
KALTIMNEWS.CO, Kukar – Komuditi udang black tiger di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar), Kaliamantan Timur (Kaltim) hingga saat ini masih menjadi primadona pasar, hal tersebut terbukti dari dari jumlah 189 ribu ton produksi nelayan 40 ribu ton nya merupakan komuditi udang windu (Balck Tiger).
Bahkan saat pendemi Covid-19, jenis komuditi ini tidak mengalami penurunan produksi, demikian yang di sampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kukar, Dadang S. Supriatman, saat ditemui kaltimnews.co pada acara pemberian bantuan bagi Kontak Tani Nelayan (KTNA) di Kecamatan Muara Badak, Selasa (5/8/2020) siang.
“Sekitar 40 ribuan hasil produksi kita merupakan udang windu atau Udang Black Tiger yang yang memang hingga sekarang masih menjadi primadona pasar ekspor,” ujar Dadang.
Terkait negara tujuan, Dadang menyebutkan jika udang black tiger tersebut diekspor ke sejumlah negara besar.
“Jepang, Malaysia, Singapura, Amerika serta Uni Eropa merupakan distinasi favorit dari ekspor udang jenis ini,” sebutnya.
Dalam pengirimannya sendiri, udang black tiger ini terbagi atas dua kategori, dalam bentuk mentah dan sebagiannya lagi dalam bentuk setengah jadi.
Dirinya juga menyebutkan dalam proses ekspor tersebut pihaknya mengandeng PT Sang Surya Mandiri yang berada di wilayah Sungai Meriam.
“Memang kita tidak menapik selam pendemi terjadi penurunan akan tetapi bukan pada sisi produksi, melainkan hanya dari sisi penjualan hal ini dikarenakan adanya pembatasan di sejumlah negara terkait persoalan ekspor Impor,” urai Dadang.
Terkait harga untuk komuditi ini, untuk sekarang ini berkisar antara Rp 150 Ribu hingga Rp 200 ribu per Kilogram (Kg) nya.
“Harga tertinggi di tahun 1997 silam, saat itu harga undang jenis ini menebus angka Rp 250 ribu per Kg nya,” sebutnya.
Dikatakan Dadang, dalam setahun Kukar mendapatkan imbas bagi hasil dari sector perikanan. “Untuk tahun ini angkanya sekira Rp 400 juta yang merupakan dana bagi hasil dari pajak ekspor, dan bukan hanya tahun ini saja melainkan setiap tahun,” tutup Dadang. (*)