TRENDING

Harga Tiket Selangit

Keputusan pemerintah menurunkan batas atas tarif pesawat sepertinya tidak berpengaruh

Nasional - on 3/6/19 Harga Tiket Selangit
Ilustrasi (Thinkstock)

KALTIMNEWS.CO, Samarinda - Industri penerbangan dunia tengah menghadapi gejolak. Kenaikan harga  bahan bakar dan perekonomian global yang lesu akibat perang dagang menjadi penyebab utama. Satu maskapai penerbangan berbujet murah, Jet Airways Ltd, yang berbasis di Mumbai, India, bahkan sudah menghentikan operasi sejak April lalu.

Seperti disadur dari editorial metroindonesia.com, masalah menjadi semakin pelik ketika Boeing harus mengandangkan seri 737 Max di seluruh dunia setidaknya hingga Agustus mendatang. Padahal, model pesawat tersebut merupakan lini produksi Boeing yang termasuk paling efisien di dunia. 

Kegentingan di industri penerbangan ini membawa 200-an CEO maskapai penerbangan dunia bertemu di Seoul, Korea Selatan, akhir pekan ini. Mereka berharap dapat menemukan solusi paling jitu. Di Indonesia, maskapai-maskapai penerbangan mencoba mengatasi persoalan itu. Contohnya, melalui kerja sama operasi Grup Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air. Akan tetapi, dengan alasan tidak cukup menutupi biaya, maskapai terpaksa menaikkan tarif pesawat.

Lion Air yang tergolong penerbangan berbujet murah mulai mengenakan tarif untuk bagasi nonkabin. Konsumen domestik dibuat terkaget-kaget oleh lonjakan tarif pesawat. *Bandara-bandara pun mulai sepi dan pertumbuhan penumpang udara pada masa mudik Lebaran menyusut drastis. Destinasi-destinasi wisata terpukul. Dampaknya berbalik pula menampar maskapai.

Keputusan pemerintah menurunkan batas atas tarif pesawat seperti tidak berpengaruh, terlebih memasuki periode mudik Lebaran kali ini.Harga-harga fantastis bertebaran. Penerbangan Jakarta-Medan yang dibanderol Rp21 juta sekali jalan menjadi perbincangan luas. Pihak maskapai berkelit dengan menyebut harga yang mahal itu disebabkan penerbangan melewati titik-titik transit.

Padahal, penerbangan yang biasa disebut penerbangan bersambung atau connecting flight merupakan salah satu cara yang lazim ditempuh untuk menekan biaya operasional*. Selain menghemat bahan bakar dengan rute-rute pendek, tingkat keterisian penumpang meningkat.   

Harus disadari pula, dalam mengatasi persoalan kenaikan biaya operasional saat ini, maskapai tidak bisa dibiarkan mencari jalan keluar sendir. Kolaborasi dibutuhkan antara maskapai, pemerintah pusat dan daerah, badan pengawas, badan usaha, serta masyarakat.

Pemerintah pusat wajib turun tangan mengeluarkan kebijakan yang komprehensif. Bukan sekadar menurunkan batas atas tarif. *Misalnya, menetapkan libur dan cuti bersama bersamaan dengan pengesahan APBN di tahun sebelumnya.

Dengan begitu, masyarakat bisa merencanakan perjalanan dan membeli tiket lebih dini*. Maskapai terbantu karena bisa mengalkulasi biaya dan pendapatan secara lebih pasti. *Lebih jauh, maskapai bisa mendorong dengan menawarkan tiket bertarif supermurah untuk pemesanan dini. Pemerintah pusat dan daerah dengan menggandeng badan usaha terkait perlu menumbuhkan hub-hub baru penerbangan untuk memperpendek rute*. Hub-hub mesti berdaya tarik wisata yang kuat.

Tidak kalah pentingnya, badan pengawas tidak boleh lengah mengenali praktik lancung maskapai yang jelas merugikan konsumen*. Kemarin, pengadilan Australia menjatuhkan sanksi denda kepada empat maskapai, termasuk salah satu maskapai asal Indonesia. Mereka bersalah karena menerapkan praktik kartel untuk angkutan kargo ke Australia. Hal itu membuktikan bahwa maskapai rentan menyeleweng sehingga perlu pengawasan intens.   

Kolaborasi semua pihak merupakan kunci menyelamatkan industri penerbangan*. Jangan biarkan maskapai bunuh diri di tengah caci maki masyarakat dan regulator yang kebingungan hendak berbuat apa. (*)

Penulis : Arief

Editor : Redaksi Kaltimnews

TOPIK : #Kubar & Mahulu