KALTIMNEWS.CO, Kendati berada di ujung wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) nyatanya memiliki pesona alam yang luar biasa. Sejumlah sungai di Pehulu Mahakam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah pelancong, sebab sungai yang membentang panjang tersebut, memiliki sejumlah riam (Arum Jeram) yang terbilang cukup ganas.
Riam-riam yang ganas itu tersebar di tiga kecamatan, yaitu Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari. Yang terakhir ini merupakan kecamatan yang berada di garis perbatasan dengan Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Sarawak, Malaysia.
Sebut saja Riam Udang, riam yang berukuran 500 meter dengan panjang bentangan hingga 5 kilometer, riam udang sendiri merupakan riam ke dua, nama riam udang diberi warga setempat lantaran bentuk sungai yang beraus deras ditengah bebatuan berbentuk udang.
“Ada tiga riam yang terkenal di Mahulu, yaitu Riam Haloq, Riam Udang, Riam Panjang, ketiganya memiliki karasteristik yang berbeda, pada Riam Panjang terdapat 10 anak riam. Yakni Riam Benhong, Riam Keneheq, Riam Ban Palang, Riam Beliuq, Riam Lubang Kubang. Berikut, Riam Nap, Riam Nyalung, Riam Batu Lawung, Riam Hidah, dan Riam Huluk,” ujar Anastasya Hiyang kepada kaltimnews.co, beberapa waktu lalu.
Hiyang sapaan wanita yang berprofesi sebagai dosen ini mengatakan bahwa untuk menuju ke Long Apari (Kecamatan Ujung) Mahulu, diperlukan speedboat yang menggunakan dua mesin, hal ini dikarenakan banyaknya riam yang harus dilalui.
“Hanya speedboat dengan mesin bertenaga besar yang mampu menyusuri hulu sungai. Setiap speedboat minimal memiliki dua mesin yang masing-masing berkekuatan 200 PK atau lebih, selain itu speedboat tersebut juga harus dikemudikan oleh motoris yang andal dan berpengalaman jika tidak ingin karam diterjang jeram,” sebutnya.
Menurut pemerhati pendidikan, budaya dan lingkungan Mahulu ini , keberadaan jeram atau riam di Mahakam Ulu memiliki cerita tersendiri bagi masyarakat setempat.
Selain Riam Udang terdapat nama riam Haloq yang memiliki makna berupa sebuah pesan.
“Nama Riam Haloq ada sebab musabab, bukan sekedar diberi nama begitu saja. Lokasi Riam Haloq merupakan lokasi jeram yang besar, sebagai pengawal pembuka untuk jeram di kawasan hulu Sungai Mahakam. Riam Haloq merupakan riam yang pertama kali kita jumpai apabila mudik, dari Ujoh Bilang ke kawasan hulu,” ungkapnya.
Ketua Pemuda Khatolik Mahakam Ulu ini mengatakan bahwa tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat dayak Mahulu, sebelum melintasi Riam Haloq yakni melakukan ritual. Ritual yang dimaksud ialah pelintas riam mesti penuhi syarat jika ingin menaklukan riam-riam di hulu Sungai Mahakam. Pelintas riam mesti siapkan terlebih dahulu haloq yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia berupa sirih.
“Tradisi ini diyakini masyarakat dayak yang diturunkan oleh para leluhur, sebelum melintas para pengunjung diharuskan membuat syarat sebelum melintasi riam-riam di hulu sungai mahakam tersebut. Kebetulan riam yang awal dimulai di Haloq itu,” tuturnya.
Haloq sendiri merupakan sebuah istilah yang bermakna media doa kepada sang penguasa dan leluhur supaya segala hal aktivitas yang dilakukan berjalan sukses dan aman selamat bagi warga setempat.
“Harus buat Haloq, artinya buat sirih. Kalau bahasa Dayak Bahau disebut Sepak. Haloq ini semacam jadi media doa dengan harapan semua tujuannya supaya diberi kelancaranatas segala urusan termasuk diberi cuaca yang baik saat mau gelaran upacara adat di kampung,” tungkas Hiyang. (Bersambung)