TRENDING

Muhammad Novan Syahronny Pasie : Lokasi TPA Samarinda Sudah Tidak Efektif

Pemerintah Harusnya Sudah Memikirkan Lokasi TPA Baru

Advetorial - on 4/10/19 Muhammad Novan Syahronny Pasie : Lokasi TPA Samarinda Sudah Tidak Efektif
Anggota DPRD Samarinda dari Partai Golongan Karya (Golkar), Muhammad Novan Syahronny Pasie. -- www.kaltimnews.co /Foto: Arief Kaseng

KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Diberbagai kota utamanya ibu kota provinsi yang memilik jumlah penduduk yang tinggi tentunya menciptakan pelbagai persoalan pelik, disisi lain perkembangan kota yang diringi kemacetan dan polusi udara, dan disisi lain lagi dengan pertambahan jumlah penduuk yang terus bertambah tentunya juga turut ikut menyumbang penambahan limbah seperti sampah.

Di wilayah samarinda sendiri sejauh ini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di wilayah Bukit Pinang sudah dinilai tidak mampu menampung ribuan ton sampah yang kian hari terus menumpuk. Bahkan lokasi tersebut kini disebut warga sebagai gunung sampah.

Atas hal ini, anggota DPRD Samarinda dari Partai Golongan Karya (Golkar), Muhammad Novan Syahronny Pasie, mengaku perihatin dengan kondisi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. karena menurutnya diwilayah tersebut udara bersih hampir 90 persen sudah tercemar dengan bau sampah.

“Hanya sebagian kecil wilayah di daerah Samarinda ulu yang tidak merasakan bau Sampah dari gunung sampah itu,” ujar Novan sapaan akrabnya kepada kaltimnews.co Jumat (4/10/2019) siang.

Meski terbilang baru menjabat sebagai anggota DPRD Kota Samarinda namun Novan mengaku siap memperjuangkan aspirasi warga wilayah tersebut.

“Sepengatahuan saya, ditahun 2009 silam, Pemerintah Kota (Pemkot) ingin membuat industry pengelolaan sampah menjadi tenaga listrik di wilayah itu, namun hingga kini tidak terealisasi, saya kurang mengerti apa penyebabnya, dan melalui DPRD hal itu akan saya pertanyakan ke Pemkot kenapa hingga sekarang ini, hal itu hanya menjadi wacana saja,” Terang Novan.

Sebagai langkah awal kata dia, dirinya telah menyipakan konsep program pengelolaan awal sampah kepada Pemkot. Sebut saja system tempat sampah terpisah. “Pemkot selayaknya sudah harus dan mesti menyiapakan tiga bak sampah dalam satu tempat, agar masyarakat dalam membuang sampah bisa langsung memisahkan mana sampah yang bisa diurai dan yang tidak,” katanya.    

Adapun tempat penampungan sementara (TPS) sampah dinilai Novan hingga kini dinilai penempatannya kurang ideal lantaran lokasi TPS terkadang disimpan tanpa melihat kondisi lokasi.

“Di berbagai lokasi, biasanya di depan gang itu ada disediakan tempat (kontainer sampah) saya rasa kurang nyaman, perlu ditata ulang, lantaran bau dari air sampah itu menimbulkan aroma yang tidak sedap bahkan terkesan jorok,” sebutnya.

Selain itu kata dia masyarakat juga harus diberikan pencerahan oleh Pemerintah kota dalam membagi sampah, yang mana sampah bisa diurai dengan tanah dan yang aman sampah tidak bisa samasekali tidak bisa diurai. “Ini juga juga perlu dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat bisa mengerti sebelum membuang sampah agar memisahkan terlebih dahulu pelbagai sampah rumahan mereka sebelum di buang di TPS,” imbuhnya.

Minimnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya, juga merupakan salah satu faktor. Menurutnya, perlu dilakukan sosialisasi dan payung hukum (perda) sudah ada itu kembali diperkuat kembali.

“Contoh pembagian sampah organik dan non organik, ini telah sediakan diberbagai tempat umum bahkan di rumah tangga. Sudah bagus, namun realisasinya di TPS saja dicampur menjadi satu, ini perlu dievaluasi bagi dinas terkait, perlu adanya pembatasan dan pemisahan seperti sebelumnya. Ini tidak efektif,” tambahnya.

Selain itu, Novan menilai, perlunya keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan sampah. “Lokasi TPA sekarang pun tidak efektif lagi, penyediaan lahan pun masih minim, saya lihat itu tumpukan sampah sudah menggunung, idealnya pemerintah seharusnya memikirkan lokasi baru atau kembali kerencana awal memanfaatkan sampah sebagai salah satu industi produktif seperti industi lisrtik dari sampah layaknya Surabaya dan negara lain yang melakukannya,” beber Novan.

Novan menambahkan, penanganan sampah sebenarnya termasuk tupoksi DLH. Namun harus bersama-sama mengevaluasi dan mencari solusi terkait penanganan limbah maupun sampah.

“Jika tidak dievaluasi, maka pekerjaan mereka masih seperti yang dulu. Volume sampah semakin meningkat, produksi sampah rumah tangga setiap saat juga terus bertambah. Bila perlu ada penyediaan kendaraan setiap RT untuk mengangkut sampah-sampah tersebut,” tutup anggota DPRD Samarinda dari dapil 4 Kecamatan Samarinda Ulu ini. (*/Adv)

Penulis : Arief

Editor : Redaksi Kaltimnews

TOPIK : #DPRD Samarinda