Skip to content

Jelang Muswil KKSS, Syandri Tawarkan Energi Baru untuk Organisasi

Dipublikasikan: 18 Apr 2026, 17:11
Jelang Muswil KKSS, Syandri Tawarkan Energi Baru untuk Organisasi

KALTIMNEWS.CO – Suasana santai di sebuah kafe di Samarinda, Sabtu siang (18/4/2026), menjadi ruang perbincangan yang mengarah pada satu hal: masa depan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Kalimantan Timur.

Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) yang dijadwalkan berlangsung 31 Mei mendatang, dinamika mulai terasa. Sejumlah nama mulai diperbincangkan, masing-masing dengan pendekatan dan kekuatannya. Di antara itu, Sandry Syamsuddin tampil dengan corak yang dinilai lebih siap dari sisi gagasan dan komunikasi.

Lahir di Makassar dengan latar keluarga Takalar–Toraja, Syndri membawa perspektif keberagaman yang ia anggap sebagai fondasi penting dalam membangun organisasi. Ia melihat KKSS bukan sekadar wadah formal, melainkan ruang sosial yang seharusnya mampu merangkul seluruh elemen perantau Sulawesi Selatan.

“KKSS ini rumah besar. Di dalamnya ada banyak latar belakang, dan itu harus menjadi kekuatan, bukan sekat,” ujarnya.

Dalam pandangannya, tantangan utama organisasi saat ini bukan semata pada struktur, melainkan pada bagaimana menjaga ritme kebersamaan agar tetap hidup di luar momentum agenda besar. Ia menilai, selama ini aktivitas KKSS cenderung menguat menjelang Muswil, namun belum sepenuhnya berlanjut dalam keseharian organisasi.

“Ke depan, KKSS perlu hadir lebih konsisten. Tidak hanya saat momentum, tetapi juga dalam aktivitas yang menyentuh anggota secara langsung,” katanya.

Gagasan itu menjadi dasar langkahnya maju sebagai calon ketua. Ia menempatkan komunikasi sebagai kunci bukan hanya antar pengurus, tetapi juga lintas generasi dan latar belakang.

Jika dipercaya memimpin, Syandri menyatakan ingin mendorong KKSS menjadi organisasi yang lebih terbuka, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan anggotanya.

“Saya siap mewakafkan diri untuk organisasi ini. Bukan sekadar menjalankan roda organisasi, tapi memastikan KKSS benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya,” ucapnya.

Di tengah potensi kontestasi, Syandri memilih melihat Muswil sebagai ruang adu gagasan, bukan sekadar kompetisi personal. Ia menegaskan kesiapannya untuk berhadapan dengan kandidat lain dalam suasana yang tetap mengedepankan etika dan persatuan.

“Muswil ini ruang bersama. Kita boleh berbeda pilihan, tapi tujuan kita sama membawa KKSS menjadi lebih baik,” tegasnya.

Sejumlah konsep program, kata dia, telah disiapkan sebagai bagian dari arah yang ingin dibangun ke depan. Ia juga mulai menjalin komunikasi intensif dengan para pemilik suara, khususnya Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD).

“Yang paling penting adalah membangun kesepahaman. Organisasi ini tidak bisa berjalan sendiri, harus dibangun bersama,” ujarnya.

Di kalangan internal, pendekatan yang dibawa Syandri mulai mendapat perhatian. Beberapa pengurus daerah menilai, dibandingkan kandidat lain yang masih dalam tahap penjajakan, langkah yang ia tempuh terlihat lebih sistematis baik dari sisi komunikasi maupun kesiapan konsep.

“Sudah mulai terlihat arah yang dibawa. Tinggal bagaimana dikonsolidasikan,” ujar salah satu pengurus yang enggan disebutkan namanya.

Pengamat internal organisasi juga melihat pengalaman lintas organisasi yang dimiliki Syandri menjadi faktor yang membuatnya relatif lebih siap menghadapi dinamika Muswil.

Secara pengalaman, pria kelahiran 1972 itu memang bukan figur baru. Ia telah lama aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dan lintas partai politik, mulai dari KNPI Kutai Barat hingga peran strategis di tingkat provinsi dan kota.

Namun bagi Syandri, pengalaman bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk merawat organisasi agar tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Menjelang Muswil, peta dukungan memang masih dinamis. Meski begitu, di antara nama-nama yang mengemuka, sosok yang dinilai telah menyiapkan arah dan membangun komunikasi lebih awal tampak mulai menempati posisi tersendiri dalam percakapan internal KKSS.

Dalam situasi seperti ini, publik KKSS tampaknya tidak hanya mencari figur populer, tetapi juga sosok yang dinilai siap bekerja sejak awal membawa organisasi tetap hidup, bahkan jauh sebelum momentum Muswil berakhir. (rif/kaltimnews/co)