Skip to content

Andi Saharuddin Mundur, Ada Apa di Muswil KKSS Kaltim?

Paguyuban dan Konflik Kepentingan

Dipublikasikan: 09 May 2026, 02:10
Andi Saharuddin Mundur, Ada Apa di Muswil KKSS Kaltim?

KALTIMNEWS.CO — Keputusan Andi Saharuddin mundur dari posisi Steering Committee (SC) Muswil Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kaltim langsung memantik tanda tanya besar di internal KKSS. Di tengah suhu politik organisasi yang mulai memanas, langkah itu dinilai bukan sekadar pengunduran diri biasa.

Di tengah kontestasi menuju Musyawarah Wilayah KKSS Kaltim, Andi justru memilih melepaskan posisi strategisnya sebagai Wakil Sekretaris SC sekaligus mundur dari kepanitiaan Muswil.

Padahal, dalam arena organisasi, posisi semacam itu sering dianggap penting. Bukan hanya karena berkaitan dengan teknis pelaksanaan forum, tetapi juga menyangkut pengaruh moral dalam membaca arah dinamika internal.

Namun Andi memilih jalan berbeda.

Ia mengaku tidak ingin muncul kesan bahwa SC ikut bermain dalam pertarungan politik organisasi yang akan berlangsung di Hotel Puri Senyiur pada 31 Mei mendatang.

“Saya ingin semua clear dan clean,” kata Andi.

Kalimat itu singkat. Tetapi di tengah suhu politik paguyuban yang mulai menghangat, pernyataan tersebut terasa memiliki makna lebih panjang daripada sekadar pengunduran diri administratif.

Sebab dalam tradisi organisasi paguyuban, jarang ada kandidat yang rela meninggalkan posisi strategis tepat menjelang pemilihan.

Ketika Netralitas Menjadi Isu Sensitif

Dalam banyak organisasi paguyuban, posisi panitia sering kali berada di wilayah abu-abu. Tidak sepenuhnya politik, tetapi juga tidak benar-benar steril dari kepentingan.

Apalagi jika seseorang yang berada dalam struktur kepanitiaan ikut masuk dalam bursa calon ketua.

Di titik itulah, netralitas menjadi isu sensitif.

Andi tampaknya membaca situasi itu lebih awal. Ia menyadari bahwa sekecil apa pun keputusan panitia bisa diterjemahkan secara politis oleh kubu yang sedang bertarung.

Karena itu, ia memilih keluar dari lingkaran tersebut sebelum polemik berkembang lebih jauh.

“Langkah ini saya ambil supaya tidak ada anggapan SC ikut cawe-cawe dalam arena Muswil,” ujarnya.

Pilihan diksi “cawe-cawe” menarik dicermati. Istilah itu belakangan identik dengan campur tangan kekuasaan dalam proses politik. Ketika digunakan dalam konteks organisasi paguyuban, maknanya menjadi lebih dalam: ada kekhawatiran bahwa ruang kekeluargaan mulai terseret terlalu jauh ke dalam praktik perebutan pengaruh.

Muswil dan Bayang-Bayang Konflik

Bagi Andi, persoalan terbesar bukan semata soal jabatan ketua, melainkan bagaimana menjaga ruh paguyuban tetap hidup.

Ia menilai KKSS sejak awal dibangun di atas semangat guyub, kekeluargaan, dan solidaritas antarsesama warga Sulawesi Selatan di perantauan.

Karena itu, ia mengingatkan agar kontestasi tidak berubah menjadi pertarungan yang meninggalkan luka sosial di internal organisasi.

“KKSS ini organisasi paguyuban. Harusnya kita kembalikan makna guyub itu. Jangan nanti hanya disebut paguyuban, tapi di dalamnya malah gontok-gontokan,” katanya.

Pernyataan tersebut terdengar sederhana. Tetapi di banyak organisasi berbasis kekerabatan, justru konflik kecil sering berkembang menjadi persoalan panjang karena melibatkan kedekatan emosional.

Muswil akhirnya bukan lagi sekadar memilih ketua, melainkan juga menguji kemampuan organisasi menjaga kohesi internal.

Muswil IX KKSS Kaltim kali ini memang dipandang berbeda.

Selain berlangsung di tengah perubahan besar akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara, forum tersebut juga menjadi ruang perebutan arah organisasi ke depan.

KKSS bukan hanya organisasi sosial biasa. Dalam konteks Kalimantan Timur, ia memiliki jejaring sosial, ekonomi, dan politik yang cukup kuat.

Karena itu, dinamika pemilihan ketua sering kali ikut dibaca sebagai pertarungan pengaruh antarfigur.

Di tengah situasi tersebut, langkah Andi Saharuddin justru memunculkan tafsir baru.

Sebagian melihatnya sebagai sikap etis untuk menjaga legitimasi Muswil. Sebagian lain membaca itu sebagai sinyal bahwa tensi internal sebenarnya jauh lebih panas daripada yang tampak di permukaan.

Namun apa pun tafsirnya, pengunduran diri itu telah mengubah arah pembicaraan publik.

Bukan lagi sekadar soal siapa yang akan menjadi Ketua KKSS Kaltim berikutnya, melainkan tentang satu pertanyaan yang lebih mendasar: masihkah organisasi paguyuban mampu menjaga budaya guyub ketika kepentingan mulai saling berhadapan?

Di tengah riuh dukungan dan manuver menjelang Muswil, keputusan Andi Saharuddin kini bukan lagi sekadar soal mundur dari jabatan panitia. Ia telah berubah menjadi simbol tentang satu hal yang paling sensitif dalam organisasi paguyuban: kepercayaan. (rif/kaltimnews.co)