Skip to content

Dari Emperan Pasar ke Radar Ketua KKSS Kaltim

Dipublikasikan: 24 Apr 2026, 15:23
Dari Emperan Pasar ke Radar Ketua KKSS Kaltim

KALTIMNEWS.CO — Tidak semua orang tiba di Kalimantan Timur dengan mimpi besar. Sebagian datang tanpa rencana. Kisah H. Muhammad Nasir bermula dari sebuah Pelabuhan tempat keputusan diambil cepat, dan hidup bisa berbelok tanpa aba-aba.

Di usia muda, Nasir sedang menapaki langkah awal untuk mengejar masa depan. Dengan tujuan Surabaya, ia berangkat membawa harapan. Namun langkahnya keliru. Kapal yang ia tumpangi justru membawanya ke Samarinda kota yang sama sekali asing baginya.

Ia tidak turun. Tidak juga kembali. Ia bertahan.

Dengan uang Rp75 ribu di saku, tanpa keluarga, tanpa alamat tujuan, ia menapakkan kaki di Kota Tepian. Samarinda, yang semula bukan rencana, perlahan menjadi titik awal.

Langkah pertamanya berhenti di Pasar Segiri. Ia mencari wajah yang dikenalnya. Yang ia temukan justru kenyataan.

Malam-malamnya dilalui di emperan pasar, beralaskan kardus bekas. Saat hujan turun, kardus itu dilipat sebagian menjadi alas, sebagian lagi menahan air.

Di tempat itu, ia tidak sedang menunggu Nasib ia sedang menahannya.

Ia mengangkat barang, membantu pedagang, melakukan apa saja agar hari esok tetap punya peluang. Lapar menjadi biasa. Lelah tak lagi terasa asing. Pulang bukan pilihan.

 

Usaha dan Kepercayaan

Perlahan, hidup membuka celah. Seorang pedagang keturunan Tionghoa memberinya pekerjaan di toko sembako. Bukan pekerjaan besar, tapi cukup untuk memberi arah. Di tempat itu, Nasir belajar satu hal yang tak tertulis: kepercayaan.

Ia bekerja tanpa banyak kata. Menjaga apa yang dipercayakan kepadanya. Hingga pada satu titik, kepercayaan itu berbalik menjadi peluang.

Ia diminta membuka usaha sendiri. Dengan angkutan kota, ia menyusuri Samarinda, mencari ruang untuk memulai. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kios kecil di Pasar Kedondong.

Di sanalah nama itu tumbuh: Nasir Kedondong. Sederhana, tapi cukup untuk menandai bahwa ia mulai berdiri di atas kakinya sendiri.

 

Satu Kontainer, Satu Pertaruhan

Di tengah usaha kecilnya, sebuah tawaran datang asing, nyaris sulit dipercaya.

Seorang pengusaha dari Surabaya menghubunginya. Menitipkan barang untuk dijual. Tanpa modal. Tanpa jaminan.

Ia sempat ragu. Namun keraguan itu runtuh.

Seminggu kemudian, satu kontainer bawang tiba atas namanya. Satu kontainer datang, tanpa jaminan apa pun kecuali nama yang ia jaga.

Dari sebuah wartel, kesepakatan dibuat. Barang dijual, keuntungan dibagi. Tanpa kontrak. Tanpa pengaman. Hanya satu fondasi: kepercayaan. Sejak itu, arah hidupnya berubah.

 

Dari Bertahan ke Menguatkan

Usahanya tumbuh. Jaringannya meluas. Nasir tidak lagi sekadar pedagang kecil. Ia menjadi bagian dari rantai distribusi yang diperhitungkan di Kalimantan Timur.

Namun masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, sebagai ingatan dan alasan.

Ia pernah berada di titik ketika tidak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri. Pernah menunggu hari esok dengan ketidakpastian.

Dari pengalaman itu, tumbuh satu keyakinan: hidup harus memberi arti bagi orang lain.

Nilai itu yang kini ingin ia bawa ke Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur. Bagi Nasir, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul. Ia harus menjadi ruang untuk saling menguatkan terutama bagi mereka yang memulai dari bawah.

 

Nama yang Mulai Diperhitungkan

Di tengah dinamika menuju kursi Ketua KKSS Kaltim, namanya mulai masuk radar.

Kini, di tengah bursa yang mulai menghangat, nama itu tidak lagi sekadar dikenang tetapi mulai diperhitungkan.

Ia tidak datang dengan banyak klaim. Tidak pula membangun narasi ambisi. Perjalanannya sendiri sudah cukup berbicara.

Dari kardus bekas di emperan pasar hingga ke lingkar organisasi, setiap langkahnya ditempa oleh keadaan.

Kini, ketika namanya mulai disebut, cerita itu kembali mengemuka. Dari tempat orang-orang bertahan, ia pernah memulai. Kini, namanya masuk radar, di ruang yang dulu bahkan tak terbayangkan(rif/kaltimnews.co)