TRENDING

Menengok Klenteng Thien Ie Khong, Tertua di Kaltim

Masih berfungsi baik walau umur lebih se-abad

Nasional - on 4/2/19 Menengok Klenteng Thien Ie Khong, Tertua di Kaltim
Salah satu Warga Tionghoa melakuan ritual ibadah didalam Klenteng Thien Ie Khong, saat jelang pergantian tahun baru imlek. Senin (4/2/2019) Malam. (Foto: Arief Kaseng)

KALTIMNEWS.CO, Samarinda - Asap dari hio (Dupa, yang digunakan oleh orang Tionghoa dalam melakukan ibadah)  mengepul tanpa henti, asap dengan aroma khas ini menyambut kami saat memasuki wilayah Kelenteng Thien Ie Kong yang berada di Jl Yos Sudarso No 21 persis didepan pelabuhan Komura Samarinda, Senin (4/2/2019) Malam. Malam itu nampak ratusan warga Tionghoa  sedang hilir mudik masuk kedalam dalam area klenteng yang diklaim menjadi klenteng tertua di Bumi Kalmantan Timur ini. beberapa diantaranya sibuk menyalakan lilin besar yang terdapat di sisi kanan area klenteng.

jika anda melangkahkan kaki masuk keareal klenteng, anda akan menemukan taman yang dipenuhi patung-patung yang tampaknya dibuat dengan 'gaya masa kini' yang menghiasi area klenteng ini. Taman patung ini berisi tokoh 'Perjalanan ke Barat', yaitu Xuanzang (Pendeta Tong) ‐guru pendeta yang menaiki kuda putih, Sun Wokong (Sun Go Kong) ‐raja kera yang sakti, Zhi Bajie (Tie Pat Kay) ‐manusia berwajah babi, dan Sha Wujing (Sam Cheng) ‐rahib pengembara.

Dalam kisahnya mereka harus pergi ke ke barat dalam perjalanan penebusan dosa dan membawa kembali kitab suci. Melewati 14 musim panas, 14 musim dingin, dan puluhan kali menghadapi bahaya gangguan dari siluman dan setan-setan. Selain keempat tokoh tersebut, ada juga dua buah patung naga, dan Dewi Kwan Im.

Berumur Se-Abad Lebih

Kelenteng Thien Ie Khong yang sudah berumur lebih dari seabad ini masih berfungi dengan baik sebagai tempat ibadah warga Tionghoa di Samarinda.

Perjalanan kami kemudian mempertemuakan kami dengan sosok lelaki paru baya, dia adalah Suwandi Sutanto, Wakil Ketua Pengurus Klenteng Thien Ie Kong. Dalam penuturannya dirinya mengatakan jika klenteng ini dibangun pada tahun 1905 silam. Jika dihitung umur klenteng ini sudah berumur 114 Tahun. Bangunan ini awalnya berbentuk rumah panggung lantaran lokasinya tepat berada dipinggir sungai pertemuan muara sungai Mumus dengan sungai Mahakam.

Dalam sejarahnya, klenteng ini pernah nyaris hancur lantaran ledakan bom pada zaman pendudukan Jepang, Tak heran jika posisi tiang penyanggah klenteng yang berada sisi kiri altar ini terlihat agak miring. “Klenteng ini nyaris hancur lantaran ledakan Bom, Saat Jepang ingin menghancurkan pabrik pengolahan minyak goreng yang persis berada tepat di belakang kelenteng ini, Sebut Suwandi.

Saat memasuki lokasi ini, pengunjung klenteng akan dihadapkan dengan dua ekor naga yang menjaga bola api di atas atap bangunan yang didominasi warna merah ini. Sementara didalam ruangan kelenteng ini kita akan menjumpai delapan tiang yang menyangga bagian teras yang dicat dengan warna hitam dengan tulisan Cina berwarna emas, dua di antaranya berhias ukiran awan dan naga. Uniknya, tak hanya melingkari tiang namun naga ini seperti merentangkan kedua tangan dengan satu kaki menendang ke depan. Seakan-akan sedang melakukan salah satu jurus kungfu.

Di sisi kanan dan kiri ada tempat-tempat untuk berdoa. Sedangkan meja altar besar, tempat meletakkan sesaji di depan patung Dewi Kwan Im berada di bagian utama yang luas dengan langit-langit tinggi.

Didalam ruangan ini pula terdapat sebuah tandu kayu berukir yang dicat warna-warni. Sebuah ornamen bunga lotus yang masih kuncup menghias di puncak atapnya. “Pada waktu-waktu tertentu, patung Dewi Kwan Im akan diarak keliling menggunakan tandu ini,” jelas Suwandi seraya menujukkan tandu yang dimaksud.

Jika diamati hampir disetiap pintu dan dinging klenteng ini terdapat lukisan dan relief ukiran. Dan jika anda mendongakkan kepala, anda akan terpanah dengan ukiran, ornamen, dan lukisan yang sangat detil.

Dinding, tiang-tiang, dan bumbungan atap bangunan kelenteng yang kini menjadi salah satu Cagar Budaya Pemerintah Kalimantan Timur ini, ini masih mempertahankan bangunan aslinya yang masih menggunakan kayu dengan teknik penyambungannya dengan cara menggunakan pasak kayu. Konon semua kayu ini dibawa sengaja didatangkan langsung dari Tiongkok. Begitu pula semua ukiran pada kayu dan meja altar, semuanya didatangkan dari negara Tiongkok.

Bangunan khas Tionghoa ini, memiliki bagian yang terbuka letakknya persis di bagian tengah klenteng. Bagian ini sengaja dirancang khusus sebagai ventilasi ruangan yang digunakan saat upacara-upacara ibadah. “Sengaja kami dibuat terbuka sebagai ventilasi, lantaran saat beribadah banyak asap hio yang dinyalakan, dengan adanya ventilasi yang terdapat ditengah ruangan, dapat mengurai asap dan tidak mengganggu suasana peribadatan,” Sebut Swandi.

“Klenteng ini terbua bagi siapa saja yang ingin berkunjung, Para petugas kelenteng pun akan maklum bila ada wisatawan yang datang untuk mengambil gambar. Tapi yang perlu diingat, jangan mengganggu orang yang sedang beribadah, jangan mengotori, dan patuhi semua peraturan yang ada,” tutup Swandi. (*)

Penulis : Arief

Editor : Redaksi Kaltimnews

TOPIK : #Kaltim