KALTIMNEWS.CO, Kukar – Sudah dua pekan masyarakat Indonesia tidak melakukan aktifitas masuk kantor seperti biasanya, program Work From Home (WFH) yang digagas pemerintah ini, dinilai sebagai salah satu cara dalam memangkas penyebaran Covid-19 di Indonesia.
Namun diluar dari pada itu, sejumlah masyarakat selayaknya pedagang, petani, nelayan, mulai mengeluh lantaran kebijakan ini, apatah lagi sejak adanya pemberlakuan social distancing yang membuat warga harus menjaga jarak, yang otomatis membuat sejumlah tempat keramaian selayaknya pasar, rumah makan, dan sejenisnya harus sepih dari pembeli.

Desain by Arief Kaseng/kaltimnews.co
Tidak sedikit para pegiat usaha ini kini melirik keberadaan aplikasi berbasis online, bukan hanya itu keberadaan kurir dan Ojek Online (Ojol) mulai dimanfaatkan warga dalam melaksankan tansaksi bisnisnya. Di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kukar misalnya, para pegiat usaha diwilayah ini kini memanfaatkan aplikasi Facebook dan Whatsapp (WA).
“Kami menyebutnya Pasar Online Kecamatan Anggana,” ujar Dedy Wahyudiansyah, yang tak lain merupakan pembina Usaha Kecil Menegah (UKM) Center, dan Kelopok Informasi Masyarakat (KIM) Kecamatan Anggana kepada kaltimnews.co, Senin (30/3/2020) siang.
Menurutnya Pasar Online Kecamatan Anggana itu, terbentuk secara spontan lantaran situasional yang mengharuskan kebanyakan orang harus melaksakan kegiatan di dalam rumah. “Himbauan pemerintah untuk di rumah saja, membuat sebagian masyarakat disini kemudian bingung untuk memasarkan dagangannya, oleh karena itu kami bersama dengan teman-teman di KIM membentuk komunitas Pasar Online Kecamatan Anggana ini,” jelas Dedy.
Sebelum beranggotakan ratusan seperti sekarang ini, awalnya kata dia, jumlah anggota yang ikut dalam Pasar Online Kecamatan Anggana tersebut hanya berjumlah dua puluh orang saja, dari dua puluh orang ini kemudian bertugas mengumpulkan sejumlah data kongkrit terkait jumlah pedagang, dan komunitas yang mengerti dan bisa ikut serta dalam program Pasar Online Anggana tersebut.
“Dibentuk secara autodidak dan situasional, namaun berkat kerja keras teman teman KIM Kecamatan Anggana dalam memberikan informasi kepada masyarakat terkait keberadaan pasar Pasar Online Kecamatan Anggana ini, Alhamdulillah, kini masyarakat sudah menggunakannya dengan baik,” lanjut pria yang menjabat sebagai Kasi Kesra dan sosial di Kantor Kecamatan Anggana ini.
Dikatakan Dedy, ada tiga desa yang tidak bisa menikmati Pasar Online Kecamatan Anggana ini, tiga desa tersebut yakni, Desa Sepatin, Desa Tani Baru, Desa Muara Pantuan.
“Desa yang paling jauh dari kantor Kecamatan Anggana adalah Desa Sepatin yang berjarak 79 km, kemudian Desa Tani Baru berjarak 61 km dan Desa Muara Pantuan yang berjarak 41 km, ketiga desa ini tidak bisa dilakukan pengantaran oleh kurir lantaran keberadaan tiga desa ini di kepulauan dan hanya bisa diakses melalui transportasi kapal dan perahu,” jelasnya.
Meski keberadaan Pasar Online Kecamatan Anggana sudah menjadi barang konsumtif masyarakat Anggana, namun pihaknya hingga kini belum membidik aplikasi online layaknya apalikasi ojol. “Modelnya group WA namun terbuka untuk warga yang berdomisili di 5 desa seperti Kutai Lama, Anggana, Sungai Meriam, Sidomulyo, dan Handil Terusan. Yang membedakan orang bisa keluar masuk obrolan, karena kehadiran mereka terkadang hanya untuk memertanyakan ketersediaan kebutuhan yang mereka inginkan, seperti sembako maupun makanan siap saji,” tuturnya.
“Selain Sembako, makanan siap saji, Tukang Cukur dan jasa Pengetikan online pun kini sudah tersedia di Pasar Online Anggana, meskipun kini sudah menjadi barang konsumtif oleh warga namun hingga kini kami belum memeikirkan akan membut aplikasi khusus layaknyua aplikasi Ojol, ” tambahnya. (*)