KALTIMNEWS.CO, Samarinda – Semrawutnya kendaraan berat (dump truck) yang bebas hilir mudik di wilayah jalan Poros Jembatan Mahulu Loa Janan mendapat sorotan keras dari Angkasa Jaya Djoerani yang nota bene merupakan anggota DPRD Kota Samarinda dari partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Legislator Basuki Rahmat tersebut menyoal penegakan aturan pembatasan jam operasional kendaraan berat tersebut perlu dan wajib biberlakukan mengingat di wilayah tersebut merupakan daerah rawan kecelakaan.
“Perlu adanya penerbitan mengenai jalur lalu lintas kendaraan berat, ketertiban jalur lalu lintas mestinya sudah diterapkan, karena sebagian jalan perumahan atau permukiman bahkan jalur umum kota digunakan pengendara alat berat (dump truk). Sebenarnya ini mengganggu stabilitas jalur masyarakat,” ungkap Angkasa Jaya Djoeranikepada Kaltimnews.co, Jumat (11/10/2019) Siang.
Dirinya berharap, Pemkot maupun Pemrov Kaltim saling bekerjasama dan saling berkoordinasi, terkait hal tersebut. pasalanya kata dia tidak sedikit warga di Dapilnya itu sudah menjadi korban kecelakaan akibat hilir mudiknya dump truk yang melintasi jalur kabupaten melalui jalan mahulu.
“Sering terjadi kecelakan dan kemarin ada beberapa warga saya yang mengalami kecelakaan, disebabkan hilir mudiknya dump truk yang melintasi jalur kabupaten melalui jalan Mahulu,” bebernya.
Menurut Angkasa Jaya, kendaraan-kendaraan besar tersebut seharusnya melewati jalur umum pada jam tertentu, sehingga tidak mengganggu pengendara yang lainnya yang terkadang menyebabkan kecelakan. Dirinya bahkan mencontohkan kota Surabaya yang telah sukses melakukan penerbitan peraturan tersebut.
“Di Surabaya, Truk hanya diperbolehkan lewat pada jam yang telah ditentukan dan memiliki jalur khusus untuk transportasi jalur lintas provinsi/kota,” sebutnya.
Wakil rakyat periode 2019-2024 tersebut juga menyayangkan truk yang melewati sekitaran jalur Mahulu pada saat jam pulang kerja sehingga menambah kemacetan.
“Coba kita lihat saja, wilayah Sungai Kunjang, dan Sekitaran Jembatan mahulu. Kalau menjelang magrib, dimana orang pulang kerja, sekolah, dari pasar. Kemudian truk juga lewat, otomatis terjadi kematetan panjang, ini yang harus ditertibkan, seperti kalau tengah malam, itu tidak masalah,” tutupnya. (*)