KALTIMNEWS.CO — Jelang Musyawarah Wilayah (Muswil) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur pada 31 Mei di Hotel Puri Senyiur Samarinda, dinamika yang berkembang tidak lagi bisa dibaca sebagai agenda rutin lima tahunan. Ada sesuatu yang sedang bergerak, perlahan tapi pasti.
Di permukaan, semuanya tampak tenang. Tidak ada deklarasi terbuka, tidak ada manuver yang dipertontonkan. Namun justru di situlah letak sesungguhnya pertarungan, senyap, tertutup, dan berlangsung di ruang-ruang yang tidak selalu terlihat publik.
Empat nama kini berada dalam pusaran kontestasi: Irwan Fecho, H Muhammad Nasir, Andi Saharuddin, dan Sinar Alam.
Bagi redaksi, kemunculan mereka secara bersamaan bukan kebetulan. Ini adalah penanda paling jelas bahwa KKSS Kaltim sedang memasuki fase baru, fase ketika regenerasi tidak lagi ditunda.
Yang menarik, keempatnya datang dari spektrum generasi yang relatif sama. Ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan potensi perubahan cara berpikir. Gaya kepemimpinan lama yang bertumpu pada patronase dan jejaring tradisional kini berhadapan dengan pendekatan baru yang lebih cair, lebih adaptif, dan dalam beberapa hal lebih kompetitif.
Namun perubahan tidak pernah datang tanpa gesekan.
Sejumlah pertemuan internal disebut terjadi di berbagai titik, dari Samarinda hingga Balikpapan. Pertemuan itu tidak selalu berlabel resmi. Namun dari sanalah arah dukungan perlahan terbentuk, tidak selalu terlihat, tetapi nyata terasa.
Dalam pembacaan redaksi, ini bukan sekadar konsolidasi biasa. Ini adalah upaya masing-masing kubu untuk mengamankan posisi dalam kontestasi yang belum memiliki peta pasti.
Irwan Fecho, dengan jejaring luas dan pengalaman organisasi tingkat nasional, membawa keunggulan pada sisi konektivitas. Muhammad Nasir tampil dengan pendekatan komunitas yang langsung menyentuh basis. Andi Saharuddin menawarkan narasi perubahan struktural yang lebih sistematis. Sementara Sinar Alam, dengan langkah yang lebih tenang, justru menunjukkan pola konsolidasi yang tidak banyak terbaca, namun berpotensi signifikan.
Tidak ada yang benar-benar dominan. Dan justru di situlah kontestasi menjadi terbuka.
Dengan kata lain, pertarungan ini tidak lagi semata soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu membaca arah zaman. KKSS Kaltim hari ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia berada di tengah perubahan besar, baik secara sosial, ekonomi, maupun generasi.
Pertanyaannya menjadi sederhana, namun menentukan. Apakah organisasi ini akan beradaptasi, atau justru tertinggal?
Hingga saat ini, dukungan masih bergerak. Tidak ada kandidat yang benar-benar mengunci. Komunikasi terus berlangsung, dan sebagaimana lazimnya organisasi paguyuban, keputusan sering kali lahir di momentum terakhir, di titik ketika kompromi dan konsensus bertemu.
Seluruh dinamika itu pada akhirnya akan mengerucut pada hari pendaftaran yang ditetapkan oleh panitia pemilihan. Pada fase inilah peta kekuatan akan terlihat lebih nyata.
Dalam konteks tersebut, empat figur yang kini mencuat disebut tengah berupaya mengamankan syarat dukungan minimal, yakni 30 persen dari total 10 BPD kabupaten/kota sebagai tiket untuk maju sebagai kandidat ketua.
Namun justru di titik itulah risiko terbesar juga muncul. Keputusan yang terlalu kompromistis kerap kali menghasilkan kepemimpinan yang aman, tetapi tidak selalu membawa perubahan.
Karena itu, Muswil kali ini, tidak bisa lagi dibaca sebagai pemilihan ketua semata. Ini adalah momentum penentuan arah, apakah KKSS Kaltim akan tetap berjalan dengan pola lama, atau berani melangkah ke fase baru yang lebih terbuka dan relevan.
Pada akhirnya, publik KKSS tidak hanya menunggu siapa yang menang. Mereka menunggu satu hal yang lebih penting, arah yang akan dibawa setelah kemenangan itu.
Karena dalam setiap pertarungan senyap, yang paling menentukan bukan siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling siap memimpin perubahan. (redaksi/kaltimnews,co)