KALTIMNEWS.CO – Di tengah memanasnya bursa Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur, Andi Saharuddin mulai membuka arah besarnya. Bukan sekadar maju sebagai kandidat, ia membawa narasi yang lebih dalam: mengubah KKSS dari organisasi seremonial menjadi kekuatan nyata yang terasa bagi anggotanya.
Visi yang diusung Andi terdengar ambisius sekaligus menantang. Ia ingin menjadikan KKSS sebagai kekuatan besar yang solid, mandiri, dan benar-benar hadir sebagai “rumah bersama” yang bergerak dan menyejahterakan seluruh warganya.
Dalam kontestasi yang selama ini kerap diwarnai janji normatif, pendekatan Andi mencoba memotong pola lama. Ia menekankan satu hal: organisasi harus hidup, bukan hanya ada.
Dari Solidaritas Simbolik ke Aksi Nyata
Salah satu titik tekan utama adalah soal solidaritas. Andi menilai, selama ini semangat kebersamaan di banyak organisasi sering berhenti di slogan.
Ia ingin mengubahnya menjadi sistem yang responsif dan terasa langsung. KKSS, dalam visinya, harus hadir saat anggota membutuhkan cepat, konkret, dan tidak berbelit.
“Solidaritas itu harus dirasakan, bukan hanya diucapkan,” menjadi garis tegas dari arah kebijakan yang ia tawarkan.
Pendekatan ini menyasar kebutuhan paling dasar anggota: rasa memiliki dan kepastian bahwa organisasi benar-benar berdiri di belakang mereka.
Mengakhiri Era Wacana
Isu lain yang diangkat adalah soal janji yang tak kunjung terwujud. Andi secara eksplisit menyinggung pentingnya mengubah budaya “wacana” menjadi eksekusi.
Salah satu target konkret yang ia dorong adalah pembangunan sekretariat bersama sebagai pusat gerakan KKSS. Bagi Andi, sekretariat bukan sekadar simbol, tetapi jantung organisasi tempat pelayanan, konsolidasi, dan penggerak program.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa ia ingin menghadirkan ukuran keberhasilan yang jelas: bukan pada banyaknya rencana, tetapi pada apa yang benar-benar selesai dikerjakan.
Satu Komando, Dampak Langsung
Dalam skala yang lebih luas, Andi menyoroti persoalan klasik organisasi besar: terfragmentasinya kekuatan. Ia menawarkan konsolidasi penuh antara BPD, pilar, dan badan otonom dalam satu arah gerak.
Tujuannya sederhana namun krusial, menghasilkan program sosial dan ekonomi yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh warga KKSS.
Model ini menempatkan organisasi bukan hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai mesin pemberdayaan.
Narasi Perubahan, Bukan Sekadar Pergantian
Yang membedakan Andi dari kandidat lain terletak pada positioning yang ia bangun. Ia tidak memosisikan diri sekadar sebagai pemimpin administratif, melainkan sebagai penggerak perubahan.
“Saya hadir bukan untuk sekadar memimpin, tetapi untuk menggerakkan. Bukan memperpanjang rutinitas, tetapi membawa perubahan,” demikian garis narasi yang ia dorong.
Pendekatan inklusif dan berbasis kerja nyata menjadi fondasi. Ia ingin memastikan KKSS kembali menjadi rumah besar yang hidup, kuat, dan memberi manfaat lintas generasi. (rif/kaltimnews.co)