Suka Duka Tenaga Pendidik Kukar Ditengah Pendemi Covid-19

Isnaini Fidhiatil Ulla: Guru Pernah Disebut Menerima Gaji Buta Oleh Orang Tua Murid

Ads
Rubrik : Edukasi | Topik : Kukar | Terbit : 27 July 2020 - 00:31

Suka Duka Tenaga Pendidik Kukar Ditengah Pendemi Covid-19
Isnaini Fidhiatil Ulla Guru SLTP 3 Negeri Tenggarong, Kukar -- www.kaltimnews.co / Foto: Istimewa

KALTIMNEWS.CO, Kukar – School From Home (SFH) atau belajar dari rumah menjadi kebiasaan baru yang diterapkan sejak awal terjadinya pandemi Covid-19. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus berbahaya dari wilayah Wuhan China tersebut.

Lantaran baru pertama kali diterapkan secara serentak, kebijakan tersebut mau tak mau menjadi pengalaman baru yang dialami bagi guru, wali murid, tak terkecuali juga para siswa.

Metode SFH ini memang belum di mengerti sebagian orang khusunya orang tua, kebanyakan orang tua dari siswa merasa keberatan dengan hadirnya metode tersebut. Tidak sedikit orang tua mengeluh dengan berbagai masalah dari hadirnya metode belajar tersebut

Mulai dari keterbatasan akses internet, fasilitas berupa Hand Phone (HP) tentunya menjadi masalah yang tak terpisahkan dari hadirnya motode SFH ini.

Isnaini Fidhiatil Ulla misalnya, Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia yang juga merupakan Wali kelas 9 H Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama  (SLTP) Negeri 3 Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim) ini, mengaku jika selama program tersebut berlangsung, waktu kerjanya bukannya berkurang malah bertambah, sebut saja masa kerja yang sejatinya harusnya hanya berakhir setiap pukul 13.00 wita dengan SFH, waktu mengajarnya bahkan harus sampai tengah malam.

“Kami tidak mengeluh karena itu adalah bagian dari tugas yang harus kami lakukan dalam memberikan penalaran ilmu kepada peserta didik, Ujar Isnaini yang dihubungi kaltimnews.co, Minggu (26/7/2020) malam.

Selama menjalankan aktifitas belajar Dalam Jaringan (Daring) ibu empat orang anak ini, menyebutkan jika tidak sedikit dirinya mendapatkan cemoohan jika profesinya tersebut malah tidak aktif alias hanya menerima gaji buta semata.

“Saya tidak bisa salahkan mereka, lantaran mereka tidak pada posisi kami, dengan metode SFH ini bagi orang tua mungkin yang terbiasa menyerahkan urusan kegiatan belajar mengajar anak sekolah ke guru menjadi tidak mudah, yang akhirnya mengeluh dengan pengalaman baru itu, namun jangan sampai sebut guru itu hanya makan gaji buta dan tidur saja,” ujarnya.

Menurut Isnaini, selama musim pendemi melanda Kukar pada khususnya, tugasnya sebagai guru kianlah berat, tidak sedikit waktu yang harus diluangkan bagi putra putri tercinta harus ia korbankan demi meladeni urusan peserta didiknya.

“Terkadang sudah mau istirahat, baru ada orang tua atau peserta didik yang mengirimkan lembar jawabannya, dan itu kami langsung respon,” terangnya.

Terkait kendala kuota kata dia, sejauh ini, pihak sekolah SLTP 3 Negeri Tenggarong teah menyipakan kuota khusus bagi semua siswa yang dianggarkan melalui dana Bantuan Operasional Sekola (BOS).

“Memang ada beberapa siswa yang HP-nya tidak merespon jenis paket tersebut, contoh misalnya 13 siswa di kalas saya itu tidak memiliki HP yang support akan Cloud x tersebut, namun bukan berarti kami biarkan mereka tidak belajar, akan tetapi kami berikan solusi belajar via Video Call Whats App (WA) yang jamnya ditentukan bersama,” sebut Isnaini yang juga merupakan guru dalam pembelajaran Kukar Pintar yang diinisiasi Disdik Kukar.

Jika dicermati system belajar ini tentunya memiliki plus minus, dengan belajar dirumah tentunya tak bisa lepas dari peranan teknologi yang menjembatani para siswa untuk terus mendapat asupan ilmu. Baik yang diberikan oleh guru maupun sumber belajar lainnya yang didapat dari internet.

Selain itu waktu belajar siswa dinilai lebih fleksibel, Mereka (Siswa,Red) tidak harus terpatok waktu masuk dan pulang sekolah yang sesuai jadwal, selain itu siswa juga langsung melek dengan IT.

“Oleh karenanya sebagai guru, kami berharap kolaborasi yang baik dengan orang tua, mengingat peran keduanya sangatlah vital dalam mendukung keberlangsungan belajar dari rumah agar berjalan dengan baik. Orang tua atau significant other bisa memberi afirmasi positif kepada siswa. Artinya, kalimat-kalimat sederhana yang membangkitkan semangat sangat penting untuk menaikkan mood anak saat belajar di rumah,” jelasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, menciptkan lingkungan psikologis yang sehat dengan cara berempati dan mengajak siswa diskusi juga disarankan untuk meminimalisir stress dan kejenuhan pada anak.

“Mengingat pembelajaran jarak jauh yang merupakan suatu kebiasaan baru yang mau tak mau harus dilakukan oleh siswa. Maka dari itu siswa diharap mampu mengoptimalkan sumber ilmu apapun yang dapat mengasah dan mendorong siswa untuk berpikir,” tuturnya.

Dalam kesempatannya dirinya berharap agar pendemi ini bisa segera berlalu, mengingat selam ini kata dia tugasnya sebagai tenaga pendidik itu hampir tidak terlaksana dengan baik.

“Berbicara soal metode tatap muka itu sangat perlu, mengingat tugas guru bukanlah hanya sebagai tanaga pengajar aja, akan tetapi juga lebih dari pada itu, tugas guru lebih kepada tenaga pendidik, yang hanya bisa dilakukan dalam metode tatap muka secara langsung, kami berharap pendemi ini bisa segara berakhir dan aktifitas sekolah bisa berlangsung seperti sedia kala, kedepannya kami berharap agar terjadi komunikasi efektif antara orang tua wali dan guru atau wali kelas supaya jangan ada kesalahpahaman dan masing-masing yang nantinya merugikan semua pihak. Mari bersama mendampingi anak-anak demi perkembangan dan kemajuan pendidikan saat ini,” tutupnya (*)

  • Penulis : Arief
  • Editor : Redaksi Kaltimnews