Skip to content

Adu Kekuatan Elite di KKSS Kaltim: Stabilitas atau Transformasi?

Dipublikasikan: 13 Apr 2026, 19:22
Adu Kekuatan Elite di KKSS Kaltim: Stabilitas atau Transformasi?

KALTIMNEWS.CO — Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-9 Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur, dinamika yang berkembang tak lagi sekadar kontestasi figur. Lebih dari itu, ini adalah pertaruhan arah masa depan organisasi diaspora Bugis-Makassar di tengah lanskap sosial yang berubah cepat.

KKSS bukan hanya ruang silaturahmi. Ia adalah simpul kekuatan sosial, ekonomi, bahkan politik yang telah lama menjadi penopang eksistensi warga Sulawesi Selatan di tanah rantau. Kini, organisasi ini berdiri di persimpangan: bertahan sebagai paguyuban kultural, atau bertransformasi menjadi kekuatan strategis yang adaptif dan berpengaruh.

 

Empat Figur, Empat Arah Kepemimpinan

Munculnya sejumlah kandidat dengan latar belakang berbeda menunjukkan satu hal: KKSS sedang mencari bentuk kepemimpinan baru.

Ridwan Tassa, dengan rekam jejak sebagai birokrat senior dan mantan Asisten I Pemkot Samarinda, menghadirkan model kepemimpinan administratif. Ia kuat dalam tata kelola, stabilitas organisasi, dan kemampuan meredam konflik. Namun, tantangan utamanya adalah keluar dari zona nyaman birokrasi menuju organisasi yang lebih lincah dan inovatif.

Berbeda dengan itu, H. Muslimin, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Samarinda, membawa energi regenerasi. Ia memiliki pengalaman dalam membangun ekosistem kepemudaan dan jaringan yang lebih dinamis. Sosok seperti ini berpotensi menjadi jembatan antar generasi. Namun, ia juga dihadapkan pada isu klasik: menjaga independensi organisasi dari pengaruh kekuasaan struktural.

Sementara H. Andi Saharuddin, anggota DPRD Samarinda, tampil sebagai representasi kekuatan politik. Dengan jejaring luas dan kemampuan advokasi, ia bisa membawa KKSS masuk ke lingkar kebijakan strategis daerah. Tapi di sisi lain, bayang-bayang politisasi organisasi menjadi risiko yang tak bisa diabaikan.

Adapun H. Irwan alias Irwan Fecho, Bendahara Umum Partai Demokrat, menghadirkan dimensi yang lebih luas: jejaring nasional dan kapasitas mobilisasi sumber daya. Dalam konteks organisasi modern, kekuatan finansial dan konektivitas eksternal adalah aset besar. Namun tantangannya tetap sama, bagaimana menjaga KKSS tetap inklusif dan tidak terjebak dalam fragmentasi politik praktis.

 

IKN dan Tantangan Baru KKSS

Perubahan besar di Kalimantan Timur, terutama dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), telah mengubah peta sosial dan ekonomi secara drastis. Arus migrasi meningkat, kompetisi semakin ketat, dan identitas kultural diuji dalam ruang multikultural yang semakin kompleks.

Dalam situasi ini, KKSS tidak lagi cukup berfungsi sebagai organisasi berbasis nostalgia. Ia harus berevolusi menjadi institusi sosial modern yang mampu: Menguatkan ekonomi anggotanya, Menjadi mediator budaya , Membangun jejaring strategis lintas sektor. Tanpa transformasi, KKSS berisiko tertinggal di tengah perubahan zaman.

 

Tiga Syarat Pemimpin Masa Depan

Dalam perspektif sosiologi organisasi, setidaknya ada tiga kualitas utama yang wajib dimiliki pemimpin KKSS ke depan seperti Integrative Capacity alias Kemampuan menyatukan berbagai faksi, generasi, dan kepentingan. Tanpa ini, organisasi akan mudah terpecah. 

Menyusul Adaptive Leadership alias Kemampuan membaca perubahan dan merespons dengan inovasi. Pemimpin tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuatnya relevan. 

Kemudian yang terakhir Network Governance yang notabene
merupakan kemampuan membangun jejaring lintas sektor pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil. Di era sekarang, kekuatan organisasi terletak pada jaringan, bukan sekadar struktur.

Dalam kerangka ini, tak ada kandidat yang benar-benar sempurna. Justru yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu melampaui batas latar belakangnya birokrat yang inovatif, politisi yang inklusif, dan organisator yang visioner.

 

Dari Kompetisi Menuju Konsolidasi

Muswil ke-9 seharusnya tidak berhenti pada siapa yang menang. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana semua energi yang bertarung dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan kolektif.

Siapa pun yang terpilih, tantangan sesungguhnya bukan mengalahkan lawan, melainkan merangkul mereka.

KKSS Kaltim memiliki modal sosial yang besar: solidaritas, jejaring luas, dan semangat gotong royong. Namun tanpa kepemimpinan yang mampu mengorkestrasi semua potensi itu, kekuatan tersebut akan tetap tersebar, bukan terarah.

Pada akhirnya, pemimpin KKSS bukan sekadar ketua organisasi. Ia adalah penjaga nilai, penggerak komunitas, sekaligus arsitek masa depan diaspora Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur. (Ahmad Syahir/rif/kaltimnews.co)