KALTIMNEWS.CO — Persoalan penerimaan siswa SMA berbasis zonasi kembali memicu keluhan warga Samarinda. Dalam agenda reses Ketua Fraksi Golkar DPRD Samarinda, Andi Saharuddin, warga Kelurahan Baqa mengaku anak-anak mereka kerap gagal masuk sekolah negeri meski tinggal di sekitar kawasan sekolah.
Keluhan itu mencuat saat reses Andi Saharuddin di Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang, yang dihadiri sekitar 100 warga.
Ketua RT 010 Kelurahan Baqa mengatakan persoalan zonasi hampir selalu muncul setiap tahun ajaran baru. Menurutnya, banyak anak warga tidak tertampung di SMA negeri meski lokasi tempat tinggal mereka tergolong dekat dengan sekolah tujuan.
“Setiap tahun masalah ini selalu muncul. Banyak anak-anak kami justru tidak tertampung meski domisilinya dekat,” ujarnya di hadapan forum reses.
Warga menilai sistem zonasi yang diterapkan belum sepenuhnya memberi rasa keadilan bagi masyarakat di lingkungan sekitar sekolah.
Mereka berharap pemerintah dapat mengevaluasi mekanisme penerimaan siswa agar anak-anak yang tinggal dekat sekolah negeri tidak kehilangan akses pendidikan.
Menanggapi hal tersebut, Andi Saharuddin menegaskan persoalan pendidikan menjadi salah satu aspirasi utama yang akan diperjuangkan DPRD Samarinda.
Ia menyebut akses pendidikan merupakan hak dasar masyarakat yang harus dijamin pemerintah.
“Masalah zonasi ini menyangkut hak pendidikan anak-anak kita. Aspirasi warga Baqa akan kami sampaikan agar ada solusi yang lebih adil dan tidak merugikan masyarakat,” kata Andi.
Menurutnya, DPRD akan mengomunikasikan persoalan tersebut kepada pihak terkait agar ditemukan solusi yang lebih berpihak kepada masyarakat tanpa mengabaikan aturan yang berlaku.
Andi juga memastikan seluruh aspirasi warga dalam agenda reses akan dikawal agar tidak berhenti hanya pada pembahasan forum.
“Reses bukan hanya mendengar, tetapi memastikan persoalan masyarakat benar-benar ditindaklanjuti,” ujarnya. (*/adv/rif/kaltimnews.co)