KALTIMNEWS.CO, Kukar – Sejak ditetapkannya Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai wilayah psysical distancing akibat dampak Corona atau covid19 oleh pemerintah setempat, nyatanya membawa dampak ke berbagai bidang, salah satunya yakni pada dunia pendidikan khususnya proses belajar mengajar yang tidak dapat dilakukan dalam pertemuan tatap muka seperti biasanya.
Atas hal tersebut disampaikan Nurlia Santy Agustin atau yang lebih dikenal dengan nama Santy Agustin bersama rekan seprofesinya yang membuat ide untuk membuat jadwal pembelajaran online atau pembelajaran Dalam Jaringan (Daring).

Desain By Arief Kaseng kaltimnews.co
Untuk merealisasikan ide tersebut Shanti dan rekannya melakukan pergerakan sebagai relawan guru pembelajaran daring dan menggandeng Kelompok Informasi Masyarakat Wadah Etam Bebaya (KIM-WEB) binaan Dinas Kominfo Kukar.
Jadwal pembelajaran di lakukan setiap hari satu setengah jam di mulai pukul 16.00 hingga 17.30 Wita. Untuk kesinambungan pembelajaran dapat barlangsung setiap hari, Guru yang sudah bergabung secara sukarela mengisi jadwal yang di disepakati.
Dibalik profesinya sebagai tenaga pendidik di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Teggarong, Santy Agustin ternyata juga menjadi Seorang penulis buku yang namanya cukup terkenal di Indonesia, sejumlah karya sastra yang ia terbitkan sejak 2016 silam.
“Awal menulis 2016 lalu, saat itu saya berhasil menerbitkan karya sastra perdana saya yakni Kumpulan Puisi “Melepas Aksara” yang diterbitkan LingkarAntar Nusa,” kepada kaltimnews.co, Minggu (19/4/2020) siang.
BACA JUGA :
https://www.kaltimnews.co/posts/view/752/kartini-umkm-dari-desa-selerong-kutai-kartanegara.html
https://www.kaltimnews.co/posts/view/750/wow-di-kaltim-ada-posko-covid-19-diatas-air.html
Sukses dengan karya perdananya, Santy kemudian terus mengembangkan berbagai karya, hal itu terlihat dengan sejumlah karya yang berhasi ia terbitkan di tahun berkutnya.
"Saya punya prinsip untuk membagikan apa yang saya tahu itu berguna untuk orang lain," sebutnya.
Di 2017 lalu setidaknya berbagai karya sastra lahir dari tangan ibu dua orang anak ini, diantara karya sastranya itu yakni, Kumpulan Cerpen “Bidadari Cemburu” yang diterbitkan oleh Lingkar Antar Nusa, Novel Edukasi Remaja “Gadis Naik Bujang”, Cerita Anak “Balapan di Sirkut Neuron”, Cerita Anak “Mona dan Tiramisu”, Cerita Anak “Tiga Penjaga Hutan”, yang semunaya diterbitkan oleh Intishar.
“Ditahun yang sama saya juga di daulat sebagai kontributor terpilih Kontes Fiksi Mini “Batu Lezat” dari Linkar Antar Nusa,” bebernya.
Sukses menerbitkan sejumlah buku Santy kemudian di daulat oleh NGO The Planete Urgence, untuk menjadi Penulis buku di tahun 2020 yang di terbitkan oleh Intishar.
Setidaknya empat serial cerita anak dengan misi penyelamatan mangrove yang ia berhasil terbitkan diantaranya Mangrove Kecil yang Bersedih, Titing Si Kepting Penjaga Mangrove, Anak Delta Sahabat Mangrove, dan Toko Delta Mahakam,” terangnya.
“Khusus untuk empat serial ini saya kerjakan denga izin kepala sekolah MAN II, mengingat saya harus kelapangan langsung untuk ikut melihat dan meneliti berbagai objek yang akan dimasukkan dalam karya tulis, dan itu membetuhkan waktu beberpa hari,” bebernya.
Kembali ke profesinya sebagai tenaga pendidik, profesi Santy sebagai penulis dan sorang guru diakuiny tidaklah saling mengganggu. “Kuncinya di disiplin waktu, selama ini saya bisa membagi antara waktu sekolah maupun untuk keluarga,” imbuhnya.
Di MAN II Sendiri, kehadiran sosok Santy ternyata ikut mengharumkan nama sekolah tersebut hal itu terbukti di dua tahun berturut turut yakni 2019 dan 2020 MAN II Tenggarong berhasil menerbitkan karya sastra yang semuanya terdaftar di perpustakaan nasional dan memiliki International Standard Book Number (ISBN).
“Kumpulan Cerpen MAN 2 Kutai Kartanegara dengan judul Mimpi Berharga berhasil di terbitkan Sekolah ini di tahun 2019, kemudian Antologi Puisi “Rindu Aksara” MAN 2 Kutai Kartanegara di tahun 2020, untuk kedua buku ini saya berperan sebagai koordinator, sekaligus editor,” jelasnya.
Tidak sedkit ilmu dan bakat tulis Santy di nalarkan kepada ssiswa MAN II Tenggarong, mengingat di Sekolah ini, telah menyipakan waktu khusus untuk para siswa yang memiliki minat nulis. “Di MAN II Tenggarong, sudah menjadikan hal ini sebagai kegiatan Ekstra Kulikuler (Ekskul), yang waktunya setiap kamis usai jam pelajaran sekolah, dan peminatnya cukup banyak sekira 50 orang siswa yang ikut dalam kelas tersebut,” ujarnya.
Santi mengatakan dalam konsep pembelajaran dirinya melibatkan dua orang guru Bahasa Indonesia untuk ikut membantunya. “Berbgai Teknik saya sampaikan kepas siswa kelas seperti diantaranya, para siswa ini bisa memulinya dengan special moment mereka, perubahan drastis yang dialami, kisah pilu ataupun bahagia, based on true story ataupun murni fiksi fantasy, intinya bebaskan ekspresi, asalkan semua karya tulis yang dibuat tidak mengandung sara,” jelasnya.
Selain menjadi Koordinator penulis di lingkup MAN II Tenggarong santi juga kini didaulat menjadi coordinator Antologi Cerpen di 45 Penulis Nusantara, sejauh ini ada 13 judul yang kini masuk list terbitan. Seperti Mutiara di Balik Corona (Farida Zai), Luka Tak Berdarah (Kusuma Agustri), Curhat Sang Penyendiri (Lestari), Assalamuakaikum, Iyan (Ranem), Rinduku Terjeda Karena Corona (Suparno Ghopar), Senyum Riana (Dwi Yenie), Pulang (Salawi), Dari Mentari Kepada Bintang (Zahrah A.N), Detak Cinta Dibalik Uji (Setyawati), Kesetiaan Hidayah (Suci Nur Fathonah), Kenangan Terindah (Rabiatul Fauzy), False (Anita Katarina) dan Kisya Berselubung Jarak karyanya sendiri.(*)