Skip to content

Hasil Hidroponik di Bunyu Tak Lagi Sekadar Sayuran, Ini Inovasinya

Dipublikasikan: 01 Sep 2026, 12:54
Hasil Hidroponik di Bunyu Tak Lagi Sekadar Sayuran, Ini Inovasinya

KALTIMNEWS.CO — Hasil panen hidroponik di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mulai diarahkan tidak hanya untuk dijual dalam bentuk segar. Sejumlah kelompok perempuan kini belajar mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah sekaligus memperkuat kemampuan mengelola usaha.

Langkah itu dilakukan PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field melalui Pelatihan Manajemen Usaha dan Pengolahan Produk Turunan Tanaman Hidroponik bagi KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap.

Pelatihan yang berlangsung di Rumah Produksi UMKM, Jalan Dewa Ruci, Desa Bunyu Selatan, Kecamatan Bunyu, pada 15 Agustus 2026 tersebut diikuti 22 peserta.

Materi pelatihan tidak berhenti pada teknik mengolah hasil panen. Peserta juga dibekali kemampuan mencatat keuangan, menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), menentukan harga jual, hingga memasarkan produk.

Ada persoalan mendasar yang coba dibenahi.

Sebelum pelatihan, hampir 60 persen peserta belum pernah menghitung HPP. Sebagian masih menggunakan harga pasar sebagai patokan untuk menentukan harga jual produk.

Melalui pelatihan, peserta diperkenalkan cara menghitung biaya produksi secara lebih menyeluruh, termasuk memperhitungkan tenaga anggota kelompok.

Dengan begitu, harga jual tidak lagi semata-mata mengikuti harga pasar, tetapi dapat dihitung berdasarkan biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam proses produksi.

Dari Panen Segar Jadi Produk Baru

Pengembangan usaha kemudian dilanjutkan dengan praktik mengolah hasil hidroponik menjadi produk turunan.

Peserta belajar membuat sejumlah produk, mulai dari dodol melon, keripik kulit semangka, hingga mi kering yang menggunakan bahan sawi, wortel, dan buah naga.

Hasil evaluasi pelatihan menunjukkan sekitar 91 persen peserta mendapatkan pengalaman baru dalam mengolah hasil hidroponik menjadi produk turunan.

Bagi kelompok, kemampuan tersebut membuka peluang baru.

Hasil panen yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan dalam bentuk sayuran dan buah segar kini dapat diolah menjadi produk dengan masa konsumsi lebih panjang.

Pengolahan juga membuka peluang menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari hasil pertanian yang sama.

Ketua KWT Amanah, Munsi, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha kelompok.

“Kami jadi tahu bahwa hasil hidroponik tidak hanya bisa dijual dalam bentuk sayuran atau buah segar, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Kami juga belajar menghitung HPP, mencatat keuangan, dan memasarkan produk. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ujar Munsi.

Ia berharap pengetahuan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi terus diterapkan melalui inovasi produk.

“Semoga setelah pelatihan ini kami bisa terus berinovasi dan mengembangkan berbagai produk dari hasil hidroponik kelompok kami,” katanya.

Pemerintah Dorong Potensi Lokal

Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Bunyu, Adriani, mengapresiasi program peningkatan kapasitas tersebut.

Menurutnya, pengolahan hasil hidroponik menjadi produk turunan dapat menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

“Kami berharap ibu-ibu dari KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang telah diberikan oleh pemateri dalam mengembangkan usaha kelompok,” ujar Adriani.

Ia berharap pelatihan tersebut menjadi awal bagi kelompok untuk menghasilkan produk yang lebih inovatif, memiliki nilai tambah, dan mampu menciptakan peluang ekonomi baru di Bunyu.

Pelatihan menghadirkan Rismiyati, pelaku UMKM Yumna Food dari Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, sebagai pemateri sekaligus instruktur praktik.

Pengalaman praktisi UMKM tersebut menjadi salah satu bagian yang dinilai penting karena peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai penerapan pengelolaan usaha dan pengembangan produk di lapangan.

PEP Dorong UMKM Tidak Bergantung Bantuan

Head Communication Relations & CID Zona 10, Elis Fauziyah, mengatakan program Pengembangan dan Pelibatan Masyarakat (PPM) merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Menurut dia, pengembangan masyarakat harus diarahkan pada terbentuknya kemandirian sehingga manfaat program tidak berhenti pada bantuan perusahaan.

“Pengembangan potensi lokal seperti pertanian hidroponik perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat program tidak berhenti pada pemberian bantuan oleh perusahaan, namun masyarakat sendiri memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan potensi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan,” tutur Elis.

Ia menilai pertanian hidroponik menjadi salah satu potensi Pulau Bunyu yang masih dapat dikembangkan lebih jauh.

Dengan kemampuan mengolah hasil panen, masyarakat memiliki pilihan lebih luas dalam memasarkan produk. Tidak hanya menjual hasil pertanian dalam kondisi segar, tetapi juga menciptakan produk olahan yang berpotensi menjangkau pasar berbeda.

“Kami berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok, sehingga mampu membuka peluang usaha baru bagi UMKM dan masyarakat yang lebih luas,” imbuhnya.

Program tersebut merupakan kolaborasi PEP Bunyu Field bersama KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap, dengan dukungan Pemerintah Kecamatan Bunyu serta Pemerintah Desa Bunyu Barat dan Desa Bunyu Selatan.

Melalui penguatan kemampuan produksi dan manajemen usaha secara bersamaan, pengembangan hidroponik di Bunyu diarahkan bukan sekadar menghasilkan panen.

Target akhirnya adalah menciptakan produk baru, pasar baru, dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat. (*/rif/kaltimnews.co)