TRENDING

289 Desa di Kaltim, Belum  di Dukungan Pasokan Listrik

Kaltim Pernah mencatat cadangan daya Sebesar 200 MW di Tahun 2017.

Nasional - on 21/8/19 289 Desa di Kaltim, Belum  di Dukungan Pasokan Listrik
Ilustrasi Dok PLN

KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Kondisi listrik Kaltim, tergolong unik. Pernah mencatat cadangan daya 200 MW, pada 2017 lalu. Padahal ditahun yang sama, lewat data PT PLN (Persero), pertumbuhan pelanggan di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara) naik hampir dua kali lipat atau sebesar 12 persen.

Saat itu, kondisi kelistrikan Kaltim yaitu Sistem Mahakam memiliki cadangan daya 90 MW, ditambah 2 unit PLTU Teluk Balikpapan yang beroperasi sebesar 110 MW. Sehingga cadangan total menjadi 200 MW.

Sayangnya, hanya dalam dua tahun, kondisi peningkatan dibidang industri itu, berbanding terbalik dengan pasokan listrik dibeberapa area tertentu di bumi Kaltim.

Meski telah memasuki 74 tahun kemerdekaan, dipastikan 289 desa di Kaltim, belum ‘merdeka’ dari beban hidup tanpa dukungan listrik. Padahal, kesejahteraan rakyat salah indikatornya adalah aliran listrik sebagai fasilitas dasar.

Ironisnya, sebagian besar dari desa itu berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara yang kerap disebut sebagai kabupaten kaya penghasil migas dan batubara. Dibawahnya, ada Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Menurut Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Manusia Provinsi Kaltim, Wahyu Widhi Heranata, kondisi yang mengkhawatirkan terjadi pada desa yang berada dibawah indeks rata-rata pelayanan masyarakat. Atau berada dibawah desa-desa tertinggal di pulau Jawa.

“Padahal desa tertinggal di Jawa bukanlah penghasil migas. Inilah yang membuat kita khawatir. Apalagi kondisi ini telah terjadi puluhan tahun lamanya,” ucapnya.

Pihaknya bukan tanpa reaksi atau merespons, penyampaian kondisi itu sudah kerap disampaikan pada pemerintah pusat. Terkini, mereka secara resmi melaporkannya pada Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan.

Persoalan listrik memang menjadi isyu utama pembangunan untuk Indonesia wilayah tengah dan timur, dengan asupan yang masih jauh dari kata optimal, tak hanya di pedesaan, sampai saat ini pun di kota-kota besar di Kaltim, masih terjadi pemadaman dengan alasan maintance atau perbaikan jaringan.

Ia memahami beberapa faktor menjadi penyebab belum meratanya pendistribusian aliran listrik terutama daerah pedalaman. Pertama, belum adanya infrastruktur pendukung. Selanjutnya, kondisi geografis Kaltim yang cukup luas dengan penyebaran penduduk yang tidak merata. Akses menuju daerah itupun cenderung sulit bahkan ada yang terisolasi.

Kondisi semakin berat karena sistem pembangkit listrik di wilayah Kaltim masih tergantung pada ketersediaan sumber energi bahan bakar fosil. Akses transportasi menjadi suatu keharusan.

Lewat momen kemerdekaan RI yang ke-74 ini, ia sangat berharap Dirjen Kelistrikan mendengar, melihat dan memberikan upaya untuk pemenuhan listrik itu.

“Kita takkan mampu menjadi daerah yang sejahtera merata bila kondisi perekonomian masyarakat belum terdukung dengan fasilitas dasar seperti listrik,” bebernya.

Rencana pemerintah pusat memindahkan pusat pemerintahan ke pulau Kalimantan, menurutnya menjadi momen tepat untuk membenahi listrik Kaltim.

“Sebenarnya tinggal mencari solusi menyalurkan listrik pada lokasi-lokasi itu. Karena sistim listrik Kalimantan sedang dibenahi untuk persiapan Ibu Kota Negara baru,” tambahnya.

Sebelumnya, terkait kesiapan kelistrikan Kalimantan untuk persiapan pemindahan ibu kota, telah dijelaskan oleh PT PLN (Persero) Regional Kalimantan yang memastikan siap memenuhi kebutuhan listrik kalangan industri maupun ibu kota baru jika terealisasi. Saat ini, kondisi kelistrikan di Kalimantan tercatat memiliki cadangan sebesar 331,5 MW. Angka cadangan tersebut berasal dari daya mampu netto sebesar 1.778 MW, sementara beban listrik yang harus dipasok sebesar 1.446,5 MW. Dengan kondisi listrik saat ini dan adanya beberapa pembangkit yang sedang dibangun, PLN optimistis bisa memenuhi kebutuhan pelanggan. Termasuk pasokan untuk daerah ibu kota baru jika terealisasi di Kalimantan.

Kebutuhan listrik untuk ibukota baru diperkirakan mencapai 500 MW dan diyakini bisa dipenuhi. Angka sebesar itu berkaca pada kebutuhan listrik di Putrajaya, Ibu Kota baru Malaysia. Sebagai perbandingan, ibu kota negara yang sekarang, Jakarta, beban puncaknya mencapai 5.000 MW dengan konsisi penuh dangan industri, mall dan jenis usaha lainnya. (*)

Penulis : Arief

Editor : Redaksi Kaltimnews

TOPIK : #Kubar & Mahulu