Skip to content

Saat Nama Lain Menimbang, Andi Saharuddin Malah Mulai Mengunci Arah

Dipublikasikan: 23 Apr 2026, 20:41
Saat Nama Lain Menimbang, Andi Saharuddin Malah Mulai Mengunci Arah

KALTIMNEWS.CO — Di sebuah organisasi berbasis kekeluargaan seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), arah tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling cepat berbicara. Kadang, ia terbentuk dari percakapan kecil, dari kehadiran yang berulang, dan dari konsolidasi yang berjalan tanpa banyak sorotan.

Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) IX KKSS Kalimantan Timur, pola itu mulai terlihat.

Di tengah dinamika yang masih cair, satu nama perlahan menguat tanpa deklarasi besar, tanpa manuver terbuka namun terasa semakin dekat dengan titik krusial. Nama itu adalah Andi Saharuddin.

Ia belum menyatakan diri secara resmi. Namun sinyalnya tidak lagi samar.

Bukan sekadar kesiapan maju, tetapi kesiapan untuk menang.

“Saya tidak ingin maju hanya untuk meramaikan. Kalau saya masuk, itu artinya saya sudah siap dengan kekuatan penuh baik dari sisi dukungan maupun kerja-kerja konsolidasi. Targetnya jelas, bukan sekadar ikut, tapi memenangkan kepercayaan,” ujar Andi Saharuddin.

Pernyataan itu bukan sekadar kalimat normatif. Di lapangan, arah yang ia maksud mulai terbaca.

Dalam mekanisme Muswil KKSS, setiap calon wajib mengantongi dukungan minimal 30 persen Badan Pengurus Daerah (BPD). Dengan total 10 BPD di Kalimantan Timur, ambang batas itu berarti setidaknya tiga dukungan resmi harus diamankan.

Di titik inilah, pergerakan Andi mulai terasa berbeda.

Sejumlah sumber menyebut, komunikasi dengan beberapa BPD telah berlangsung intens dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, satu di antaranya dikabarkan tidak menunggu terlalu lama lebih dulu menawarkan dukungan agar Andi maju.

Belum menjadi deklarasi, tetapi cukup untuk memberi arah.

Di tengah proses itu, dinamika bursa calon juga mulai diisi oleh sejumlah nama lain. Irwan Fecho telah lebih dulu memastikan diri maju dan memulai konsolidasi sejak awal, memanfaatkan posisinya dalam struktur KKSS di tingkat pusat. Sementara itu, H Muhammad Nasir muncul dengan pendekatan berbeda lebih terbuka, membawa klaim dukungan signifikan serta program konkret yang langsung menyasar kebutuhan warga KKSS.

Di sisi lain, Syandri Samsuddin bahkan telah lebih awal menyatakan sikap untuk maju, menjadikannya sebagai salah satu figur yang membuka kontestasi sejak tahap awal.

Namun di tengah ramainya pergerakan itu, langkah Andi tetap berjalan dengan ritme yang berbeda lebih senyap, tetapi konsisten.

Di luar struktur, sinyal yang sama muncul dari akar rumput. Di Kota Samarinda, nama Andi Saharuddin disebut dengan nada yang lebih personal. Bukan sekadar figur politik, tetapi sosok yang dianggap hadir dalam keseharian organisasi.

“Beliau itu selalu ada. Mau rapat kecil atau acara besar, pasti terlihat. Orangnya mudah berbaur, tidak berjarak. Bahkan kalau ada kegiatan, sering membantu. Terbilang royal dan aktif,” kata seorang warga KKSS.

Dalam organisasi seperti KKSS, kesan seperti itu bukan hal kecil. Ia sering kali menjadi fondasi kepercayaan yang perlahan berubah menjadi dukungan.

Menariknya, di tengah dinamika ini, Andi tidak terlihat tergesa. Fokus utamanya saat ini justru berada di dalam organisasi lain yang ia pimpin, Himpunan Masyarakat Parepare (HMP) Kalimantan Timur. Pasca Musyawarah Wilayah yang digelar di Hotel Aston Samarinda, ia tengah merampungkan struktur kepengurusan baru.

Langkah ini membuat ritme geraknya berbeda: tidak ramai di permukaan, tetapi tetap berjalan di bawah.

Namun kontestasi seperti ini jarang berhenti pada siapa yang lebih dulu bicara. Seiring waktu, peta mulai ditentukan oleh siapa yang lebih efektif membangun simpul dukungan baik di tingkat struktur maupun di lapisan paling bawah organisasi.

Dan di fase ini, pergerakan Andi Saharuddin mulai terasa mengisi ruang itu.

Muswil KKSS Kaltim yang dijadwalkan berlangsung 31 Mei 2026 di Samarinda memang masih menyisakan waktu. Tapi seperti banyak kontestasi organisasi sebelumnya, arah sering kali terbentuk jauh sebelum hari pemilihan.

Pelan, senyap, dan tanpa banyak sorotan.

Sejauh ini, Andi Saharuddin tampak memahami ritme itu. Ia belum berdiri di garis depan. Tapi langkahnya mulai terasa cukup dekat untuk disebut sebagai yang paling siap, meski belum paling dulu.

(rif/kaltimnews.co)