Skip to content

Kenali Hoax Berikut Ciri-cirinya

4 Ciri Utama Berita Bohong Masyarakat Diminta Cerdas Dalam Bermedsos

Dipublikasikan: 31 Oct 2020, 01:00
ADVERTORIAL
Kenali Hoax Berikut Ciri-cirinya
Plt Kepala Dinas Kominfo Kaltim, Didy Rusdiansyah (kiri) menggunakan baju tangkal hoax -- www.kaltimnews.co / Foto: Istimewa

KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Keberadaan dunia maya atau yang lazimnya disebut dengan sosial media dierra sekarang ini tentunya menjadi salah satu sarana interaksi sosial antara satu manusia dan manusia lainnya.

Sejumlah manfaatpun kian dirasakan warga, aktifitas jual beli misalnya yang dulunya hanya system tradisonal kini sebagian besar beralih menggunakan system online, begitu pula dengan keberadaan moda transportasi yang yang kni mulai menggunakan basis aplikasi.

Namun terlepas dari segala itu kehadiran social media juga diikuti dengan penyebaran berita hoax atau berita bohong. Keberaddan berita bohong ini sendiri cenrung lebih cepat berkembang dan beredar di kalangan masyarakat. Atas hal ini pemerintah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur (Diskominfo Kaltim) terus melakukan berbagai aksi guna mencegah penyebaran berita hoax tersebut.

Sistem Analisis Data dan Informasi yang Terintegrasi di Pemerintahan (ANDA INTIP) misalnya, system yang dibuat oleh pihak Diskominfo Kaltim ini di yakini dapat menghubungkan berbagai sistem informasi utuh dan terintegrasi secara elekronik. Namun terlebih dari itu kesadaran masyarakat tetnag pentingnya mengenal berita hoax ini. Lantas bagai mana mengenali berita bohong atau hoax ini.

Kepada media ini Plt Kepala Dinas Kominfo Kaltim, Didy Rusdiansyah mengatakan berbagai ciri-ciri berita hoax atau bohong.

“Yang pertama Identitas penyebar info tidak jelas, oleh karenanya masyarakat harus mengetahui sumber informasi atau medianya jelas atau tidak identitasnya, terkadang media yang tidak jelas sumbernya ini cenderung mengeksploitasi fanatisme SARA," katanya.

Adapun selanjutnya kata dia berita yang disajikan oleh media tersebut tidak mengandung kaedah jurnalistik selayaknya media pada umunya yakni berita yang disajikan tidak mengandung unsur 5W+1H

“Selain itu, suatu informasi juga diduga sebagai hoaks jika pesannya tidak mengandung 5W+1H lengkap, seperti, what (apa), when (kapan), who (siapa), why (mengapa), where (di mana), dan how (bagaimana),” ujarnya.

Lebih lanjut kata dia kecendrerungan berita bohong yakni Minta berita tersebut disebarluaskan ke halayak ramai.

“Ciri lain berita hoaks adalah pihak yang menyebarkan informasi meminta info tersebut disebarluaskan semasif mungkin. Pesan hoaks dirancang untuk menciptakan kecemasan, kebencian, kecurigaan atau ketidakpercayaan hingga permusuhan," imbuhnya.

Selain itu kata pria yang kerap disapa Didy ini berita hoax lebih menyasar kalangan tertentu

“Hoaks diproduksi untuk menyasar kalangan tertentu mereka yang menjadi target antara lain, masyarakat mayoritas dan orang perkotaan. Dibandingkan masyarakat yang tinggal di desa, orang kota lebih mudah diserang hoaks karena mereka lebih akrab dengan penggunaan media sosial. Masyarakat yang berpendidikan lebih banyak terkena hoaks, begitu pula dengan masyarakat yang beragama fanatik, oleh karenanya kami meminta masyarakat untuk lebih cerdas dalam bermedsos, jangan share berita yang tidak jelas kebenarannya," pungkasnya (*)