Skip to content

Alimuddin Menepi, Pertarungan Elit KKSS Kaltim Dimulai

Dipublikasikan: 13 Apr 2026, 02:54
Alimuddin Menepi, Pertarungan Elit KKSS Kaltim Dimulai

KALTIMNEWS.CO — Mundurnya Alimuddin Latief dari bursa Ketua KKSS Kalimantan Timur tak hanya mengakhiri dua periode kepemimpinannya. Keputusan itu justru membuka ruang yang selama ini tak sepenuhnya terlihat ke publik: menguatnya faksi-faksi internal yang kini mulai bergerak lebih terbuka.

Di permukaan, Musyawarah Wilayah (Muswil) IX tampak sebagai proses demokratis yang biasa. Namun di balik itu, sejumlah sumber dan dinamika organisasi mengindikasikan adanya pengelompokan kekuatan yang mulai mengkristal.

Belum dalam bentuk konflik terbuka, tetapi cukup untuk membentuk garis-garis dukungan yang tegas.

Empat Poros, Empat Kepentingan

Sejauh ini, peta kekuatan di tubuh KKSS Kaltim setidaknya terbaca dalam empat poros utama masing-masing dengan karakter dan basis berbeda.

Poros pertama mengarah pada kekuatan struktural internal yang melekat pada figur Ridwan Tasa. Dengan posisi sebagai Ketua Harian, ia dinilai memiliki kedekatan dengan mesin organisasi. Dukungan yang mengalir dari jalur ini cenderung berbasis kesinambungan dan stabilitas.

Poros kedua bertumpu pada kekuatan komunitas, yang menguat di sekitar Andi Saharuddin. Basis ini tumbuh dari jaringan kedaerahan yang solid dan loyal, dengan pola dukungan yang lebih cair namun militan.

Poros ketiga muncul dari kombinasi birokrasi dan organisasi yang melekat pada H Muslimin. Jalur ini dinilai memiliki keunggulan dalam konsolidasi program dan jaringan lintas institusi.

Sementara poros keempat membawa dimensi berbeda: jejaring nasional. Nama Irwan Fecho masuk dalam kategori ini. Kehadirannya disebut-sebut menarik simpati kelompok yang menginginkan ekspansi peran KKSS ke level yang lebih luas.

Faksi atau Sekadar Preferensi?

Secara formal, istilah “faksi” nyaris tak pernah diakui dalam tubuh organisasi paguyuban seperti KKSS. Namun dalam praktiknya, pengelompokan berbasis kedekatan, latar belakang, dan kepentingan sering kali tidak terhindarkan.

Sejumlah pengamat internal menyebut, dinamika yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai “blok dukungan” ketimbang faksi yang kaku.

Meski begitu, pola-pola yang terbentuk mulai menunjukkan ciri khas:

  • Ada kelompok yang menginginkan kesinambungan kepemimpinan 
  • Ada yang mendorong regenerasi dan pembaruan 
  • Ada pula yang melihat momentum ini sebagai peluang reposisi organisasi 

Perbedaan orientasi inilah yang perlahan membentuk garis pemisah meski belum tampak sebagai konflik terbuka.

Peran Sunyi di Balik Layar

Yang menarik, mundurnya Alimuddin tidak serta-merta menghilangkan pengaruhnya.

Dalam banyak organisasi, figur petahana sering tetap memiliki “gravitasi politik” baik melalui jaringan personal, loyalitas lama, maupun komunikasi informal.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ia maju atau tidak, melainkan: ke mana arah dukungan akan bermuara?

Di sinilah peran-peran sunyi bekerja. Komunikasi antar kandidat, pendekatan ke tokoh-tokoh kunci, hingga konsolidasi di tingkat bawah berlangsung tanpa banyak sorotan. Sinyal dukungan bisa berubah cepat, tergantung pada dinamika terakhir menjelang Muswil.

Kontestasi Tanpa Dominasi

Berbeda dengan periode sebelumnya, kali ini tidak ada satu figur yang benar-benar dominan sejak awal.

Kondisi ini membuat kontestasi menjadi lebih terbuka sekaligus lebih tidak terprediksi. Setiap poros memiliki peluang, tetapi juga memiliki keterbatasan. Kekuatan struktur belum tentu menjangkau basis, Kekuatan basis belum tentu solid di level elit, Kekuatan birokrasi belum tentu fleksibel secara politik, Kekuatan nasional belum tentu diterima secara lokal Irisan antar kepentingan ini yang membuat pertarungan menjadi kompleks.

Menunggu Titik Temu atau Titik Ledak

Muswil IX KKSS Kaltim kini berada di persimpangan:
apakah akan melahirkan konsensus, atau justru mempertegas kompetisi hingga akhir.

Jika komunikasi antar poros berjalan efektif, bukan tidak mungkin akan muncul figur kompromi.

Namun jika masing-masing bertahan pada kekuatannya, Muswil berpotensi menjadi arena pertarungan terbuka yang ketat hingga detik terakhir.

Satu hal yang mulai terasa:

Ini bukan sekadar pemilihan ketua.
Ini adalah perebutan arah, pengaruh, dan masa depan organisasi.

Dan di tengah menguatnya faksi-faksi yang belum sepenuhnya tampak ke permukaan, pertanyaan besarnya tetap sama:

Siapa yang paling layak dan paling mampu menyatukan semuanya? 

(rif/kaltimnews.co)