Skip to content

Pejuang Pendidik Di Pelosok Desa Kutai Kartanegara

Rogoh Kocek Peribadi, Telusuri Sungai Sepanjang 7 KM, Serta Jalan Kaki Sepanjang 1 KM

Dipublikasikan: 11 Mar 2020, 09:00
Pejuang Pendidik Di Pelosok Desa Kutai Kartanegara
Busu Rojali Rojali, Keoala Sekolah SDN 014 Desa Kedang Murung, Kecamatan Kota Bangun -- www.kaltimnews.co / Foto: Redaksi kaltimnews

KALTIMNEWS.CO, Kukar – Guru merupakan tokoh yang berperan penting dalam dunia pendidikan, profesi ini tidak dapat dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki keahlian dan kualifikasi, perjuangan dalam memberikan ilmu kepada peserta didiknya juga tidak bisa dipandang sepeleh, tidak sedikit para guru harus berjuang bertaruh nyawa guna memunaikan tugas sehari-harinya itu.

Busu Rojali misalnya, Guru SDN 014 Desa Kedang Murung, Kecamatan Kota Bangun ini, setiap harinya harus bertaruh nyawa guna memberikan ilmu kepada peserta didiknya, lantaran lokasi sekolah yang dikepalainya itu berada cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Pejuang Pendidik di Kutai Kartanegara.

Desain By Tim Creatif Kaltimnews,co

Sehari-harinya Rojali, harus menyeberangi sungai sepanjang 7 Kilometer (KM) dengan menggunakan perahu kecil. Perjalanan Rojali bukan hanya sampai disitu, usai menempuh perjalanan sungai yang cukup panjang, Rojali harus harus rela berjalan kaki sejauh 1 Km lagi guna tiba di Sekolah yang kini mendapat akreditasi B itu.

 “Setiap hari, saya dan rekan seprofesinya harus meninggalkan rumah lebih awal, lantaran jarak sekolah yang saya tempati mengajar terbilang cukup jauh, kasihan murid-murid kalau kami datangnya kesiangan,” kata Rojali kepada kaltimnews.co, Rabu (11/3/2020) siang.

Rojali menyebut, tidak sedikit dirinya harus merogoh kocek setiap hari dalam hal urusan transportasi guna menunaikan kewajibannya sebagai tenaga pendidik disekolah tersebut.

Meski demikian Rojali tidak pernah mengeluh lantaran profesi yang dilakoninya dilaksanakan dengan senang hati serta ikhlas demi pemerataan pendidikan dan mencerdaskan bangsa.

“Bangun tidur itu jam 05.00 dini hari, dan langsung berkemas, karena minimal 07.00 Wita kami sudah naik perahu untuk ke sekolah yang berada di Dusun Rajak, Kedang Murung, yang ditempuh sekira 2 jam pulang-pergi,” sebutnya.

Sudah puluhan tahun, Rojali mendedikasikan dirinya di sekolah ini, meski sekolah ini hanya dihuni sekitar 34 orang siswa saja, namun Rojali bersama dengan 12 Guru lainnya, tidak patah semangat untuk terus memberikan ilmu pengetahuan kepada para muridnya.

“Sebagai tenaga pengajar, kami harus ikhlas dalam memberikan dedikasi kami kepada peserta didik, meskipun jumlahnya tidak sebanyak dengan sebagian sekolah lainnya, namun kami tetap semangat dalam menalarkan segala ilmu yang kami miliki kepada peserta didik kami, walau kami harus menggunakan trasportasi sungai dan berhadapan dengan segala resiko seperti cuaca, serta arus deras sungai yang bisa mengancam keselamatan hidup kami,” kata Rojali.

Tak jarang memang Rojali, dan kawan-kawan, mendapat hambatan berupa air pasang dan hujan deras dalam perjalanannya kesekolah tersebut, lain lagi saat musim kemarau melanda, membuat air sungai menjadi dangkal yang berakibat ranting pohon atau pun batang pohon bisa menjadi ancaman perjalanan jika tidak berhati-hati.

Wilayah Dusun Rajak memang merupakan salah satu wilayah di Kukar yang terbilang masih terisolir dan terpencil, kondisi geografis yang terdiri dari rawa dan dialiri sungai, ditambah lagi penyebaran pendduduk yang tidak merata menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pendididkan di dareah ini.

“Tidak semua warga bisa menjangkau sekolah ini, lantaran akses yang tidak begitu mudah, tidak seperti di ibukota desa yang dapat ditempuh dengan jalur darat,” sebut Rojali.

Dalam kesempatannya Rojali mengaku berharap jika dana operasional yang dilakukan secara mandiri dan gotong royong tersebut suatu saat mendapat perhatian dari pemerintah. (*)