Skip to content

Dari Lantai Tanah ke Panggung KKSS: Jalan Sunyi Syandri Samsuddin

Melirik Kisah Calon Ketua KKSS Kaltim 2026

Dipublikasikan: 23 Apr 2026, 23:13
Dari Lantai Tanah ke Panggung KKSS: Jalan Sunyi Syandri Samsuddin

KALTIMNEWS.CO Pada satu titik dalam hidupnya, Syandri Samsuddin pernah tidur di atas lantai tanah. Bukan metafora, melainkan kenyataan yang ia jalani bersama istrinya di sebuah rumah kecil di Kutai Barat.

Lantai itu dingin, keras, dan seadanya. Mereka mengalasnya dengan tikar tipis. Bantalnya bukan kapuk atau busa, melainkan tas berisi pakaian. Makanan pun seringkali sederhana, singkong rebus yang dimakan untuk bertahan hari demi hari.

“Waktu itu kami benar-benar mulai dari nol,” kenang Syandri.

Namun kisah itu tidak berdiri sendiri. Ia adalah potongan dari perjalanan panjang yang berliku, tentang jatuh, memilih ulang, dan bertahan ketika hidup tidak lagi memberi kenyamanan.

 

Dari Puncak ke Titik Terendah

Sebelum sampai di fase lantai tanah, Syandri sempat mencicipi kehidupan yang jauh lebih stabil. Ia pernah bekerja di lingkungan Freeport Indonesia, sebuah tempat yang bagi banyak orang identik dengan penghasilan besar dan masa depan yang menjanjikan.

Namun hidup tidak selalu bergerak lurus.

Saat kembali ke Kalimantan Timur, ia mencoba mengikuti jejak karier sang kakak di Kutai Kartanegara. Di sinilah ia berhadapan dengan kenyataan yang kontras, dari penghasilan jutaan rupiah, ia harus menerima gaji ratusan ribu.

Perubahan itu bukan hanya soal angka. Ia datang di waktu yang tidak mudah, ketika Syandri baru saja menikah dan mulai memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

“Dengan kondisi seperti itu, saya merasa tidak cukup untuk hidup,” ujarnya.

Pilihan pun kembali terbuka, bertahan atau berpindah.

 

Hijrah dan Bertaruh di Tanah Orang

Keputusan itu akhirnya membawa Syandri ke Kutai Barat. Sebuah hijrah yang bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga langkah berani untuk memulai ulang kehidupan di tempat yang belum ia kenal sepenuhnya.

Tawaran dari keluarga menjadi pintu masuk. Ia bekerja di proyek jasa bersama pemerintah daerah. Penghasilannya memang lebih baik dibanding sebelumnya, tetapi kehidupan tetap jauh dari kata mapan.

Di masa itulah ia dan istrinya hidup dalam kesederhanaan ekstrem. Rumah kecil, lantai tanah, tikar sebagai alas tidur, semua dijalani tanpa banyak pilihan.

Sebagai pendatang, ia sadar posisinya tidak mudah.

“Nama masih baru, kita orang baru di sana. Jadi ya jalani saja apa adanya,” katanya.

Namun dari kondisi itulah, satu hal mulai terbentuk, daya tahan.

 

Belajar dari Keterbatasan

Alih-alih menyerah, Syandri justru menjadikan fase sulit itu sebagai ruang belajar. Ia tidak hanya bekerja, tetapi juga mengamati, bagaimana proyek berjalan, bagaimana sistem bekerja, dan di mana peluang bisa muncul.

Perlahan, ia mulai memahami ritme.

Dari pekerja, ia bertransformasi menjadi pembelajar. Dari pembelajar, ia mulai berani mengambil risiko. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk membangun usaha sendiri di bidang yang ia tekuni.

Keputusan itu tidak instan. Ia lahir dari akumulasi pengalaman, dan keberanian untuk keluar dari zona aman, sekecil apa pun zona itu.

 

Jalan Panjang yang Tidak Instan

Perjalanan Syandri tidak berhenti di sana. Dari dunia usaha, ia masuk ke ruang sosial yang lebih luas. Aktivitas di masyarakat, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, hingga jejaring yang terus berkembang membawanya ke dunia yang lebih kompleks, politik.

Lebih dari 25 tahun, ia menapaki jalur ini. Berpindah dari satu fase ke fase lain, dari satu partai ke partai lainnya, mulai dari Partai Demokrasi Kasih Bangsa hingga Partai NasDem, hingga akhirnya dipercaya memimpin Partai Hanura di daerah.

Dunia politik memberinya banyak hal, pengalaman, tekanan, juga ujian emosional. Tidak semua berjalan mulus. Ada masa ketika keputusan harus diambil di tengah ketidakpastian. Ada pula fase ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Namun satu hal yang tidak berubah, alasan ia bertahan.

Keluarga.

Dengan latar pendidikan formal yang hanya sampai SMA, Syandri membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir. Ia berhasil menguliahkan anak-anaknya dan menjaga keluarganya tetap berdiri di tengah berbagai gelombang kehidupan.

 

Dari Lantai Tanah ke Panggung Kepemimpinan

Kini, perjalanan panjang itu membawa Syandri ke titik baru. Ia maju sebagai calon Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur, sebuah organisasi yang tidak hanya berbasis kultural, tetapi juga memiliki pengaruh sosial yang kuat di daerah.

Langkah ini bukan sekadar tentang posisi.

Ia adalah refleksi dari perjalanan hidup, dari lantai tanah di Kutai Barat hingga ruang-ruang pengambilan keputusan. Dari singkong rebus sebagai makanan sehari-hari hingga jaringan sosial yang luas.

Di tengah dinamika internal KKSS yang semakin kompetitif, Syandri datang dengan sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat, pengalaman hidup yang nyata.

Ia bukan lahir dari kemapanan. Ia dibentuk oleh keterbatasan.

Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatannya.

 

Kemungkinan yang Tidak Pernah Mati

Kisah Syandri adalah pengingat sederhana, bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa cepat seseorang sampai di tujuan, tetapi seberapa jauh ia mampu bertahan di perjalanan.

Dari seorang pemuda yang bekerja sejak dini, pernah kehilangan kenyamanan, hingga tidur di atas lantai tanah, ia kini berdiri di ambang kepemimpinan sebuah organisasi besar.

Perjalanan itu belum selesai.

Namun satu hal sudah jelas, kemungkinan selalu ada, bahkan dari tempat yang paling sederhana sekalipun.

Dan bagi Syandri Samsuddin, kemungkinan itu kini mengarah pada satu panggung baru, KKSS Kalimantan Timur.