KALTIMNEWS.CO — Kabut asap yang menyelimuti Samarinda mulai berdampak pada aktivitas pendidikan. Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran secara daring, sementara sekitar 1.500 warga Kecamatan Palaran berkumpul untuk melaksanakan Salat Istisqa, beberapa waktu yang lalu.
Salat Istisqa digelar di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran. Kegiatan tersebut digagas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Palaran sebagai ikhtiar bersama menghadapi kondisi lingkungan yang terdampak kemarau dan kabut asap.
Peserta berasal dari berbagai unsur pendidikan dan masyarakat. Di antaranya siswa dan siswi SDN 007, SDN 008, SMP Negeri 31 Samarinda, SMK 19, SMK 11, anggota PGRI Kecamatan Palaran, serta masyarakat umum.
Ustadz Drs. Mahmud bertindak sebagai imam Salat Istisqa. Sementara khutbah disampaikan Ustadz Subhan.
Pelaksanaan salat berlangsung ketika kondisi udara di Samarinda menjadi perhatian masyarakat. Kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga membuat sejumlah satuan pendidikan harus menyesuaikan proses belajar mengajar.
Berharap Hujan Segera Turun
Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 31 Samarinda, Nur Wijayanti, salah satu peserta yang turut hadir dan di temui media ini dalam kegiatan tersebut bersama para siswa, guru, dan masyarakat lainnya mengatakan bahwa Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan. Ia berharap hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan dapat kembali membaik.
“Kami berharap kemarau panjang ini bisa segera berakhir dengan datangnya rahmat berupa hujan yang diturunkan Allah kepada bumi ini,” ujar Nur.
Selain berharap hujan, Nur juga menyampaikan pesan kepada masyarakat agar memperhatikan dampak aktivitas pembakaran lahan terhadap lingkungan dan warga di sekitarnya.
“Kami juga menggugah hati para pelaku pembakaran lahan untuk jangan hanya memperhatikan diri sendiri. Ingatlah orang lain di sekitar kita. Jangan karena perbuatan kita kemudian orang lain harus tersiksa merasakan imbasnya,” katanya.
Pesan tersebut disampaikan Nur sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Sekitar 1.500 peserta mengikuti Salat Istisqa di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Simpang Pasir. Mereka memanjatkan doa agar hujan segera turun dan kondisi lingkungan membaik.
Di tengah gangguan kabut asap, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara. Dampaknya juga merembet ke aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Karena itu, penanganan kondisi udara perlu berjalan bersamaan dengan upaya mencegah sumber asap, termasuk pengendalian aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memperburuk kondisi lingkungan.
Bagi warga Palaran, Salat Istisqa menjadi momentum untuk bersama-sama memanjatkan doa sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan di tengah kondisi udara yang sedang memburuk. (*/raiza/rif/kaltimnews.co)