KALTIMNEWS.CO – Kamis siang sekitar pukul 12.00 Wita, Pelabuhan Komura, Samarinda, kembali berada dalam ritme padatnya. Penumpang berdesakan di ruang tunggu, panggilan keberangkatan bersahutan, sementara petugas sibuk mengurai arus orang yang terus berdatangan.
Di tengah keramaian itu, ada pemandangan yang hampir menjadi rutinitas tiap pekan: keluarga-keluarga yang berangkat tanpa harus memikirkan biaya perjalanan pulang ke kampung halaman.
Salah satunya adalah keluarga Ahamad Dg Siama alias Charles. Lima anggota keluarganya menaiki kapal tujuan Parepare, Sulawesi Selatan.
“Yang penting mereka bisa pulang,” ujarnya singkat.
Keberangkatan itu difasilitasi melalui program mudik gratis yang digerakkan oleh H Muhammad Nasir. Program ini tidak bersifat seremonial, melainkan berjalan rutin setiap pekan, menyasar warga yang ingin kembali ke kampung halaman, khususnya dalam jejaring keluarga besar KKSS di Kalimantan Timur.
Namun di balik jadwal kapal, daftar penumpang, dan proses keberangkatan yang tertib, ada aspek lain yang jarang terlihat: cara bantuan itu dijalankan.
Sejumlah penerima manfaat menyebut, akses program ini tidak dibebani prosedur yang berlapis. Tidak ada sekat rumit dalam penentuan penerima. Selama ada kebutuhan dan keterbatasan, ruang bantuan terbuka.
Dalam praktiknya, H Muhammad Nasir dikenal mengedepankan pendekatan langsung. Bantuan diberikan tanpa seleksi yang kaku, tanpa mempertimbangkan kedekatan personal atau posisi sosial. Warga yang membutuhkan, selama berada dalam lingkup komunitas, mendapat perlakuan yang sama.
Pendekatan ini membuat program mudik gratis berkembang melampaui sekadar layanan transportasi. Ia berubah menjadi ruang solidaritas sosial yang bekerja secara konsisten.
Bagi keluarga Charles, perjalanan pulang ke Parepare bukan sekadar soal jarak Samarinda–Sulawesi Selatan, melainkan persoalan biaya yang selama ini kerap menunda rencana pulang. Ketika akses itu terbuka, keputusan menjadi sederhana: berangkat.
Di Samarinda, aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Tanpa seremoni dan tanpa pernyataan berlebihan. Namun bagi Charles, ada kepastian yang jauh lebih penting: keluarganya sampai tanpa harus terbebani biaya perjalanan.
Di titik inilah program tersebut menemukan maknanya. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk besar atau panggung formal, tetapi dalam keputusan-keputusan sederhana yang berdampak langsung pada kehidupan: siapa yang bisa pulang, kapan mereka berangkat, dan bagaimana perjalanan itu menjadi mungkin.
Bagi sebagian orang, kedermawanan sering kali diukur dari skala dan sorotan. Namun dalam praktik ini, ia justru bekerja dalam bentuk yang lebih senyap, konsisten, berulang, dan menyentuh langsung kebutuhan dasar.
H Muhammad Nasir menempatkan perannya di ruang itu. Membantu tanpa banyak seleksi, tanpa sekat yang membedakan, dan tanpa menonjolkan proses. Model seperti ini tidak selalu tampak mencolok, tetapi terasa nyata di lapangan.
Setiap pekan, di pelabuhan yang sama, cerita serupa terus berulang. Orang-orang berangkat dengan alasan berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama: pulang.
Dan di tengah riuh keberangkatan itu, ada satu pola yang konsisten: bantuan yang tidak memilih siapa yang layak, melainkan memastikan siapa yang membutuhkan bisa benar-benar berangkat. (rif/kaltimnews.co)