuk dijual lagi dengan harga yang tinggi,” sebutnya.

Persoalan kejar keuntungan pun terjadi dimasyarakat, harga minyak goreng yang mereka dapatkan di toko retail sebesar Rp 28.000,-/2 liter kemudian dijual kembali dengan harga diluar batas.

“Bisa dibayangkan keuntungan yang mereka peroleh, sekira Rp 60,000- / kemasan 2 liternya,” bebernya.

Kendati di toko ritail telah memberlakukan aturan pembelian 1 pics setiap konsumen namun nyatanya hal tersebut tetap tidak bisa mengantisipasi kebutuhan masyarakat dari sisi pengadaan minyak goreng

“Aturan 1 orang satu bungkus minyak goreng di pasar ritail tidak menjadi solusi mutlak, mengingat dalam pantauan kebanyakan yang antri adalah mereka (Penjual) yang membawa keluarganya untuk ikut antri,” imbuhnya.

Idealnya kata Tanty, pemerintah segera melakukan inspesksi pasar, melakukan sidang dadakan disejumlah toko atau warung yang melakukan penjualan diatas harga pasar.

“Idealnya Pemerintah Kota (Pemkot) bersama dengan sejumlah pihak seperti kepolisian, DPRD dan OPD terkait, melakukan Sidak ke toko ataupun warung, yang melakukan penjualan minyak goreng di atas harga, kalau perlu bagi toko atau penjual yang “nakal” itu diberikan saksi tegas, seperti penarikan barang atau dan lain sebagainya,” tegasnya.

“Selain itu pemeritah juga harus memantau warga yang menjual minyak goreng di market place (FB) dan lainnya, karena kebanyakan penjual merupakan oknum dari masyarakat itu sendiri,” terangnya. (*)

  • Penulis : Arief
  • Editor : Redaksi Kaltimnews