KALTIMNEWS.CO — Di tengah tekanan global menuju energi bersih, langkah PT Pertamina EP Sangatta Field menanam ratusan pohon di Kutai Timur bukan sekadar seremoni. Ini sinyal tegas: industri migas mulai menggeser arah, dari eksploitasi menuju investasi hijau.
Momentum Hari Bumi 2026 dimanfaatkan PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field untuk memperkuat pijakan bisnis energi berkelanjutan. Sebanyak 333 pohon ditanam di area operasi ST-220, Sangatta Selatan sebuah langkah yang memadukan agenda lingkungan dengan kepentingan strategis industri.
Di tengah tuntutan standar global Environmental, Social, and Governance (ESG), aksi ini tak lagi bisa dibaca sebagai kegiatan simbolik. Penghijauan kini menjadi bagian dari strategi korporasi alat menjaga keberlanjutan operasi sekaligus merawat reputasi di mata publik dan investor.
Pilihan jenis pohon pun tidak sembarangan. Trembesi, ulin, hingga meranti dipilih karena nilai ekologisnya. Trembesi, misalnya, dikenal memiliki kemampuan serap karbon tinggi menjadikannya “aset hijau” dalam agenda dekarbonisasi sektor hulu migas.
Pjs Field Manager PEP Sangatta Field, Radhintya Danas, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi upaya konkret membangun kesadaran kolektif sekaligus memastikan operasi migas tetap selamat, andal, dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Namun, Pertamina tidak berhenti pada penanaman pohon. Perusahaan juga mendorong perubahan perilaku melalui kampanye pengurangan sampah plasti mulai dari penggunaan botol minum pribadi hingga konsep kegiatan minim limbah. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga budaya.
Dukungan pemerintah daerah pun menguatkan arah ini. Camat Sangatta Selatan, Dewi, menyebut langkah Pertamina sebagai contoh konkret sinergi dunia usaha dalam menjaga lingkungan.
“Tidak semua memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata. Ini bukti kontribusi langsung,” katanya.
Di level korporasi, PT Pertamina Hulu Indonesia memastikan bahwa program ini bukan berdiri sendiri. Manager Communication Relations & CID, Dony Indrawan, mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir, grup perusahaan telah menanam lebih dari 600 ribu pohon di Kalimantan mulai dari mangrove hingga tanaman endemik.
“Perlindungan keanekaragaman hayati dan kesadaran lingkungan adalah fondasi masa depan energi Indonesia,” ujarnya.
Di tengah dorongan global menuju net zero emission, langkah ini mencerminkan perubahan penting dalam wajah industri energi: dari eksploitasi menuju konservasi berbasis bisnis, CSR ke investasi hijau strategis, serta operasional konvensional ke model berkelanjutan
Bagi sektor migas, perubahan ini bukan sekadar tuntutan moral, tetapi kebutuhan bisnis. Keberlanjutan kini menjadi faktor kunci dalam menarik investasi dan menjaga kepercayaan publik.
Apa yang dilakukan Pertamina di Kutai Timur menegaskan satu hal: transformasi energi tidak selalu dimulai dari proyek raksasa. Justru dari langkah sederhana yang konsisten yang pelan, tapi pasti, menentukan masa depan industri energi nasional. (*/rif/kaltimnews.co)