Skip to content

Dari Jalan Pagi ke Gerakan Sosial, Cara H Nasir Besarkan KJS Samarinda

Dipublikasikan: 10 May 2026, 12:19
Dari Jalan Pagi ke Gerakan Sosial, Cara H Nasir Besarkan KJS Samarinda

KALTIMNEWS.CO – Di tengah padatnya aktivitas kota dan kehidupan masyarakat yang makin individual, sebuah komunitas di Samarinda justru tumbuh dari hal yang paling sederhana: berjalan kaki bersama setiap pagi.

Tidak ada panggung besar saat itu. Tidak ada konsep organisasi yang rumit. Hanya beberapa orang yang rutin berkumpul untuk jalan santai sambil berbincang ringan. Dari kebiasaan kecil itulah cikal bakal Komunitas Jalan Sehat (KJS) lahir.

Di antara orang-orang yang menjaga rutinitas itu tetap berjalan, ada sosok H Muhammad Nasir atau yang akrab disapa H Nasir. Ia bukan sekadar peserta, tetapi menjadi figur yang perlahan membangun arah komunitas tanpa banyak sorotan.

“Dulu hanya kumpul biasa untuk olahraga pagi. Tapi lama-kelamaan terasa kalau orang datang bukan cuma ingin sehat, mereka juga mencari kebersamaan,” ujar H Nasir.

Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama KJS. Tanpa promosi besar-besaran, jumlah peserta terus bertambah. Warga datang karena merasa diterima dan nyaman berada di dalam komunitas yang terbuka untuk siapa saja.

Momentum penting terjadi pada 2021. Setelah berjalan secara informal selama beberapa tahun, KJS mulai dibentuk lebih serius dengan struktur organisasi dan agenda kegiatan yang lebih tertata.

Sejak itu, perkembangan komunitas berjalan cepat. Tidak hanya aktif di Samarinda, jaringan KJS kini telah menjangkau sedikitnya 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Meski berkembang besar, H Nasir berusaha menjaga karakter awal komunitas tetap sederhana dan inklusif. Ia tidak ingin KJS berubah menjadi kelompok eksklusif yang menciptakan jarak dengan masyarakat.

Kini, anggota KJS Samarinda disebut telah mencapai lebih dari seribu orang. Pertumbuhan itu dinilai bukan hanya karena tren olahraga, tetapi karena adanya rasa kedekatan yang terus dijaga di dalam komunitas.

KJS juga mulai bergerak ke ranah sosial. Salah satu program yang rutin dijalankan adalah pembagian daging kurban bagi anggota dan masyarakat yang membutuhkan.

Bagi H Nasir, komunitas yang kuat tidak cukup hanya dibangun lewat aktivitas bersama, tetapi juga lewat kepedulian sosial.

“Kalau hanya olahraga mungkin orang datang sesaat. Tapi ketika ada rasa saling peduli, hubungan itu menjadi lebih kuat,” katanya.

Pendekatan tersebut membuat KJS berkembang bukan sekadar sebagai komunitas olahraga, tetapi juga ruang interaksi sosial lintas usia dan profesi. Di dalamnya, semua orang berjalan tanpa sekat.

Untuk menjaga solidaritas antaranggota, KJS rutin menggelar kegiatan kebersamaan seperti senam massal, perayaan ulang tahun komunitas, hingga pembagian hadiah sederhana bagi peserta.

Di tengah budaya perkotaan yang semakin sibuk dan individual, pola kepemimpinan H Nasir dianggap berbeda. Ia tidak tampil dengan gaya formal dan berjarak, melainkan hadir langsung di tengah anggota sebagai bagian dari komunitas itu sendiri.

Perjalanan KJS menunjukkan bahwa gerakan besar tidak selalu lahir dari konsep yang rumit. Kadang, ia tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dijaga secara konsisten hingga akhirnya menjadi ruang kebersamaan yang hidup di tengah masyarakat. (rif/kaltimnews.co)