KALTIMNEWS.CO – Polemik komentar seorang dokter RSUD IA Moeis Samarinda yang viral di media sosial menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda. Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar persoalan unggahan di dunia maya, melainkan menjadi pengingat bahwa etika profesi tenaga kesehatan tetap melekat, kapan pun dan di mana pun.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohamad Novan Syahronny Pasie, menegaskan status sebagai dokter maupun tenaga kesehatan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk saat menggunakan media sosial.
Menurutnya, masyarakat akan tetap memandang setiap pernyataan seorang dokter sebagai representasi profesinya, meski disampaikan di luar lingkungan rumah sakit maupun di luar jam dinas.
"Walaupun itu terjadi di media sosial, tapi dokter ataupun perawat itu melekat statusnya. Jadi jangan berpikir di luar jam kerja. Secara tidak langsung itu melekat di masyarakat," ujar Novan,
Novan mengatakan perkembangan media sosial membuat setiap komentar dapat dengan cepat menyebar dan membentuk opini publik. Karena itu, tenaga kesehatan diminta lebih bijak dalam menyampaikan pendapat agar tidak memunculkan persepsi negatif terhadap profesi maupun institusi pelayanan kesehatan.
Ia mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya dinilai dari kompetensi medis, tetapi juga dari sikap, empati, serta cara berkomunikasi kepada masyarakat.
"Ya jangan sampai mulutmu harimau lah," katanya.
Politikus Partai Golkar itu juga menyoroti bahwa unggahan pasien yang menjadi perbincangan tidak pernah menyebut nama rumah sakit secara langsung. Namun karena komentar yang viral berasal dari seorang dokter RSUD IA Moeis, perhatian masyarakat akhirnya mengarah kepada rumah sakit tempat dokter tersebut bertugas.
Menurut Novan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa citra sebuah institusi kesehatan dapat ikut terdampak oleh perilaku individu tenaga medis di ruang digital.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi evaluasi bersama bagi seluruh tenaga kesehatan agar selalu menjaga etika profesi, baik saat memberikan pelayanan langsung maupun ketika berinteraksi melalui media sosial.
"Ini menjadi pelajaran bersama, terutama bagi tenaga kesehatan agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang publik," tegasnya.
Novan menilai kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan merupakan aset penting yang harus dijaga melalui profesionalisme dan komunikasi yang beretika. (*/adv/rif/kaltimnews.co)