KALTIMNEWS.CO — Kembali ke hutan bukan perkara membuka pintu kandang lalu melepas orang utan ke alam liar. Sebelum benar-benar dinyatakan siap, satwa rehabilitasi harus kembali menguasai kemampuan dasar yang menjadi bekal untuk bertahan hidup.
Mereka harus mengenali makanan alami, memanjat pohon, menjelajahi lingkungan, hingga membangun sarang untuk beristirahat.
Proses itu berlangsung bertahap dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Di Samboja Lestari, Kalimantan Timur, misalnya, Anggoro, orang utan jantan berusia 11 tahun, masih menjalani proses pengembangan kemampuan bertahan hidup di kompleks sosialisasi.
Sementara di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Bumi, orang utan jantan berusia 9 tahun, telah memasuki tahap yang lebih maju. Ia kini berada di Pulau Pra-Pelepasliaran setelah sebelumnya mengikuti proses pembelajaran di Sekolah Hutan.
Perkembangan kemampuan juga terlihat pada sejumlah orang utan lainnya.
Monita, orang utan betina berusia 7 tahun, mulai terampil mengeksplorasi pepohonan, mencari buah, dan membuat sarang.
Ecky, orang utan betina berusia 10 tahun, bahkan telah mampu mengenali dan mengonsumsi sekitar 50 jenis pakan alami serta membuat sarangnya sendiri.
Adapun Otan dan Feruza, masing-masing berusia 5 tahun, masih mengembangkan kemampuan memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang di Sekolah Hutan Samboja Lestari.
Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi sebelum orang utan dikembalikan ke habitat alaminya.
Manager Environment PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Kemas Adrian, mengatakan keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu orang utan, tetapi juga oleh kondisi habitat yang akan menjadi rumah mereka.
“Rehabilitasi orang utan tidak dapat dipisahkan dari upaya memulihkan dan menjaga habitatnya. Karena itu, dukungan kami tidak hanya berfokus pada kebutuhan individu selama proses rehabilitasi, tetapi juga pada penguatan ekosistem melalui pemulihan vegetasi dan pengelolaan habitat secara berkelanjutan,” kata Kemas, 31 Agustus 2026.
Menurut dia, orang utan yang telah memiliki kemampuan untuk hidup mandiri tetap membutuhkan hutan yang mampu menyediakan sumber pakan sekaligus ruang hidup yang memadai.
“Ketika orang utan siap kembali ke habitat alaminya, lingkungan yang sehat dan mampu menyediakan sumber pakan serta ruang hidup menjadi bagian penting dari keberhasilan proses tersebut,” ujarnya.
Memulihkan Rumah Orang Utan
Upaya mendukung rehabilitasi dilakukan PHI bersama Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation melalui sejumlah anak perusahaan dan afiliasinya yang beroperasi di Kalimantan.
Dukungan tersebut tidak hanya berupa penyediaan pakan. Program juga mencakup perawatan kesehatan, obat-obatan, pemeriksaan medis, enrichment, hingga pembelajaran berbagai kemampuan bertahan hidup.
Pada saat yang sama, pemulihan vegetasi dilakukan untuk memperkuat kembali habitat yang menjadi tempat hidup orang utan.
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), misalnya, melakukan penanaman 400 pohon di lahan seluas satu hektare.
Sejumlah jenis tanaman yang ditanam antara lain bengkirang, balangeran, Shorea leprosula, dan kapur.
Area tersebut direncanakan dipelihara dan diamankan selama lima tahun untuk memastikan vegetasi dapat tumbuh dan berkembang.
Direktur Utama PHI, Muharram Jaya Panguriseng, mengatakan rehabilitasi satwa dan pemulihan habitat harus berjalan beriringan serta dilakukan secara berkelanjutan.
Sebab, perjalanan orang utan menuju alam bebas tidak berhenti ketika satwa dinyatakan mampu bertahan hidup.
“Kami berharap dukungan perusahaan dapat membantu lebih banyak orang utan mengembangkan kembali kemampuan alaminya hingga siap kembali ke habitatnya,” katanya.
Selain PHM, PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field dan Tanjung Field juga memberikan dukungan terhadap program konservasi orang utan melalui kerja sama dengan BOS Foundation.
Dalam lima tahun terakhir, PHI mencatat telah melakukan penanaman lebih dari 600 ribu pohon di sekitar wilayah operasi hulu migas di Kalimantan.
Penanaman tersebut mencakup berbagai jenis pohon endemik Kalimantan dan tanaman buah.
Angka tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan vegetasi sekaligus memperkuat fungsi habitat. Sebab, keberadaan tutupan hutan dan ketersediaan sumber pakan merupakan faktor penting bagi keberlangsungan hidup orang utan di alam.
Peringatan Hari Orang Utan yang jatuh pada 19 Agustus menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa konservasi satwa tidak berhenti pada penyelamatan individu.
Ada perjalanan panjang di belakang setiap orang utan yang hendak dikembalikan ke hutan—mulai dari belajar memanjat, mengenali makanan, membuat sarang, hingga memastikan tersedia hutan yang cukup ketika mereka akhirnya benar-benar pulang ke alam. (*/rif/kaltimnews.co)