Skip to content

Dari Nol, Muhammad Nasir Besarkan KJS Hingga Seribu Anggota

Dipublikasikan: 26 Apr 2026, 18:02
Dari Nol, Muhammad Nasir Besarkan KJS Hingga Seribu Anggota

KALTIMNEWS.CO — Tidak semua gerakan besar lahir dari ruang rapat atau konsep yang matang. Sebagian justru tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dijaga dengan konsisten. Itulah yang tergambar dari perjalanan Komunitas Jalan Sehat (KJS) di Samarinda dan sosok di baliknya, H Muhammad Nasir.

Lima tahun lalu, tidak ada nama organisasi. Tidak ada struktur. Hanya beberapa orang yang berjalan santai di pagi hari, berbincang ringan, lalu pulang. Di antara mereka, H Nasir menjadi salah satu penggerak yang menjaga ritme itu tetap hidup.

Dari rutinitas kecil itu, ia melihat sesuatu yang lebih besar: kebutuhan masyarakat akan ruang kebersamaan yang sederhana, murah, dan terbuka untuk siapa saja.

“Awalnya hanya jalan santai. Tapi lama-lama terasa, ini bukan sekadar olahraga,” kata H Nasir.

Perlahan, jumlah peserta bertambah. Tanpa promosi besar, tanpa agenda yang dibuat rumit, orang-orang datang karena merasa nyaman. Mereka tidak hanya mencari sehat, tetapi juga relasi sosial yang hangat.

Pada 2021, H Nasir mulai membawa komunitas ini ke tahap berikutnya. KJS resmi dibentuk, dengan struktur organisasi dan agenda yang lebih terarah. Dari situ, arah gerakan mulai terlihat: tidak hanya menjaga konsistensi aktivitas, tetapi juga memperluas jangkauan.

Di bawah kepemimpinannya, KJS berkembang melampaui Samarinda. Jaringan anggota kini telah terbentuk di sedikitnya 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur, menandai ekspansi komunitas yang semakin luas. Namun, H Nasir tetap menjaga agar KJS tidak kehilangan identitas awalny inklusif, cair, dan tidak berjarak.

Kini, jumlah anggota KJS di Samarinda telah menembus lebih dari 1.000 orang. Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan tren gaya hidup sehat, tetapi juga menunjukkan keberhasilan membangun kepercayaan dalam komunitas.

Yang menarik, H Nasir tidak berhenti pada aktivitas fisik semata. Ia mendorong KJS untuk memiliki dimensi sosial. Salah satu program yang konsisten dijalankan adalah pembagian daging kurban setiap tahun bagi anggota yang membutuhkan.

Bagi H Nasir, komunitas bukan hanya soal berkumpul, tetapi juga tentang saling menguatkan.

“Kalau hanya olahraga, mungkin orang datang dan pergi. Tapi kalau ada kepedulian, di situ hubungan terbentuk,” ujarnya.

Pendekatan ini membuat KJS tidak sekadar menjadi komunitas jalan sehat, tetapi juga ruang sosial yang hidup. Anggota datang dari berbagai latar belakang usia, profesi, hingga status ekonomi namun bertemu dalam satu aktivitas yang sama: berjalan bersama.

Untuk menjaga semangat itu tetap terawat, KJS rutin menggelar perayaan ulang tahun dengan berbagai kegiatan, mulai dari senam massal hingga pembagian hadiah. Agenda sederhana, tetapi cukup untuk menjaga kedekatan dan rasa memiliki.

Di tengah kehidupan kota yang semakin individual, model kepemimpinan seperti yang ditunjukkan H Nasir menjadi relevan. Ia tidak tampil dengan pendekatan yang hirarkis, melainkan hadir sebagai bagian dari komunitas itu sendiri.

Perjalanan KJS menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu soal instruksi dan struktur, tetapi tentang keteladanan dalam hal-hal kecil hadir, konsisten, dan menjaga kebersamaan.

Dari langkah-langkah pagi yang dulu tampak biasa, kini lahir sebuah gerakan sosial yang terus tumbuh. Dan di baliknya, ada satu hal yang tetap sama: komitmen untuk berjalan bersama. (rif/kaltimnews.co)