KALTIMNEWS.CO – Upaya menjaga ketahanan energi nasional terus diperkuat. PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil mencatat tonggak penting dalam pengembangan sektor hulu migas Indonesia setelah sukses menyelesaikan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu di perairan lepas pantai Kalimantan Timur.
Keberhasilan yang dicapai pada 27 Mei 2026 itu menjadi fase krusial dalam Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu, sebuah proyek strategis yang dikembangkan di kawasan South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan.
Pemasangan platform tersebut menandai keberhasilan rangkaian pekerjaan teknik berskala besar yang telah berlangsung sejak April 2026. Tahapan proyek dimulai dengan sail away jacket pada 8 April, dilanjutkan pengiriman dan sail away topside dari fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, hingga penyelesaian sail away final pada 30 April 2026.
Salah satu tantangan terbesar dalam proyek ini adalah proses heavy lifting, yakni pengangkatan dan pemasangan topside seberat sekitar 1.000 ton ke atas struktur jacket yang berada di tengah laut. Operasi berisiko tinggi tersebut berhasil dilaksanakan dengan presisi sesuai rencana melalui kolaborasi intensif antara tim proyek PHM, kontraktor, mitra kerja, dan berbagai pemangku kepentingan.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa proyek Manpatu merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus memperkuat investasi di sektor eksplorasi dan eksploitasi migas guna menjaga keberlanjutan produksi energi nasional.
“Di PHM, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan menjaga keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi dari wilayah Kalimantan untuk puluhan tahun mendatang,” ujar Setyo.
Menurutnya, keberhasilan pemasangan platform tidak hanya menjadi capaian teknis, tetapi juga bukti sinergi kuat antara PHM, induk perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), serta dukungan penuh dari SKK Migas.
“Keberhasilan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan proyek secara selamat, andal, dan sesuai target. Pencapaian ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan operasi dan mendukung peningkatan produksi migas nasional,” katanya.
Selama pelaksanaan proyek, PHM menerapkan pengawasan ketat, manajemen risiko yang terstruktur, serta budaya keselamatan kerja yang disiplin. Pendekatan tersebut memungkinkan seluruh pekerjaan berjalan dengan kinerja HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang baik tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
“Sepanjang pelaksanaan proyek, aspek keselamatan menjadi prioritas utama,” tambah Setyo.
Platform Offshore Manpatu nantinya akan menjadi fasilitas utama dalam mendukung produksi dan pengembangan lapangan migas di wilayah kerja Mahakam. Ketika mulai beroperasi pada kuartal pertama tahun 2027, proyek ini diproyeksikan mampu menghasilkan tambahan produksi gas hingga 80 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Angka tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total produksi gas Mahakam, menjadikannya salah satu kontribusi terbesar terhadap peningkatan pasokan energi nasional dalam beberapa tahun ke depan.
PHM kini bersiap memasuki tahapan lanjutan proyek yang meliputi pemasangan riser dan subsea spool, hook-up, hingga commissioning sebelum platform beroperasi penuh pada awal 2027.
Keberhasilan Proyek Manpatu semakin menegaskan posisi PHM sebagai salah satu tulang punggung industri hulu migas nasional sekaligus memperkuat peran Kalimantan Timur sebagai daerah strategis penghasil energi yang menopang kebutuhan Indonesia di masa depan. (rif/kaltimnews.co)