Skip to content

Tak Dilirik Investor, KEK Maloy Diusulkan Ditutup Saja

Komisi II Penasaran Apakah Direksi KEK Maloy Dapat Gaji Meski Belum Beroperasi

Dipublikasikan: 04 Feb 2020, 18:59
Tak Dilirik Investor, KEK Maloy Diusulkan Ditutup Saja
Komisi II gregetan dengan kondisi KEK Maloy Kutim. Sudah terbangun, tanpa fasilitas, dan tak dilirik investor. Opsi ditutup pun mengemuka -- www.kaltimnews.co / foto : ahmadi

KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Dibangun sejak 2012 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy di Kabupaten Kutai Timur, belum juga beroperasi.

Padahal kawasan ini diharapkan menjadi kawasan industry dan pelabuhan Internasional yang bermuara pada terdongkraknya sumber PAD Kaltim. Apalagi, terdapat beberapa anak perusda MBS (Melati Bhakti Satya) yang sampai saat ini pun juga belum bisa beroperasi disana.

Adalah PT. Maloy Batuta Trans Kaltim, PT. Kaltim Kawasan Industri Maloy dan PT. Kaltim Pelabuhan International Maloy yang merupakan anak perusahaan MBS, yang sampai saat ini tak juga berfungsi optimal. Apalagi menghasilkan.

Menindaklanjuti, Rapat Dengar Pendapat (RDP) digelar Komisi II DPRD Kaltim dengan menghadirkan Direktur Utama MBS, Agus Dwitarto, di gedung E lantai kantor DPRD Kaltim, Selasa (4/2/2020).

“Kawasan itu (KEK Maloy) tidak diminati investor. Jaraknya terlalu jauh, fasilitas penunjang juga tidak lengkap. Itulah yang menjadi salah satu faktornya,” ucap Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu.

Menurutnya, meski dengan niatan yang baik, pemerintah terlalu cepat menginvestasikan duit disana, tanpa diukungan fasilitas, susah membuatnya dilirik menjadi Kawasan industry.  

Opsi untuk membubarkan tiga anak perusahaan itu mengemuka. “Ada opsi lain, jika anak perusahaan dibubarkan. MBS bias mengelola langsung.

Tetapi ia menekankan, bila terkondisi begitu, harus dipikirkan anggaran yang harus dikucurkan lagi untuk membangun fasilitasnya.

“Atau sekaligus ditutup, Itu saja pilihannya,” lugasnya.

Senada, anggota Komisi II, Sutomo Jabir menanggapi bahwa fasilitas penunjang seperti SPAM air, listrik, maupun jalan pendekat menuju ke kawasan KEK Maloy belum tersedia, sehingga hal inilah yang menjadi alasan mengapa sampai sekarang KEK Maloy belum bisa menarik investor.

Bahkan menurut informasi, sampai saat ini, tidak ada aktivitas disana. Padahal, menurut penuturan MBS, ada anggaran sekitar 500 juta untuk melakukan perbaikan kantor maupun menyiapkan fasilitas penunjang seperti air dan listrik.

Komisi II juga penasaran apakah selama ini anggaran gaji direktur MBS yang juga merangkap sebagai direktur di dua anak perusahan di KEK Maloy ini terus dikucurkan dengan kondisi belum bisa beroperasi.

“Masalah adanya gaji direksi atau tidak, tadi sudah saya minta RKAP MBS, rencananya Kamis atau jum’at akan diserahkan.” katanya.(*/amd)