Skip to content

Demo Memanas di Kantor Gubernur Kaltim, Polisi Lantunkan Shalawat, Massa Mendadak Tenang

Dipublikasikan: 06 May 2026, 13:57
Demo Memanas di Kantor Gubernur Kaltim, Polisi Lantunkan Shalawat, Massa Mendadak Tenang

KALTIMNEWS.CO - Kerumunan massa yang memadati kawasan Kantor Gubernur Kalimantan Timur di Samarinda siang itu datang dengan satu tujuan: menyampaikan tuntutan. Orasi bergantian dilontarkan, sebagian bernada keras, menyoroti apa yang mereka anggap sebagai ketimpangan dalam kebijakan pemerintah provinsi.

Di tengah dinamika itu, potensi ketegangan bukan hal yang tak terduga. Aparat keamanan bersiaga, menjaga jarak sekaligus mengamati pergerakan massa. Demonstrasi, seperti yang kerap terjadi, menyimpan kemungkinan eskalasi.

Namun yang terjadi kemudian justru di luar pola umum pengamanan aksi.

Kasat Binmas Polresta Samarinda, AKP Danovan, mengambil langkah yang tidak konfrontatif. Ia melantunkan shalawat Nabi, bukan sebagai simbol formalitas, melainkan sebagai upaya menghadirkan suasana yang lebih tenang di tengah kerumunan.

Suara shalawat itu perlahan menyebar, mengisi ruang yang sebelumnya dipenuhi teriakan tuntutan. Beberapa demonstran mulai diam. Sebagian lainnya mengikuti lantunan tersebut. Dalam momen singkat, ritme aksi berubah.

Shalawat, dalam konteks ini, bekerja bukan sekadar sebagai ekspresi religius, tetapi juga sebagai medium sosial yang menurunkan tensi tanpa instruksi langsung, tanpa pengerahan kekuatan.

Respons publik di lokasi cenderung positif. Warga yang menyaksikan menilai pendekatan itu sebagai bentuk kebijaksanaan aparat dalam membaca situasi.

“Kami mengapresiasi langkah itu. Shalawat menjadi penyejuk di tengah kondisi yang berpotensi memanas,” kata seorang warga di sekitar lokasi.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pengelolaan demonstrasi tidak selalu harus bertumpu pada kontrol fisik. Ada ruang bagi strategi kultural dan emosional yang, dalam kasus ini, terbukti efektif.

Meski demikian, tuntutan massa terhadap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tetap menjadi isu utama yang belum selesai. Demonstrasi itu bukan berhenti karena shalawat, melainkan menemukan jeda yang meredakan intensitasnya.

Hingga aksi berakhir, situasi tetap terkendali. Tidak ada benturan berarti antara massa dan aparat.

Peristiwa ini menandai satu kemungkinan lain dalam praktik pengamanan aksi: bahwa di antara barikade dan pengeras suara, ada pendekatan yang lebih sunyi, namun bekerja. (rif/kaltimnews.co)