TRENDING

7 Jamaah Haji Embarkasi Balikpapan, Meninggal

1 Jamaah Haji Asal Kutim Meniggal

Nasional - on 21/8/19 7 Jamaah Haji Embarkasi Balikpapan, Meninggal
Ilustrasi Jamaah Haji Meninggal Dunia

KALTIMNEWS.CO, Samarinda – 7 jamaah haji asal embarkasi Balikpapan telah meninggal dunia, hal itu terlihat dari data dari bagian Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) terkini.

Enam jamaah berasal dari  Sulawesi Tengah dan satu jamaah berasal dari Kalimantan Timur atas nama, Nani Jaji Makure yang merupakan warga teluk pandan Kutai Timur. Nani tercatat sebagai jamaah haji embarkasi Balikpapan kloter 5. Ia meninggal dunia pada umur 72 tahun pada 12 Agustus 2019 lalu di pemondokan jamaah karena menderita cardiovascular desease atau penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

“Penyakit yang memang menjadi salah satu yang paling banyak diderita oleh jamaah kita. Biasanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia,” ucap Luthfi Bhaktiawan Husag, Pranata Komputer Ahli Pertama Siskohat Haji Kanwil Kemenag Kaltim.

Selain penyakit itu, penyakit lainnya yang kerap menyerang jamaah haji adalah respiratory (cairan di alveoli paru-paru), Circulatory (jantung, stroke dan pembuluh darah) dan digestive (penyakit yang berhubungan dengan pencernaan).

Sedangkan enam jamaah meninggal dunia asal Sulteng, tercatat atas nama, Siti Salma Husein Lamonjong (89), Nurbia melek Tatu (61), Sitti Matalatta Beddu (89), Jamal Haruna Labeddolo (87), Amir salim Marapalu (77) dan Suparmi Joyopawiro Marijan (62).

Semua jamaah haji itu telah dimakamkan pada komplek pemakaman jamaah haji di Sharayya. Nani, bersama Jamal dan Nurbia, meninggal dunia di pemondokan setelah sebelumnya sempat mendapat perawatan dari tim medis.

Diketahui, untuk jamaah yang masih mendapat perawatan di rumah sakit Arab Saudi, beberapa diantaranya diusulkan untuk mendapat status tanazul atau dipulangkan lebih cepat karena kondisi fisiknya.

“Memang prosesnya begitu. Meraka yang dianggap berada dalam kondisi kesehatan tertentu, diusulkan untuk tanazul. Tetapi, itu bagi mereka yang dirawat di rumah sakit,” katanya.

Terkait posisi yang meninggal di pemondokan, bukan berarti tak diusulkan sebelumnya untuk tanazul. Rata-rata proses jatuh sakit hingga meninggalnya, begitu cepat.

“Kadang tanda-tandanya tak terlihat, tiba-tiba sakit mungkin kelelahan atau memang mengidap menyakit, kemudian meninggal dunia ditengah perawatan,” terangnya. (*)

Penulis : Arief

Editor : Redaksi Kaltimnews

TOPIK : #Kaltim