
KALTIMNEWS.CO, Kukar – Konsep Karantina Mandiri Ketat di rumah pasien kini dilakukan di sebagian wilayah, salah satunya yakni di kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar).
Karantina mandiri ini dilakukan sebagai bentuk dan upaya memutus mata rantai penyebaran Covid -19 yang hingga sekarang ini diketahui belum memiliki vaksin.
Karantina mandiri dirumah pasien ini merupakan salah satu solusi dan inovasi dalam layanan kesehatan Covid-19 kepada pasien di kecamatan ini.
Kepada media ini Kepala Puskesmas Muara Badak Waode Nuraida, mengatakan berbagai kelebihan dari karantina mandiri yang dilakukan pihaknya tersebut.
“Kelebihannya yakni warga sudah familiar dengan lingkungan dan rumah sehingga kebutuhan akan tempat tidur, peralatan makan dan lain-lain pun tidak perlu disediakan,” ujarnya.
Selain itu kata wanita yang berprofesi sebagai dokter ini, dengan karantina mandiri yang dilakukan oleh pasien secara langsung dapat menguatkan rasa solidaritas diantara warga untuk menyemangati dan bahu-membahu menghadapi pandemi Covid-19 dikarenakan kekerabatan yang dekat.
“Warga pun merasa nyaman melaksanakan karantina sehingga meningkatkan imun dan mempercepat proses kesembuhan, hal itu akan sangat berbeda jika dilakukan di lokasi yang jauh dari pemukiman selain memerlukan pengaman ekstra,” sebutnya.
Diketahui karantina merupakan wadah dan sarana yang kini dilakukan oleh pemerintah dalam upaya memutus mata rantai Covid-19. Namun sejumlah kendala kemudian dialami dalam pelaksanaanya sebuit saja lokasi yang cukup jauh dari pemukiman sehingga perlu dilakukan pengamanan, selain itu sarana karantina kurang layak karena beberpa keluarga tergabung dalam satu tempat yang tentunya sangat beresiko terjadinya kontak anatar satu dengan yang lainnya.
Disisi lain Secara psikologis bagi warga yang memiliki anak balita akan sangat berisiko proses adaptasi dan pola asuh dalam keluarganya. Serta sarana dapur yang jauh memaksa tim untuk menyewa catering untuk memenuhi kebutuhan makanan warga yang dikarantina.
“Dari konsep Karantina Mandiri ini, diharapkan beberapa hal seperti diantaranya yakni; timbulnya rasa empati antara sesama warga dan memberikan support terhadap warga yang dikarantina, menghilangkan secara perlahan-lahan stigma tabu terhadap Covid-19 dan menimbulkan kawaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan tehadap warga sekitanya,” jelasnya.
“Selain itu Semua stakeholder yang ada baik di kecamatan maupun yang ada di desa dapat mengambil peran sesuai dengan tupoksinya masing-masing serta semakin banyaknya orang sadar untuk melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker, menjaga jarak, melakukan pola hidup bersih serta tetap tinggal dirumah saja,” tambahnya. (*)