KALTIMNEWS.CO – Sabtu malam itu tak terasa biasa. Di sebuah sudut Kota Samarinda, tepatnya di Cafe Kopi Kuno, percakapan yang awalnya tampak sederhana perlahan berubah menjadi ruang refleksi yang dalam bahkan cenderung menggugat.
Forum Pemuda Sulawesi Selatan (FPSS) sukses menggelar Diskusi Publik #Series01. Namun lebih dari sekadar agenda organisasi, forum ini menjelma menjadi titik temu gagasan lintas generasi yang mulai membedah arah masa depan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Kalimantan Timur.
Tiga nama hadir membawa perspektif masing-masing: akademisi Prof. Bohari Yusuf, anggota TAGUPP Kaltim Rusman Ya’qub, dan Ketua Harian BPW KKSS Kaltim Ridwan Tassa. Dari diskusi yang mengalir hangat itu, satu kesimpulan mengemuka KKSS sedang berada di persimpangan, dan perubahan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Mencari Jalan Tengah di Tengah Arus Zaman
Diskursus tentang budaya dan modernisasi kembali mengemuka. Sebuah perdebatan lama yang hingga kini belum sepenuhnya selesai.
Namun bagi Prof. Bohari Yusuf, cara pandang yang mempertentangkan keduanya adalah kekeliruan mendasar.
“Budaya dan modernisasi tidak boleh dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Dalam pandangannya, pemimpin KKSS ke depan tidak cukup hanya memahami akar budaya Sulawesi Selatan. Ia juga harus mampu membaca konteks sosial Kalimantan Timur tempat di mana identitas itu kini tumbuh dan berkembang.
Di titik ini, KKSS bukan lagi sekadar paguyuban, melainkan ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
FPSS dan Lahirnya Kesadaran Baru
Apa yang dilakukan FPSS malam itu menjadi lebih dari sekadar diskusi. Ia adalah tanda bahwa generasi muda mulai mengambil peran, bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai penggerak.
Ketua FPSS, Akbara Jaya, menyebut forum ini sebagai langkah kecil yang membawa harapan besar.
“Insyaallah, ini adalah pelajaran kecil untuk menghasilkan langkah besar KKSS ke depan. Karena ini adalah salah satu titik menuju KKSS modern berbasis teknologi, untuk melestarikan budaya dan kesenian Sulawesi Selatan hingga ke level dunia,” ujarnya.
Nada optimisme itu juga terasa dalam ungkapan apresiasinya.
“Diskusi Publik #Series01 FPSS malam ini luar biasa. Terima kasih teman-teman semua atas dedikasi waktu, tenaga, dan pikiran demi suksesnya acara kita,” katanya.
Bagi Akbar, ini baru awal. Ia memastikan ruang-ruang dialog seperti ini akan terus dibangun.
“#Series02 ke depan, insyaallah akan lebih dari semua pengalaman acara malam ini,” ucapnya.
Ia pun tak lupa menyapa mereka yang belum sempat hadir.
“Kawan-kawan yang belum sempat membersamai acara malam tadi, terima kasih doa dan supportnya. Tetap kompak dan bersinergi dalam FPSS.”
Di balik kalimat-kalimat itu, tersimpan satu pesan kuat: FPSS sedang bergerak dan mereka mengajak semua untuk ikut.
Ridwan Tassa dan Narasi Perubahan dari Dalam
Di tengah menguatnya wacana pembaruan, sosok Ridwan Tassa hadir membawa perspektif berbeda: perubahan dari dalam.
Sebagai Ketua Harian BPW KKSS Kaltim, ia bukan orang baru. Lebih dari tiga dekade ia hidup dalam dinamika organisasi menyaksikan langsung bagaimana KKSS tumbuh, berjalan, bahkan stagnan di titik tertentu.
Kini, ia menyatakan kesiapan untuk maju dalam Muswil IX KKSS Kaltim.
“KKSS perlu perubahan, terutama dalam tata kelola organisasi agar mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Namun yang menarik, Ridwan tidak hanya bicara perubahan sebagai jargon. Ia menyentuh akar persoalan: pola kepemimpinan yang terlalu bertumpu pada figur.
Menurutnya, era “one man show” sudah waktunya ditinggalkan.
Organisasi, kata dia, harus bergerak ke arah sistem yang kolaboratif di mana kekuatan tidak lagi terpusat, melainkan tersebar dan saling menguatkan.
Fondasi yang Terlupakan
Di balik wacana besar, ada persoalan mendasar yang selama ini luput: infrastruktur organisasi.
KKSS Kaltim, hingga kini, belum memiliki sekretariat permanen yang benar-benar menjadi pusat aktivitas. Bagi Ridwan, ini bukan sekadar soal fasilitas, melainkan cerminan keseriusan.
“Kalau ingin menjadi organisasi modern, harus ada sekretariat yang dikelola dengan sistem dan teknologi,” ujarnya.
Ia juga menggagas pembentukan yayasan sebagai langkah strategis. Bukan hanya untuk menopang kegiatan organisasi, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi warga KKSS.
“Organisasi ini harus memberi manfaat nyata, bukan hanya menjadi tempat berkumpul,” tegasnya.
Antara Regenerasi dan Identitas
Satu isu yang tak kalah penting adalah regenerasi. Generasi muda kini mulai mengambil ruang, tetapi belum sepenuhnya mendapat tempat strategis.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan memudarnya nilai budaya. Banyak generasi KKSS hari ini lahir dan besar di Kalimantan Timur. Mereka memiliki ikatan emosional dengan Sulawesi Selatan, namun tidak selalu mengalami langsung nilai-nilai budayanya.
Di sinilah tantangan itu muncul bagaimana menjaga identitas tanpa menutup diri dari perubahan.
Menunggu Arah di Muswil IX
Musyawarah Wilayah (Muswil) IX KKSS Kaltim yang akan digelar pada 16–17 Mei 2026 dipastikan bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah titik balik.
Di forum itulah, arah organisasi lima tahun ke depan akan ditentukan apakah tetap bertahan dalam pola lama, atau berani melangkah menuju sistem yang lebih modern, inklusif, dan berdampak.
Diskusi FPSS mungkin hanya sebuah awal. Namun dari sanalah, kesadaran itu tumbuh. Dan perlahan, arah perubahan mulai menemukan jalannya. (rif/kaltimnews.co)