KALTIMNEWS.CO – Komisi III DPRD Kota Samarinda meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tidak hanya berfokus pada pengoperasian insinerator, tetapi juga segera membangun sistem pendukung yang mampu menunjang kinerja fasilitas pengolah sampah tersebut. Salah satu yang menjadi sorotan adalah belum tersedianya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang memadai serta masih minimnya penggunaan alat pemilah sampah modern.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, menilai keberhasilan insinerator dalam mengurangi volume sampah tidak hanya bergantung pada teknologi pembakaran, melainkan juga pada kesiapan seluruh rantai pengelolaan sampah sebelum masuk ke mesin.
Menurutnya, hasil evaluasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan agar target pengurangan sampah dapat tercapai secara optimal.
"Insinerator tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada subsistem yang mendukung agar proses pengolahan sampah berjalan efektif," ujar Deni.
TPST Dinilai Menjadi Kebutuhan Mendesak
Deni menjelaskan, keberadaan TPST memiliki peran penting sebagai pusat pengolahan awal sebelum sampah masuk ke insinerator.
Melalui fasilitas tersebut, sampah dapat dipilah berdasarkan karakteristiknya sehingga proses pembakaran menjadi lebih cepat, aman, dan efisien.
Namun hingga saat ini, menurutnya, sistem tersebut belum berjalan optimal sehingga seluruh proses masih bergantung pada mekanisme manual.
Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan sampah sebelum dibakar menjadi jauh lebih lama dibanding kapasitas kerja mesin itu sendiri.
"Kalau seluruh proses awal belum dibenahi, maka kemampuan insinerator juga tidak akan maksimal," katanya.
Pemilahan Sampah Masih Jadi Titik Lemah
Komisi III DPRD juga menemukan bahwa proses pemilahan sampah masih dilakukan secara manual.
Padahal, pemilahan merupakan tahapan penting sebelum sampah dimasukkan ke dalam ruang pembakaran.
Menurut Deni, kondisi tersebut membuat pekerjaan menjadi tidak efisien. Bahkan satu truk sampah berkapasitas sekitar tiga hingga empat ton bisa membutuhkan waktu hingga lima hari hanya untuk proses pemilahan.
Lamanya proses tersebut secara langsung memengaruhi kapasitas pengolahan harian insinerator.
Ia menilai penggunaan alat pemilah sampah modern akan mampu memangkas waktu kerja sekaligus meningkatkan produktivitas pengolahan sampah.
"Kalau pemilahannya sudah menggunakan peralatan yang lebih modern, tentu prosesnya jauh lebih cepat dibanding dilakukan secara manual," jelasnya.
Sistem Pendukung Harus Dibangun Bersamaan
Deni menegaskan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah tidak boleh dilakukan secara parsial.
Menurutnya, keberadaan insinerator harus diikuti dengan penyediaan fasilitas lain yang saling terhubung agar membentuk sistem pengelolaan sampah yang utuh.
Mulai dari proses pengumpulan, pemilahan, pengangkutan hingga pembakaran harus berada dalam satu alur yang efisien.
Tanpa sistem tersebut, investasi pemerintah terhadap fasilitas pengolahan sampah dinilai belum akan memberikan hasil yang maksimal.
"Yang perlu dibangun bukan hanya alatnya, tetapi seluruh sistem yang mendukung operasionalnya," ujarnya.
DPRD Dorong Pengelolaan Sampah Lebih Modern
Komisi III DPRD berharap momentum evaluasi ini menjadi langkah awal pembenahan tata kelola sampah di Kota Samarinda.
Menurut Deni, kota dengan jumlah penduduk yang terus bertambah membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi agar mampu mengimbangi peningkatan volume sampah setiap hari.
Karena itu, DPRD mendorong Pemkot Samarinda menjadikan pembangunan TPST dan pengadaan alat pemilah sampah sebagai bagian dari prioritas peningkatan layanan kebersihan kota.
Dengan dukungan teknologi yang lebih baik, proses pengolahan sampah diyakini dapat berlangsung lebih cepat sekaligus meningkatkan efektivitas operasional insinerator.
DPRD Siap Kawal Pembenahan
Komisi III DPRD Kota Samarinda memastikan akan terus mengawal upaya pembenahan sistem pengelolaan sampah bersama Pemerintah Kota dan Dinas Lingkungan Hidup.
Deni menegaskan, DPRD ingin memastikan setiap fasilitas yang telah dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam mengurangi volume sampah yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama Kota Tepian.
"Kami ingin alat ini benar-benar berfungsi optimal. Persoalan sampah di Samarinda membutuhkan solusi yang efektif. Karena itu seluruh subsistem pendukung harus segera dipenuhi agar target pengurangan sampah dapat tercapai," tegas Deni.
Ia berharap, dengan hadirnya TPST yang memadai dan alat pemilah sampah modern, operasional insinerator dapat berjalan lebih efisien sehingga mampu menjadi salah satu solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah di Kota Samarinda. (*/adv/rif/kaltimnews.co)