Skip to content

Melirik Kekuatan Ekonomi Tersembunyi Di Kutai Kartanegara

Kembangkan Budidaya Rumput Laut, Pengasilan Muara Badak Bisa Capai Milyaran Rupiah

Dipublikasikan: 06 Mar 2020, 11:26
Melirik Kekuatan Ekonomi Tersembunyi Di Kutai Kartanegara
Bupati Kukar Edi Damansyah Saat menghadiri panen Rumput laut di kecamatan Muara Badak -- www.kaltimnews.co / Foto: Istimewa

KALTIMNEWS.CO, Kukar – Meski berada di wilayah pesisir Kutai Kartanegara (Kukar), namun Kecamatan Muara badak tentunya tidak dipandang sebelah mata, Wilayah ini memang terkenal sebagai wilayah yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA). Sebut saja Tambang Minyak dan Gas (Migas) sebagian besarnya berada diwilayah ini. Namun selain Migas Wilayah ini diam-diam wilayah ini memiliki SDA lainnya seperti budidaya rumput laut yang patut diperhitungkan.

Dari informasi yang didapatkan media ini, sedikitnya diwilayah ini terdapat sekira 120 Hektar lahan budidaya rumput laut, yang tersebar ditiga wilayah desa, dan tidak memutup kemungkinan jika dikembangkan secara serius bukan akan menjadi benteng ekonomi di pesisir Kukar khususnya di Kecamatan Muara Badak. 

Subhan (41) misalnya, warga Muara Badak ini merupakan salah satu salah satu pemilik gudang sekaligus pengepul hasil panen rumput laut di Muara Badak, dirinya mengatakan, komoditi rumput laut yang kini dikelolanya tersebut merupakan prospek usaha yang menjanjikan bagi para warga kukar khususnya petani tambak diwilayah tersebut.

"Rumput laut ini adalah sangat potensial untuk dikelola, lantaran budidaya ini tidak seperti migas yang dapat habis, hal ini jika diseriusi tentunya akan bisa menujadi benteng ekonomi masyarakat,” ujar Subhan, yang dihubungi kaltimnews.co melalui telepon selulernya, Jumat (6/3/2020) malam.

Menurut Subhan, di Muara Badak sekarang ini, terdapat 200 orang yang kini membudidayakan rumput laut, yang masing-masing mengelola 3-4 hektar per-orangnnya. Kendati demikian dirinya mengaku kewalahan jika saat musim panen tiba, bahkan dirinya harus mendatangkan pekerja dari luar kalimantan untuk mengatasi hal tersebut.

"Saat pemanen sampai teknisi tambak itu kami harus mendatangkan dari luar, karena edukasi dari masyarakat lokal masih kurang, mereka belum sampai kepada pemahaman meningkatkan kualitasnya, contohnya saja umur rumput laut yang harusnya dipanen itu disekitar umur 40-45 hari, namun terkadang para penambak budidaya rumput laut ini memanennya tidak pada waktu yang optimal, yang tetunya berujung pada nilai kualitas harga yang diharapkan," ucapnya.

Terkait harga untuk komuditi ini, sebut subhan berada pada angka Rp3000 per kilogramnya (Kg). “Rp 3000 per Kg untuk rumput laut kering, dan rata-rata hasil panen setiap orang itu berada pada kisaran 1-2 Ton kering setiap panen,” jelas Subhan.

Dari hasil produksi setengah jadi itu, kata Subhan, rumput laut selanjutnya dikirim ke negara-negara di Asia seperti ke Jepang dan Cina. Namun itu tidak bisa langsung kata dia, lantaran pengiriman hasil panen rumput laut ini, masih dikirim ke packing house ke wilayah Sulawesi Selatan. Lantaran di daerah tersebut sudah memiliki pabrik yang bisa memproduksi rumput laut ini menjadi bahan setengah jadi.

Grafis-Rumput-laut-Muara -Badak-Kukar.

"Dalam satu bulan kami bisa mengirimkan rata-rata 200 ton kering rumput laut, bisa dibayangkan penghasil rumput laut dalam sekali kirim bisa menembus angka diatas setengah milyar," sebutnya.

Dengan kondisi seperti itu, Subhan mengaku jika potensi rumput laun ini dikembangkan lebih jauh kepada pembangunan pabrik tnentunya tidak menutup kemungkinan penghasilan wilayah ini akan meningkat tajam. "Alhamdulillah, jika tidak ada halangan tahun ini wilayah ini akan segera memiliki pabrik sebagi maan kami impikan selama ini. Kami optimis lantaran impina ini sudah mendapat lampu hijau dari sejumlah Kementrian RI, dan Kabupatrn Kukar sendiri,” kata Subhan.

Subhan mengaku jika selama ini, pihaknya kewalahan dalam melayani permintaan Stok pasara yang kian hari terus meningkat. “Permitaan pasar terus meningkat dan kami hanya mampu penuhi setengah dari permitaan pasar itu,” sebutnya.

Dikatakan Subhan, dengan kahadiran pabrik ini nantinya permintaan pasar tersebut dapat terlayani secara maksimal. "Kalau pabrik ini jalan secara optimal, wialyah ini bisa dipastikan dapat memproduksi bahan setengah jadi sebanyak ribuan ton perbulan," tandasnya.

Sejauh ini kata dia, usaha tambak rumput laut ini kini semakin dilirik warga daerah tersebut, tidak sedikit petani kata dia, di daerahnya mulai beralih ke bidang usaha ini. Hal itu dikarenakan budidaya rumput laut ini tidaklah sulit dan perlu menggelontorkan dana yang besar.

"Banyak petambak sudah mulai beralih ke rumput laut, mengingat budidaya rumput laut hanya perlu mengeluarkan modal awal, selanjutnya setelah rumput laut ditebar di tambak, maka dalam waktu 45 hari sudah ada hasilnya dan bisa terus dipanen. Jadi misalnya minggu ini mereka panen di petak ke empat, maka petak kelima sudah siap panen lagi, jadi tidak putus, setiap minggu mereka bisa ada penghasilan tetap, atau diatur bulanan juga bisa," jelasnya.(*)