Skip to content

Dari Kampus ke Sumur Migas, Cara Pertamina EP Cetak Talenta Energi Masa Depan

Dipublikasikan: 30 Apr 2026, 17:12
Dari Kampus ke Sumur Migas, Cara Pertamina EP Cetak Talenta Energi Masa Depan

KALTIMNEWS.CO — Di tengah tuntutan transisi energi dan kebutuhan menjaga produksi nasional, industri hulu migas tak hanya bicara soal lifting dan cadangan. Di lapangan, kolaborasi pendidikan–industri justru menjadi kunci menyiapkan talenta baru. Itulah yang tergambar dalam kunjungan 74 mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Migas Balikpapan ke Sangasanga sebuah potret kecil dari strategi besar penguatan SDM energi nasional.

Kunjungan edukatif ke fasilitas Pertamina EP Sangasanga Field pada 22 April 2026 bukan sekadar agenda akademik. Di balik observasi sumur produksi hingga fasilitas water injection, tersimpan pesan penting: industri migas Indonesia sedang berinvestasi pada manusia, bukan hanya pada teknologi.

Mahasiswa Teknik Perminyakan yang memasuki tahun ketiga itu diperkenalkan pada rantai produksi hulu dari sumur hingga stasiun pengumpul. Bagi industri, pendekatan ini menjadi jembatan krusial antara teori kampus dan realitas lapangan yang kompleks dan berisiko tinggi.

Assistant Manager Petroleum Engineer, Ivan Oriza Sativa, menegaskan bahwa keberlanjutan industri energi tak bisa dilepaskan dari kesiapan SDM. Adaptasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan menjadi kompetensi inti yang kini dicari perusahaan energi global maupun nasional.

Dalam perspektif ekonomi, langkah ini mencerminkan strategi jangka panjang sektor hulu migas dalam menjaga keberlanjutan operasional. Ketika tantangan seperti fluktuasi harga minyak, efisiensi biaya produksi, hingga tekanan transisi energi meningkat, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang tak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap perubahan.

Standar Industri dan Investasi SDM
Sebelum memasuki area operasi, peserta menjalani daily check up dan safety briefing. Prosedur ini menegaskan bahwa aspek Health, Safety, and Environment (HSE) bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama industri migas.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini memberi gambaran nyata tentang standar kerja industri. Bagi perusahaan, ini adalah bagian dari proses pembentukan budaya keselamatan sejak dini investasi non-finansial yang berdampak langsung pada efisiensi dan keberlangsungan operasional.

Dosen pembimbing, Markus Lumbaa, menyebut kolaborasi ini sebagai hubungan yang terus berkembang. Tidak hanya kunjungan, tetapi juga program kerja praktik dan magang yang membuka peluang transfer pengetahuan secara lebih mendalam.

Efek Berganda bagi Ekonomi Daerah
Kegiatan semacam ini juga memiliki efek ekonomi tidak langsung. Dengan memperkuat kompetensi tenaga lokal, industri migas di Kalimantan Timur berpotensi mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja dari luar daerah, sekaligus meningkatkan daya saing regional.

Lebih jauh, pendekatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan local content dan kualitas SDM nasional di sektor strategis.

Dari CSR ke Talent Pipeline
Manager Communication Relations & CID Pertamina Hulu Indonesia, Dony Indrawan, menegaskan bahwa program edukatif ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun dalam praktiknya, langkah ini juga menjadi strategi membangun talent pipeline jangka panjang.

Program magang dan kerja praktik yang rutin digelar menjadi jalur awal bagi perusahaan untuk mengenali dan menyiapkan calon tenaga kerja potensial. Dalam lanskap industri yang semakin kompetitif, pendekatan ini memberi keunggulan strategis.

Kunjungan mahasiswa ke lapangan migas mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, tersimpan narasi besar tentang masa depan energi Indonesia: bahwa keberlanjutan industri tidak hanya ditentukan oleh cadangan migas, tetapi oleh kualitas manusia yang mengelolanya. (*/rif/kaltimnews.co)