Skip to content

Kartini UMKM, dari Desa Selerong Kutai Kartanegara

Mulai Usaha dari Otodidak, Tetap layani Pesanan di Tengah Pendemik Corona

Dipublikasikan: 17 Apr 2020, 12:53
Kartini UMKM, dari Desa Selerong Kutai Kartanegara
Juliana Pemilik handmade 3R, yang kini tetap melayani para konsumennya di tengah pendemik Covid-19 -- www.kaltimnews.co / Foto: Redaksi kaltimnews.co

KALTIMNEWS.CO, Kukar – Tinggal dirumah ditengah pendemik Covid-19 melada wilayah Indonesia, ternyata tidak menyurutkan semangat para usahawan khususnya Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) di Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk tetap berusaha.

Juliana (35) misalnya, Warga Jl Hadil Yusuf No 10, RT 02 Desa Selerong, Sebulu, Kukar yang merupakan Pengusaha kerajinan tangan Tali kur ini mengaku, jika hingga sekarang ini tetap melakasanakan usaha kerajian yang ia tekuni sejak 2015 silam.

juliana-handmade

Desain By Arief Kaseng kaltimnews.co

“Iya saya masih tetap terus melayani pesanan konsumen, berupa sandal, tas hadphone (Hp), Tas Ransel dan berbagai macam jenis lainnya,” ujar Juliana kepada kaltimnews.co, Kamis (16/4/2020) malam.

Meski tidak sebanyak pesanan yang ia layani namun Ibu dari 3 orang anak ini mengaku, jika usaha yang dia tekuninya itu hingga kini bisa membantu roda ekonomi keluarganya. Dirinya menyebut kebanyakan pesanan yang dilayaninya itu dari media social namun tidak sedkit juga konsumennya berasal dari warga desa sekitar.

Baca Juga: 

https://www.kaltimnews.co/posts/view/751/angka-kesembuhan-covid-19-di-kukar-100-persen.html

https://www.kaltimnews.co/posts/view/750/wow-di-kaltim-ada-posko-covid-19-diatas-air.html

https://www.kaltimnews.co/posts/view/748/5-hari-ibu-pkk-desa-muara-enggelam-bisa-produksi-1-000-masker.html 

“Rata-rata yang memesan itu dari Facebook, namun tidak sedikit juga dari warga sekitar, dan di tengah pendemik Corona ini, pesanan agak sedikit berkurang berbeda dengan hari sebelumnya,” sebutnya.

Dalam memulai usaha, Juliana mengaku tidak mengeluarkan dana awal yang begitu besar. “Usaha ini sebenarnya saya kerjakan tanpa pelatihan dan keahlian khusus seperti sebagian orang, saat memulai usaha saya mengeluarkan modal awal sekira Rp 200 ribu, untuk membeli bahan kebutuhan, seperti tali kur, aksesoris dan pernak pernik,” kata Juliana.

Juliana mengaku jika ketertarikan dirinya untuk membuat keajinan tangan itu berawal dari salah satu temannya yang mengajaknya bergabung di salah satu group Facebook. “Saat masuk gabung saya melihat berbagai macam yang dijual di group itu, termasuk beberapa cara pembuatan kerajinan yang bisa diolah dari dalam rumah,” imbuhnya.     

Gayung bersambut, saat Yuliana menyelesaikan karya perdananya yang kemudian ia jajakan di group tersebut, ternyata mendapat respon positif dari warga net dan warga sekitar. “Awalnya saya membuat kerajinan tangan tas Hp, tanpa saya duga ternyata banyak yang peminat, dari situ saya mulai melayani berbagai pesanan yang datang,” katanya.

Dalam proses pengerjaanya ibu dari tiga anak ini, memerlukan waktu beberapa hari, tidak sedikit kata dia, jika pesanannya rumit dan ber ukuran besar, dalam satu pesanan bisa mencapai waktu seminggu hingga 15 hari pengerjaan. “Untuk jenis tas HP saja, itu memerukan waktu 3-5 hari pengerjaan, tapi itu tergantung dari tingkat kesulitan pesanan juga, kalau agak rumit bisa lebih dari pada itu,” jelasnya.

Juliana mengaku jika mendapat pasokan bahan baku dari berbagai lokasi. “Bahan baku utama seperti tali kur, saya dapat dari wilayah samarinda seberang, kalau yang lain seperti aksesoris saya pesannya macam-macam biasa di samarinda, tenggarong, bahkan Jakarta, dan Jawa, semuanya dengan system online,” bebernya.

Terkait harga, Juliana mengatakan jika harga yang ia patok berdasarkan dari tingkat kerumitan pesanan. “Tergantung dari motif dan tingkat kerumitan pesanan, seperti contoh tas ransel pesanan konsumen saya dari Jakarta, itu harganya hingga Rp 370 ribu, namun ada juga yang harganya hanya Rp 50 ribu seperti tas Hp, maupun sandal, selain ukurannya yang kecil tingkat pengerjaannya juga tidak terlalu rumit,” sebutnya.

Untuk proses pengiriman, Juliana mengaku jika hingga kini pesanan yang ia terima dari luar daerah, dikirim menggunakan jasa ekspedisi. “Sebelum ada kantor cabang di desa tetangga, saya bersama suami harus ke Tenggarong dulu, itu sekitar 90 menit dari tempat saya jika cuaca kemarau, namun saat hujan bisa lebih daripada itu, lantaran kondisi jalan di tempat saya masih belum tersentuh dengan pembangunan jalan,” terangnya.

Namun dirinya mengaku terbantu dengan hadirnya kantor cabang ekspedisi di desa tetangganya yakni Desa Tratak dengan hadirnya itu dirinya tidak perlu lagi bersusah payah harus ke ibukota Kukar tersebut untuk mengirimkan paket pesanan.  “Kini sudah sedikit terlayani dengan adanya ekspedisi di Desa Tratak, jadi tidak seperti dulu lagi, harus ngantarin barang ke kantor ekspedisi di Tenggarong, dengan hadirnya jasa ekspedisi di Desa Trata, sedikit tidaknya ikut membantu utamanya dari efiseiensi waktu, dalam melayani pesanan antar pulau,” jelasnya.

Kelihaian tangan Juliana dalam membuat kerajinan tangan, mengunggah minat pesanan sejumlah warga sekitar ikut menggunakan jasanya, sebut daur ulang sandal bekas, ditangan Juliana sandal bekas tersebut bisa berubah menjadi sandal yang cantik dan layak pakai. Hal ini yang membuat Juliana mendapatkan peminat berupa reseller ditahun 2019 kemarin. Meski tidak berlangsung lama lantaran reseller yang sering memesan lusinan hasil pekerjaannya ikut membuat hal serupa.

“Sempat tahun 2019 kemarin, mendapat reseller, saat itu pesanan banjir lantaran orderan nya banyak, namun hal itu tidak berlangsung lama, lantaran reseller saya membidik usaha serupa,” bebernya.

Kendati memiliki banyak pesanan, namun kata Juliana hingga sekarang ini pekerjaan yang dikerjakan secara otodidak tanpa kursus keahlian tersebut, belum mampu membangkitkan usaha yang ia rintis sejak 4 tahun silam. Hal inilah yang juga menjadi dasar bagi dia, untuk menurungkan niatnya membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar, lantaran omset yang didapatkan masih digunakan untuk menjadi modal usaha.

“Masalahnya di modal usaha, sebagai pelaku usaha kecil seperti kami ini masih berkutik kepada keuntungan yang diputar menjadi modal lagi, ditambah dengan harga bahan baku yang tidak tetap lantaran saya beli secara eceran, itu sangat berpengaruh pada usaha seperti ini.,” beber Juliana

Dirinya berharap kedepan usaha seperti kerjainan tangan yang ia lakoni tersebut akan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat. “yang paling dibutuhkan adalah peran serta pemerintah dalam berbagai hal seperti pemberian bantuan modal usaha berupa KUR yang dikelola oleh pemerintah setempat maupun pemberian pelatihan skil oleh pemerintah setempat layaknya beberapa desa lain, karena saya yakin apabila usaha ini di kembangkan tidak menutup kemungkinan daerah ini akan berkembang dari sisi UMKM nya,” terang Juliana. (*)