KALTIMNEWS.CO - Dalam lanskap organisasi kedaerahan yang kerap diwarnai janji dan wacana, program konkret menjadi pembeda yang sulit diabaikan. Itulah yang kini mulai melekat pada sosok H Muhammad Nasir, lewat inisiatif mudik gratis bagi warga KKSS.
Program ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia lahir dari realitas sederhana: banyak warga perantau Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur yang ingin pulang kampung, namun tertahan oleh biaya transportasi yang tidak kecil. Di titik inilah, gagasan tersebut menemukan relevansinya.
Wakil Ketua I Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR), Dr. Dra. Hj Husnia Achmad, melihat langkah ini sebagai bentuk empati yang diterjemahkan dalam aksi nyata.
“Gagasan H Nasir ini patut diapresiasi. Banyak warga kita yang ingin pulang kampung atau sebaliknya, tetapi terkendala biaya,” ujarnya.
Pernyataan Husnia tidak sekadar apresiasi personal. Ia merepresentasikan pandangan yang lebih luas bahwa kepemimpinan di organisasi sosial seperti KKSS membutuhkan pendekatan yang membumi, bukan hanya retorika tetapi solusi.
Program mudik gratis rute Samarinda Parepare pergi pulang (PP) yang kini berjalan rutin menjadi contoh konkret bagaimana sebuah gagasan sederhana bisa berdampak langsung. Meski masih dalam skala terbatas, kehadirannya telah membuka akses bagi warga yang sebelumnya kesulitan menjangkau kampung halaman.
Dalam kacamata yang lebih luas, program ini juga mencerminkan pergeseran ekspektasi publik terhadap figur pemimpin. Tidak lagi cukup dengan popularitas atau jaringan, tetapi juga kemampuan menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung.
Husnia menilai, jika inisiatif seperti ini diperluas dengan dukungan organisasi, maka dampaknya bisa jauh lebih besar.
“Program seperti ini sangat menyentuh. Kalau dikembangkan, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” katanya.
Di tengah dinamika menuju Musyawarah Wilayah KKSS Kaltim, apresiasi terhadap program Nasir menjadi indikator penting. Bahwa pertarungan gagasan mulai bergeser dari sekadar narasi menuju pembuktian.
Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan di organisasi berbasis kekeluargaan seperti KKSS bukan hanya soal siapa yang terpilih, tetapi siapa yang paling mampu menjawab kebutuhan anggotanya. Dalam konteks itu, program mudik gratis telah menjadi lebih dari sekadar layanan, melainkan pesan tentang arah kepemimpinan yang ditawarkan. (rif/kaltimnews.co)