KALTIMNEWS.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Kota Samarinda. Di balik tujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, program nasional tersebut menyimpan potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, mengembangkan sektor pertanian, memperkuat UMKM, hingga meningkatkan perputaran ekonomi daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Samarinda masih berada di angka 5,31 persen. Angka tersebut menunjukkan masih ada ribuan warga usia produktif yang belum memperoleh pekerjaan tetap. Di sisi lain, Samarinda memiliki 263 Sekolah Dasar (SD), 103 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan sekitar 52 Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri maupun swasta yang berpotensi menjadi penerima manfaat Program MBG.
Dengan total 418 satuan pendidikan, kebutuhan bahan pangan setiap hari diperkirakan mencapai puluhan ton apabila seluruh sekolah telah masuk dalam cakupan program. Kondisi ini membuka peluang lahirnya rantai ekonomi baru yang melibatkan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, koperasi, hingga jasa distribusi.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Harminsyah, menilai kebutuhan dapur MBG harus menjadi momentum membangun kemandirian ekonomi daerah melalui pemanfaatan produk lokal.
"Program MBG jangan hanya dilihat sebagai program makan gratis. Ini adalah peluang ekonomi yang sangat besar. Kalau kebutuhan bahan bakunya dipenuhi oleh petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal, maka manfaat ekonominya akan dirasakan langsung oleh masyarakat Samarinda," ujarnya.
Menurut Harminsyah, sektor pertanian hortikultura menjadi salah satu bidang yang paling prospektif. Permintaan sayuran segar seperti bayam, kangkung, sawi, wortel, tomat, cabai, kacang panjang, dan berbagai komoditas lainnya akan berlangsung setiap hari seiring operasional dapur MBG.
Pola permintaan yang stabil tersebut memberikan kepastian pasar bagi petani. Berbeda dengan kondisi selama ini yang bergantung pada fluktuasi harga di pasar tradisional, petani berpeluang memperoleh kontrak pasokan jangka panjang sehingga lebih berani memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi.
Selain sayuran, kebutuhan beras, telur, ayam, ikan, buah-buahan, bumbu dapur, hingga susu juga diperkirakan meningkat secara signifikan. Setiap komoditas tersebut melibatkan mata rantai usaha yang panjang, mulai dari produksi, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi.
Harminsyah menjelaskan, efek berganda (multiplier effect) dari MBG jauh melampaui aktivitas memasak di dapur. Program ini membutuhkan tenaga kerja sebagai juru masak, ahli gizi, petugas kebersihan, administrasi, pengemasan makanan, sopir distribusi, hingga tenaga bongkar muat.
Di sektor hulu, peningkatan permintaan juga akan mendorong kebutuhan pekerja di lahan pertanian, peternakan ayam petelur, budidaya ikan air tawar, industri pengolahan pangan, serta usaha logistik.
"Kalau rantai pasoknya dibangun dari masyarakat lokal, maka setiap rupiah anggaran MBG akan berputar kembali di Samarinda. Itu berarti lebih banyak usaha tumbuh dan lebih banyak masyarakat yang memperoleh pekerjaan," kata Harminsyah.
Ia menilai Pemerintah Kota Samarinda perlu mulai memetakan kawasan pertanian yang dapat dikembangkan menjadi sentra produksi sayuran dan bahan pangan untuk mendukung kebutuhan dapur MBG. Lahan-lahan produktif maupun lahan tidur dapat dimanfaatkan melalui kelompok tani, koperasi, maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bermitra dengan dapur penyedia makanan bergizi.
Selain memperkuat sektor produksi, Harminsyah juga mendorong pelatihan bagi petani dan pelaku UMKM agar mampu memenuhi standar kualitas, keamanan pangan, serta kontinuitas pasokan yang dibutuhkan dalam program nasional tersebut.
Menurutnya, apabila seluruh rantai pasok mampu melibatkan pelaku usaha lokal, MBG dapat menjadi salah satu instrumen efektif untuk menekan angka pengangguran yang masih berada di level 5,31 persen sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Target akhirnya bukan hanya anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga tercipta ekosistem ekonomi baru yang menghidupkan pertanian, UMKM, koperasi, dan membuka kesempatan kerja yang berkelanjutan bagi masyarakat Samarinda," pungkasnya.
Di tengah tantangan perlambatan ekonomi dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja baru, MBG berpotensi menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan ratusan sekolah sebagai pasar yang pasti dan kebutuhan bahan pangan yang berlangsung setiap hari, program ini dapat menjadi penggerak investasi di sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri pengolahan pangan, serta jasa distribusi. Apabila dikelola secara terintegrasi, manfaat MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi generasi muda, tetapi juga membangun fondasi ekonomi lokal yang lebih kuat dan berkelanjutan. (rif/kaltimnews/co)