Skip to content

Menghidupkan Berkah: Dari Masjid, Berbagi Nasi Kuning, Hingga Menjalin Ukhuwah

Dipublikasikan: 01 May 2026, 13:44
Menghidupkan Berkah: Dari Masjid, Berbagi Nasi Kuning, Hingga Menjalin Ukhuwah

KALTIMNEWS.CO – Fajar belum lama menyingsing. Udara pagi masih sejuk ketika warga mulai berdatangan dari berbagai sudut kawasan. Ada orang tua, ibu rumah tangga, pemuda, hingga anak-anak yang sejak pagi telah menunggu dengan penuh antusias. Mereka berkumpul bukan hanya untuk menerima nasi kuning gratis, tetapi menyambut sebuah gerakan kebaikan yang perlahan menjadi tradisi penuh makna.

Program Gerakan Sholat Subuh Berjamaah (GSSB) yang digagas H Muhammad Nasir kembali mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Setiap Jumat pagi, kegiatan ini menghadirkan semangat ibadah, kepedulian sosial, dan kebersamaan dalam satu rangkaian yang sederhana namun menyentuh hati.

Seusai menunaikan sholat subuh berjamaah, ratusan porsi nasi kuning dibagikan kepada warga serta kaum masjid di sejumlah wilayah. Wajah-wajah sumringah tampak menghiasi pagi itu. Bagi sebagian orang, mungkin itu sekadar sarapan gratis. Namun bagi banyak lainnya, itu adalah simbol kepedulian dan bukti bahwa kebaikan masih tumbuh di tengah masyarakat.

Bagi H Muhammad Nasir, kegiatan ini bukan sekadar berbagi makanan. Lebih dari itu, GSSB adalah upaya membangun ritme kehidupan yang dimulai dari subuh waktu yang dalam Islam dikenal sarat keberkahan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap pagi dua malaikat turun ke bumi. Satu malaikat berdoa, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang bersedekah.” Sementara malaikat lainnya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi pengingat bahwa sedekah di pagi hari bukan hanya amal sosial, tetapi juga jalan pembuka rezeki dan keberlimpahan dari Allah SWT. Karena itu, membagikan makanan selepas subuh memiliki nilai istimewa. Ia memadukan dua ibadah sekaligus: menjaga sholat berjamaah dan memberi manfaat kepada sesama.

Para ulama juga menjelaskan besarnya keutamaan waktu pagi. Ibnu Taimiyyah mengibaratkan dzikir dan ibadah di waktu pagi sebagai sumber kekuatan utama seorang Muslim dalam menjalani hari. Siapa yang menjaga awal harinya dengan mengingat Allah, maka sisa harinya akan lebih terarah, tenang, dan penuh penjagaan.

Pesan itu terasa sangat relevan di masa kini. Di tengah kesibukan dan rutinitas yang serba cepat, banyak orang memulai hari dengan tergesa-gesa, sibuk mengejar urusan dunia, tetapi lupa menata jiwa. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kemenangan hari dimulai sejak subuh.

Gerakan Sholat Subuh Berjamaah menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu hadir lewat mimbar atau ceramah panjang. Kadang ia hadir lewat saf sholat yang rapat, senyum hangat, dan sebungkus nasi kuning yang dibagikan dengan ikhlas.

Menariknya, usai melaksanakan pembagian makanan, para peserta yang tergabung dalam GSSB kemudian melanjutkan kebersamaan dengan santap pagi bersama di Warung Sop Saudara, kawasan Karang Paci, Samarinda.

Di tempat itu, suasana kekeluargaan terasa begitu hangat. Obrolan ringan, canda tawa, hingga diskusi seputar kegiatan sosial dan keumatan mengalir akrab di antara para peserta. Momen sederhana itu menjadi penutup indah setelah rangkaian ibadah dan aksi berbagi sejak waktu subuh.

Dalam tradisi Islam, makan bersama bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga mempererat ukhuwah. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk makan bersama karena di dalamnya terdapat keberkahan. Ketika para sahabat mengadu bahwa mereka makan namun belum merasa kenyang, Nabi SAW bersabda, “Berkumpullah kalian saat makan, sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberkahi makanan kalian.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Beliau juga bersabda, “Makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Hadis ini menunjukkan bahwa kebersamaan dalam makan menghadirkan kecukupan, keberkahan, dan rasa persaudaraan yang tidak selalu diukur dari banyaknya hidangan.

Dari meja makan sederhana itulah tumbuh rasa persaudaraan, saling mengenal, menguatkan silaturahmi, serta menyalakan semangat untuk terus menebar manfaat di tengah masyarakat.

GSSB menghadirkan pesan penting bahwa ibadah bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dengan Allah, tetapi juga menghadirkan kehangatan sosial di tengah masyarakat. Dari masjid, jalanan, hingga meja makan, semua menjadi ruang untuk menumbuhkan kebaikan.

Di Samarinda pagi itu, bukan hanya nasi kuning dan sop hangat yang tersaji. Lebih dari itu, hadir semangat persatuan, kepedulian, dan harapan bahwa masyarakat yang kuat selalu lahir dari subuh yang diberkahi.

Sebab sejatinya, keberkahan bukan semata tentang banyaknya harta, tetapi hati yang tergerak bangun di waktu subuh, lalu melangkah menebar manfaat bagi sesama. (rif/kaltimnews.co)